Ilustrasi perempuan (Photo by Marcelo Chagas from Pexels)

“Tolong lihatin celanaku, dong, dari belakang. Aku tembus nggak?”

Sebanyak 70% perempuan mengaku terbiasa menggunakan kalimat itu pada masa-masa menstruasi, seperti ditulis oleh The Independent. Disebutkan pula bahwa ada 73% perempuan menyembunyikan pembalut dalam perjalanannya ke kamar mandi, sedangkan sisanya memilih untuk membatalkan rencana pergi – termasuk berenang dan berolahraga – agar nggak perlu bilang bahwa dirinya sedang menstruasi.

Saya berpikir cukup panjang untuk menulis ini. Sebagai perempuan, saya mengalami sendiri perasaan malu saat menstruasi, meski dengan alasan yang nggak saya pahami betul. Semasa SMP, seorang teman mendapatkan menstruasi di kelas dan meminta ‘roti Jepang’ pada saya. Bahkan, hingga hari ini, saya bertanya-tanya, “Apakah roti-roti di Jepang bentuknya panjang, ada sayapnya, dan ditempelkan ke celana dalam?”

Sebuah survei yang diadakan oleh Plan International UK sedikit banyak menjelaskan keadaan ini. Satu dari 5 perempuan pernah merasa dipermalukan saat menstruasi gara-gara komentar jahil teman lelaki. Saya ingat betul, di bangku sekolah, seorang teman perempuan sedang menstruasi dan mendapat komentar “wah, ngalir deres, nih!” saat ia berdiri dari kursinya untuk mengerjakan soal matematika di papan tulis – tentu diikuti gelak tawa laki-laki lainnya.

Baca juga: Kamu Bercandanya Seksis dan Itu Nggak Ada Lucu-lucunya

Hal itu sejalan dengan survei lain yang menunjukkan bahwa separuh laki-laki merasa bahwa karyawan perempuan yang openly mention periods in the office bisa dianggap melakukan hal yang kurang pantas. Sedangkan 44% di antaranya mengaku sering membuat lelucon terkait mood kekasihnya sendiri saat sedang menstruasi.

Ah, jangankan 44% laki-laki tadi, saya sendiri pernah mendapatkan ‘pemakluman’ tersebut, kok. Kami tengah berlatih drama untuk keperluan tugas sekolah dan saya berperan sebagai sutradara. Hari itu agak panjang dan melelahkan, sampai-sampai beberapa kali saya menegur teman yang terlalu banyak bercanda. Tahu apa reaksinya?

“Kamu kenapa, sih? Ooooh, pasti lagi mens, ya?”

Embarrassment terhadap menstruasi ini nyatanya dialami beberapa perempuan. Nggak sedikit dari mereka mengaku merasa malu, bahkan untuk membeli pembalut – apalagi kalau kasirnya cowok. Jadi, bukan cuma laki-laki aja yang merasa malu membeli pembalut, beberapa perempuan juga.

Baca juga: Bacaan untuk Laki-laki yang Beli Pembalut

Entah apa salahnya perempuan yang menstruasi? Selain mudah dipermalukan, ia juga dilekatkan dengan banyak mitos. Semisal, kamu tidak boleh keramas saat menstruasi. Kamu harusnya minum soda agar menstruasimu lancar. Kalau mencuci pembalut, kamu harus melakukannya sampai bersih – kalau nggak, bakal dijilat setan.

Lah, apa si setan-setan ini nggak sebaiknya patroli ke tempat-tempat lain aja ketimbang ngurusin selangkangan orang? Dih, kayak negara aja!

Di beberapa kalangan masyarakat India, perempuan yang sedang menstruasi dilarang masuk dapur atau memasak makanan karena rasa makanan tadi dipercaya bakal jadi buruk. Di Madagaskar, perempuan yang menstruasi tidak boleh berjalan di ladang labu karena dianggap bisa mengakibatkan tanaman membusuk, dan tidak boleh mandi karena airnya diyakini bakal masuk ke tubuh sehingga menimbulkan pendarahan yang lebih banyak.

Wow. Nggak masak dan nggak mandi? Itu menstruasi atau lagi liburan?

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Sebuah perusahaan alat kesehatan perempuan di Amerika Serikat bernama Thinx menyebutkan, stigma itu muncul dari cap yang diemban para perempuan. Mereka telah dihujani label betapa badan mereka seharusnya bersih dan rapi. Kalau sebaliknya, jelas mereka dilarang mendiskusikannya secara terbuka dan jujur.

Dari alasan dan kebiasaan di atas, menyembunyikan menstruasi menjadi hal yang terasa lebih aman dilakukan bagi sebagian orang. Bukan berarti saya berharap kamu bakal jalan-jalan keliling kota sambil menunjukkan aliran darah menstruasimu, sih, tapi fakta bahwa sebagian besar dari kita menganggap menstruasi sebagai hal tabu adalah nyata. Ironisnya, saking ‘memalukannya’ menstruasi, pendidikan sejak dini pun terkadang sampai lupa kita berikan untuk anak-anak perempuan.

Seperti dikutip dari Magdalene, hanya ada 21,9% anak perempuan yang mengganti pembalut setiap 3-4 jam sekali. Di sebuah SD bahkan ditemukan fakta bahwa 62,5% anak perempuan memutuskan untuk tidak mengganti pembalut di sekolah karena merasa risih.

Yah, jangankan ganti pembalut, untuk menyebut pembalut sebagai ‘pembalut’ aja udah bikin malu. Inget, kan, sama ‘roti Jepang’?

Artikel populer: Pendidikan Seks Memang Harus ‘Cabul’

Perasaan malu saat menstruasi memang nggak selamanya disebabkan oleh komentar jahil dari orang lain. Beberapa perempuan yakin ini adalah hal yang tak semestinya didiskusikan. Padahal, untuk berhenti menyebut ‘roti Jepang’, yang harus kita lakukan pertama kali adalah menerima dan memperlakukan menstruasi seperti hal yang paling normal dalam hidup kita.

Pergilah ke kamar mandi untuk ganti pembalut. Datanglah ke kasir minimarket dengan percaya diri saat akan membayar sebungkus pembalut bersayap sepanjang 30 cm itu, bahkan jika kasirnya laki-laki. Bertanyalah “apakah kamu punya pembalut?” saat akan meminta bantuan teman perempuan ketika mendadak menstruasi, alih-alih berbisik padanya dengan suara super kecil dan bertanya soal persediaan ‘roti’.

Ingat, menstruasi adalah hal yang wajar. Tidak ada – sama sekali tidak ada – yang memalukan dari menjadi manusia normal dengan siklus bulanan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini