Idealisme Adalah Kemewahan Terakhir Pemain Sepak Bola

Idealisme Adalah Kemewahan Terakhir Pemain Sepak Bola

Shaqiri dan Xhaka (foto: JOE)

Turnamen sepak bola selalu penuh drama. Begitu juga dengan Piala Dunia di Rusia tahun ini, meski orang-orang Rusia tampaknya kurang suka drama. Sebab, drama hanyalah milik Korea dan tentunya… Indonesia.

Drama di Piala Dunia tahun ini bahkan muncul sejak dini, mulai kontroversi penerapan teknologi VAR (Video Assistant Referee) hingga pemecatan pelatih Spanyol, Julen Lopetegui, sehari sebelum kick-off Piala Dunia.

Di level permainan juga terjadi banyak kejutan. Sebut saja Rusia selaku tuan rumah. Semula, siapa sangka negara yang dulunya komunis itu bisa mulus masuk babak 16 besar berkat penampilannya yang fantastis? Atau, terseok-seoknya timnas unggulan di fase grup, semisal Messi FC, eh Argentina?

Meski demikian, drama sepak bola tak hanya berbicara tentang permainan atau persaingan. Sebab, sepak bola adalah sejuta makna, baik di lapangan maupun di luar lapangan.

Kita bisa saksikan bagaimana para suporter begitu militan mendukung timnya. Ada yang mengenakan kostum unik, menyanyi bersama, dan membaur dengan pendukung tim lain dalam nuansa kegembiraan.

Ada juga penonton yang rela menempuh perjalanan darat dari negara asalnya, seperti Meksiko, Kroasia, bahkan Arab Saudi, demi menyaksikan secara langsung timnya berlaga di Piala Dunia tahun ini.

Namun, yang paling sengit, tentu terjadi di lapangan hijau. Tak melulu hasil pertandingan, melainkan juga pesan-pesan yang disampaikan oleh para pemain melalui gestur atau selebrasi yang tak biasa.

Berikut ini beberapa pemain sepak bola yang gestur dan selebrasinya berhasil menyedot perhatian publik, karena pesan-pesan tak biasa yang mereka sampaikan. Yuk disimak…

1. Xhaka-Shaqiri dan Elang Albania

Dua orang pemain dari timnas Swiss, Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri, berhasil mencetak gol ke gawang Serbia, sehingga Swiss unggul 2-1 di Piala Dunia 2018.

Dalam pertandingan tersebut, Xhaka dan Shaqiri masing-masing mencetak satu gol dan merayakannya dengan menautkan dua ibu jari tangan menyerupai burung dan kepak sayapnya. Gestur ini diduga melambangkan simbol ‘Elang Albania’ yang ada di bendera negara Albania.

Perayaan gol tersebut mendapat kecaman dari federasi sepak bola Serbia, yang melihat itu sebagai kontroversi sekaligus provokasi politik. Komisi disiplin FIFA pun sedang menyelidiki kasus ini, sebab berkaitan dengan kode disiplin FIFA artikel 54 yang melarang pemain untuk memprovokasi publik.

Terlepas dari itu, apa yang dilakukan Xhaka dan Shaqiri tentu punya alasan tersendiri. Yang pasti, bukan untuk gaya-gayaan atau instagrammable banget.

Xhaka dan Shaqiri adalah keluarga imigran berdarah Kosovo-Albania. Kosovo dulunya merupakan bagian dari negara Serbia, tapi kemudian mendeklarasikan kemerdekaannya secara sepihak pada 2008.

Kala itu, kemerdekaan memang tak luput dari pengaruh lembaga politik etnis Albania yang merupakan mayoritas di Kosovo. Hingga sekarang, Serbia tidak mengakui kemerdekaan Kosovo.

Shaqiri yang lahir di Kosovo harus pindah ke Swiss bersama keluarganya tatkala masih berusia satu tahun. Kepindahan itu akibat perang yang terjadi di Kosovo.

Sementara itu, Xhaka, meskipun lahir di Swiss, tentu tak akan lupa penderitaan ayahnya dulu yang pernah dipenjara karena berpartisipasi mendukung kemerdekaan Kosovo.

Jika betul Xhaka dan Shaqiri menunjukkan ‘Elang Albania’, bisa jadi mereka tidak pernah lupa dengan kenangan pahit hidupnya. Ada semacam perlawanan yang belum tuntas. Dan, kini, mereka membalasnya. Dengan sepak bola, ya sepak bola.

2. Xavi-Puyol dan Nasionalisme Catalunya

Jauh sebelum Xhaka dan Shaqiri di Piala Dunia 2018, beberapa pemain sebetulnya sudah melakukan hal serupa. Misalnya, Xavi Hernandez dan Charles Puyol, dua pemain sepak bola asal Spanyol.

Pada Piala Dunia 2010 yang mengukuhkan Spanyol sebagai kampiun usai mengalahkan Belanda 1-0, Xavi dan Puyol berlari di lapangan sembari membawa bendera Catalunya, bukan bendera negara Spanyol.

Catalunya adalah sebuah daerah di semenanjung Iberia yang sangat kaya potensi lautnya. Daerah itu juga punya bahasa dan jejak peradaban serta kebudayaan yang khas. Sejak dulu, Catalunya selalu berjuang untuk merdeka dan melepaskan diri dari rezim Spanyol.

Dan, sepak bola pun menjadi salah satu alat perlawanan melalui FC Barcelona, klub sepak bola di Liga Spanyol yang menjadi seteru abadi Real Madrid yang dianggap merepresentasikan Kerajaan Spanyol.

Itu mengapa selebrasi Xavi dan Puyol dianggap sangat erat dengan perjuangan Catalunya. Toh, keduanya adalah pemain Barcelona dan ‘akamsi’ alias ‘anak kampung sini’ (baca: Catalunya).

3. Frederic Kanoute dan Dukungan terhadap Palestina

Pada 2009, ketika membela Sevilla, Frederic Kanoute sempat melakukan selebrasi dengan menunjukkan kaos dalamnya bertuliskan “Palestina”, usai mencetak gol ke gawang Deportivo La Coruna pada ajang Piala Raja Spanyol.

Perayaan itu merupakan dukungan sang pemain terhadap Palestina yang kala itu digempur pasukan Israel di Jalur Gaza. Di sisi lain, Kanoute yang kebetulan seorang pesepak bola muslim selalu bangga dengan identitasnya di tengah fenomena Islamofobia yang melanda Eropa.

Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, dia pernah mengatakan secara gamblang bahwa kaum muslim sebetulnya toleran dan Islam telah dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Di sini, Kanoute, secara langsung maupun tak langsung, memberikan ‘perlawanan’ atas persepsi buruk sebagian orang Eropa terhadap Islam.

4. Cristiano Lucarelli dan Kaos Che Guevara

Cristiano Lucarelli adalah bocah Livorno, kota tempat berdirinya Partai Komunis Italia. Kesengsaraannya ketika tinggal di proyek pemukiman rezim fasis Italia menumbuhkan api perlawanan.

Ketika membela timnas Italia U-21 dalam laga internasional versus Moldova pada 1997, Lucarelli mencetak gol dan selebrasinya adalah mencopot seragam timnas dan memamerkan kaos putih bergambar “Che Guevara”.

Kita tahu Che Guevara adalah seorang pejuang revolusioner Amerika Latin dan merupakan simbol perlawanan kelompok kiri. Tentu saja, selebrasi itu merupakan bentuk penghargaan Lucarelli terhadap daerah asalnya, Livorno, yang banyak dihuni oleh kelas pekerja dan hidup dalam kemelaratan.

Namun, semenjak itu, Lucarelli tak pernah lagi dipanggil ke timnas Italia hingga 2005.

5. Matthias Sindelar dan Olokan terhadap Nazi

Barangkali kisah Matthias Sindelar menjadi yang paling tragis dalam sejarah sepak bola sebagai bentuk penyaluran idealisme. Dia adalah pemain Austria yang menjadi saksi mata bagaimana negara tersebut diinvasi Nazi Jerman pada 1938.

Pada 3 April 1938, diselenggarakan pertandingan seremonial antara Jerman dan Austria. Bagi Austria, itu merupakan laga terakhir mereka sebagai sebuah negara merdeka.

Awalnya, para punggawa Austria bermain sekenanya dan membiarkan kesebelasan Jerman menguasai bola. Namun, dalam kurun waktu 20 menit terakhir, mereka bermain habis-habisan dan berhasil membungkam Jerman dengan skor 2-0.

Sindelar menjadi salah satu pencetak gol saat itu. Ketika melakukan selebrasi kemenangan, ia malah lari ke hadapan tribun para petinggi Nazi dan menyampaikan pesan bahwa mereka bisa saja menguasai Austria, tapi tidak untuk sepak bolanya.

Saat itu, Jerman tidak marah. Justru sebaliknya, Jerman berusaha merekrut Sindelar. Namun, dia menolak sebagai bentuk loyalitas sikap anti-fasis. Dia bahkan sempat diminta secara paksa oleh polisi rahasia Nazi guna bergabung ke dalam timnas Jerman. Lagi-lagi, dia menolak.

Dan, pada 23 Januari 1939, Matthias Sindelar ditemukan tewas di sebuah apartemen. Kematian tersebut masih menyisakan misteri dan kontroversi. Sindelar membawa mati idealismenya: anti-fasis.

Beberapa peristiwa di atas setidaknya menegaskan bahwa sepak bola memang bukan urusan seni memainkan si kulit bundar semata. Ada unsur perjuangan, perlawanan, dan solidaritas kemanusiaan.

Secara hukum atau aturan, mereka bisa saja bersalah, walaupun bermaksud menyampaikan kejujuran dalam hidup. Melalui selebrasi, mereka melawan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Tentu saja, ini jauh lebih baik dibandingkan Anda datang ke stadion, kemudian bentrok dengan suporter lain dan merusak fasilitas yang ada. Kalau yang begitu, sudah sangat akrab di telinga kita, bukan?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.