Menjawab Keluhan Orang Asing tentang Bahasa Indonesia

Menjawab Keluhan Orang Asing tentang Bahasa Indonesia

Ilustrasi (Victoria Al-Taie via Pixabay)

Seorang teman membagikan tulisan David Fettling yang dipublikasikan BBC. Argumen utama penulis dalam artikel tersebut adalah Bahasa Indonesia, alih-alih memudahkan komunikasi, justru menciptakan hambatan baru dalam berbahasa.

Masa iya?

Saya ingin menanggapi tulisan tersebut, tidak dalam Bahasa Inggris, melainkan dalam Bahasa Indonesia. Karena toh kita sedang membicarakan Bahasa Indonesia.

Saya adalah satu dari jutaan anak Indonesia yang tidak dibesarkan dengan bahasa daerah. Orang tua memiliki bahasa daerah yang berbeda. Selain itu, lantaran pekerjaan Papa, kami sekeluarga kerap berpindah tempat tinggal, mulai dari Jakarta, Papua, hingga Riau. Otomatis Bahasa Indonesia adalah bahasa utama di keluarga kami.

Dengan keadaan yang demikian, Bahasa Indonesia menjadi penyelamat. Saya masih ingat bagaimana kami menertawai Papa, yang orang Palembang, ketika beliau mencoba merayu Mama dengan Bahasa Sunda yang lucu dan patah-patah, karena Sunda adalah bahasa ibu-nya Mama.

Bayangkan, bagaimana kalau keluarga kami tidak memiliki bekal Bahasa Indonesia?

Kembali lagi ke tulisan David Fettling, tulisan tersebut dibuka dengan narasi: suatu ketika, dia tidak bisa memahami ucapan seorang pedagang makanan di Yogyakarta.

Jangankan David Fettling, saya yang orang Indonesia saja mengalami kesulitan pada tahun pertama berkuliah di Yogyakarta karena sebagian besar penduduknya, setidaknya pada masa itu, lebih banyak berbahasa Jawa.

Sebagai seseorang yang pernah tinggal di Yogyakarta hampir enam tahun, asumsi saya, pedagang tersebut memang tidak sekadar menggunakan Bahasa Indonesia sehari-hari, tetapi bisa jadi juga menggunakan campuran Bahasa Jawa atau mungkin berlogat Jawa. Ya masuk akal sih, kalau Mas David tidak paham.

Lalu, dia juga mengisahkan bagaimana Bahasa Indonesia memisahkan diri dari Melayu, tetapi tidak banyak berkembang. Paragraf tersebut mengesankan bahwa Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu adalah sama.

Padahal, Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu ala Malaysia berbeda. Apalagi, pola penyerapan kata asing dalam kedua bahasa juga sangat berbeda. Bahasa Melayu menyerap berdasarkan kata yang terdengar, sedangkan Bahasa Indonesia berdasarkan tulisan.

Kalau kedua bahasa tidak sama, apakah kemudian penutur Melayu dapat memahami Bahasa Indonesia?

Saya penutur Bahasa Indonesia yang juga mengerti Bahasa Melayu, karena keluarga pernah tinggal di Kepulauan Riau yang juga menggunakan Bahasa Melayu. Namun, ketika saya di Malaysia, orang Malaysia tidak bisa mengerti Bahasa Indonesia sebanyak saya memahami Bahasa Melayu.

Begitu juga dengan seorang teman yang memahami Bahasa Indonesia tetapi memiliki latar belakang Bahasa Jawa, dia tidak bisa memahami Bahasa Melayu dengan baik.

Selanjutnya, saya juga kurang setuju dengan kutipan Mas David yang mengatakan bahwa Bahasa Indonesia tidak sekaya bahasa lain, dalam hal ini Bahasa Inggris. Sebagai penerjemah, saya merasa Bahasa Indonesia cukup lentur dan supel dalam menyerap kata-kata.

Lagipula, wajar kalau setiap bahasa memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Misalnya, Bahasa Indonesia tidak bisa membedakan salju dengan spesifik, seperti halnya dalam Bahasa Inggris. Namun, Bahasa Inggris juga hanya memiliki rice untuk padi, gabah, beras, dan nasi.

Selain itu, Bahasa Inggris tentu juga memiliki keterbatasan. Coba beritahu saya satu kata dalam Bahasa Inggris yang setara dengan gemas atau jayus?

Membaca lagi tulisan Mas David, saya seperti sedang membaca blog berisi keluhan seorang asing yang merasa sudah mumpuni berbahasa Indonesia, tapi ternyata keok juga ketika harus menggunakannya di lapangan.

Hal ini mungkin terjadi karena dia lupa bahwa bahasa bukanlah benda mati yang penggunaannya akan selalu cocok dengan buku teks. Bahasa terus berkembang dan berubah, penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi akan sangat tergantung pada penggunanya.

Hal itu tidak hanya terjadi dalam Bahasa Indonesia saja, tetapi juga seluruh bahasa lain di dunia, termasuk Bahasa Inggris.

Misalnya, saya terbiasa berbahasa Inggris ala Amerika karena tipe inilah yang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia, juga karena film Hollywood adalah salah satu sumber berbahasa Inggris yang paling terjangkau.

Karena itu, ketika harus rapat dengan seorang yang berkebangsaan Skotlandia, saya bingung bukan kepalang, tak paham apa yang diucapkannya. Bukan hanya aksen, tetapi juga idiom, jargon, dan lelucon yang digunakannya tidak mudah dipahami.

Padahal, saya cukup percaya diri dengan kemampuan berbahasa Inggris. Sampai akhirnya, atasan saya berbisik, “Don’t worry if you have a hard time understanding him, I am a native English speaker, not a single word I understand,” ujarnya sambil mengerling. Jelas bahwa bahasa tidaklah stagnan dan tidak selalu sama.

Memang betul bahwa Bahasa Indonesia memiliki fungsi tulis dan fungsi cakap yang bisa jadi sangat berbeda. Hal ini sebetulnya sama saja dengan Bahasa Inggris. Teks formal Bahasa Inggris tentu tidak menggunakan kata ‘dang’, ‘doggo’, atau ‘homie’ sebagaimana bahasa sehari-hari dan bahasa internet.

Saya percaya, sebelum fungsi estetika dan sebelum keberadaan polisi gramatika, pertama-tama fungsi bahasa adalah pengantar berkomunikasi. Bahasa ada, karena kita perlu bertukar makna. Entah sempurna atau tidak, asalkan kita bisa memahami satu sama lain, maka tujuan komunikasi terpenuhi.

Lebih dari itu, Mas David juga mengeluhkan bagaimana orang Indonesia harus mengubah cara mereka berbicara ketika mengobrol dengannya. Dia menulis, jika hal tersebut tidak dilakukan, maka ia dapat dimengerti.

Bagi saya, hal ini terdengar seperti keterbatasan dalam berbahasa saja. Toh, banyak betul orang asing yang tiba-tiba harus berbicara sangat perlahan dan menggunakan bahasa yang sangat sederhana kepada saya, karena mereka berasumsi saya tidak dapat mengerti Bahasa Inggris yang lebih canggih dari itu.

Akhirnya, saya masih yakin Bahasa Indonesia telah membantu dalam banyak hal. Kalau tidak, mana bisa berkomunikasi dengan kawan-kawan dari daerah lain melalui tulisan ini?

Saya bangga kita punya satu bahasa, Bahasa Indonesia, tanpa meninggalkan logat dan kemampuan berbahasa daerah, juga sambil memperkaya bahasa asing.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.