Kenali Tiga Akar Feodalisme di Tempat Kerjamu

Kenali Tiga Akar Feodalisme di Tempat Kerjamu

Ilustrasi (Image by Alexas_Fotos from Pixabay)

Budaya kerja memang berbeda-beda. Bukan rahasia kalau sebagian tempat kerja memiliki kultur yang baik dan ramah ke atas, namun arogan dan suka marah berlebihan ke bawah. Juga bukan rahasia jika banyak orang yang lebih suka bermanis ria dengan pekerja asing. Mereka biasanya menurut saja, tak berani protes, apalagi marah-marah dengan para mister dan miss ini.

Dulu, ketika membantu mendirikan usaha sosial di Kamboja dan bermitra dengan lembaga yang sering menyebut diri mereka sebagai pegawai sipil internasional, saya mendapatkan perlakuan yang sama. Para pegawai sipil internasional itu sering tak menghiraukan saya.

Namun, mereka sangat menghormati dan selalu bertanya-tanya mengenai pendapat salah satu relawan: seorang pria berkebangsaan Jerman yang baru dua minggu menjadi relawan di lembaga mitra kami. Padahal, sudah tentu saya yang lebih paham mengenai usaha ini.

Kedua contoh di atas hanya gambaran kecil dari tiga akar feodalisme dalam kehidupan sehari-hari: rasisme (termasuk juga rasisme balikan), seksisme, dan diskriminasi usia (ageisme).

Baca juga: Halo Bos, Ini Alasan Mengapa Usia Pelamar Kerja Tak Perlu Lagi Dibatasi

Orang-orang feodal di negara-negara bekas jajahan sering kali lebih menghormati orang kulit putih, karena dianggap lebih berduit, lebih pintar, lebih cantik, lebih segala-galanya. Akibatnya, orang kulit berwarna sering dianggap tidak sama cakapnya dengan kulit putih. Hal ini disebut rasisme balikan (reverse racism).

Dalam contoh tadi, rasisme balikan ditunjukkan oleh sikap-sikap yang menganggap bahwa si relawan lebih cakap. Atau, sikap-sikap yang tidak berani menegur pria kulit putih, tetapi marah-marah berlebihan kepada sesama orang Indonesia. Kita juga sering menyebut ini sebagai mental inlander.

Istilah inlander menurut KBBI digunakan oleh orang-orang Belanda semasa penjajahan untuk mengejek penduduk asli di wilayah yang kini menjadi Indonesia. Pada waktu itu, Belanda menempatkan Indonesia dalam kasta status sosial terendah. Orang-orang yang bermental inlander ini dianggap memiliki kesediaan untuk dijajah oleh Belanda, meski mereka ditempatkan dalam status sosial rendah.

Dengan demikian, mental inlander dapat diartikan sebagai inferioritas di hadapan orang kulit putih. Orang dengan mental inlander adalah mereka yang merasa setiap ‘pribumi’ tetaplah akan inferior ketika diadu dengan orang asing.

Sebab itu, mereka tak jarang memperlakukan sesama orang Indonesia dengan buruk sambil menjilat orang kulit putih, karena dengan demikian mereka mendapatkan keuntungan tertentu.

Baca juga: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Dengan kata lain, mereka mendukung penindasan oleh kulit putih terhadap sesama orang Indonesia demi keuntungan pribadi. Gloria Anzaldua mengistilahkan hal ini sebagai cross racial hostility.

Persoalan kedua kelakuan feodal yang tak kalah sengit dari rasisme adalah seksisme.

Ada beberapa prasangka dan stereotip yang sering ditujukan kepada perempuan Indonesia pada umumnya. Perempuan sering diharapkan menjadi pribadi yang jinak: penurut, tidak terlalu ambisius, tidak lebih cemerlang dari laki-laki, dan jago dalam hal-hal domestik.

Jadi, mungkin sulit bagi sebagian orang untuk melihat perempuan sebagai individu yang cakap, serta memiliki otoritas yang setara atau bahkan lebih, jika dibandingkan dengan rekan kulit putihnya.

Jangan salah paham, tentu saja tidak ada yang salah, jika kita cemerlang dalam hal-hal domestik. Menjadi domestik bukanlah masalah. Saya kira masalahnya adalah stereotip dan ketika manusia – laki-laki maupun perempuan – dianggap hanya satu dimensi.

Selain itu, dalam kehidupan profesional, perempuan juga terikat oleh dualitas yang menyebalkan. Perempuan yang hangat, ramah, dan periang, dianggap tidak cukup serius untuk bisa bekerja profesional dan menjadi pemimpin. Sementara, perempuan yang bersikap tegas dan lugas sebagaimana rekan laki-lakinya sering dicap arogan, agresif, dan melulu tidak disukai.

Baca juga: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Hal ini belum ditambah lagi dengan kompetisi beracun antar-perempuan. Feodalisme sering kali berbanding lurus dengan patriarkisme. Sebab itu, perempuan yang besar di lingkungan feodal, tak jarang bermusuhan dengan sesama perempuan untuk menunjukkan siapa yang paling mumpuni, juga siapa yang paling spesial alias tidak seperti perempuan lain pada umumnya.

Dalam masyarakat yang patriarkis, sejak kecil lelaki diajarkan untuk menjadi ambisius dan berkompetisi dengan sehat dan terbuka. Sementara, perempuan diharapkan agar menjadi pribadi yang sederhana, rendah hati, dan tidak berkompetisi secara terbuka. Karena sikap-sikap kompetitif jarang dirayakan dengan positif di lingkungan perempuan, maka sikap kompetitif sering ditekan dan akhirnya tumbuh menjadi iri-dengki: keinginan rahasia agar perempuan lain gagal.

Setelah rasisme dan seksisme, terakhir adalah diskriminasi usia. Diskriminasi usia bisa terjadi dua arah: karena dianggap terlalu tua atau sebaliknya, terlalu muda. Kabar baiknya, diskriminasi terhadap pegawai dan calon pegawai yang dianggap terlalu tua sudah dihapus secara legal di banyak negara (belum di Indonesia), namun tidak untuk pekerja muda.

Pekerja dan calon pekerja muda sering dianggap tidak mumpuni dari sisi pengetahuan dan pengalaman, sehingga sering disepelekan dan dibayar terlalu rendah. Pekerja yang saat ini masuk dalam usia milenial juga sering dianggap pemalas, sulit diatur, dan hanya mau bersenang-senang tanpa bekerja keras.

Artikel populer: Kapan Anak-anak Borjuis dan Proletar Bisa Nongkrong Bareng, nih?

Usut punya usut, stereotipikal yang diberikan oleh kaum yang lebih tua kepada milenial ini ternyata terjadi lantaran para pekerja yang lebih tua merasa terancam dengan keberadaan pekerja muda.

Selain itu, anggapan tidak bertanggung jawab juga disematkan oleh generasi yang lebih tua kepada generasi muda, karena banyak milenial yang memutuskan untuk menunda perkawinan dan punya anak. Rupanya menunda kawin dianggap sama dengan menghindari tanggung jawab.

Nah, untuk menghindar dari kondisi tersebut, yang enak memang laki-laki, berkulit putih, dan sedikit berumur – jangan banyak-banyak karena kalau terlalu berumur juga didiskriminasi. Sementara untuk perempuan kulit berwarna yang tampak muda, mari kita terus berharap agar mentalitas feodal cepat hilang, sambil terus melawan.

Jadi, orang feodal macam apa yang ada di tempat kerjamu?

1 COMMENT

  1. Laki-laki feodal yang merasa nge-bully fisik rekan kerja perempuan itu wajar, tapi giliran ditegur malah defensif dan bilang dia cuma bercanda dan si perempuan harusnya jangan galak-galak amat. ‘Kan memuakkan dan gak profesional!

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.