article
Ilustrasi (Photo by it's me neosiam from Pexels)

Mungkin kita rada-rada asing ketika mendengar istilah internalized misogyny. Padahal, tanpa kita sadari, kita bisa saja mengidap ‘penyakit’ ini. Rasanya tidak berlebihan menyebut istilah itu sebagai ‘penyakit’. Sebab, secara langsung maupun tidak, itu dapat membawa dampak buruk bagi diri kita.

Lantas, apa sebenarnya internalized misogyny? Misogini yang terinternalisasi. Ya iyalah, google translate juga tahu. Singkatnya, ketika kebencian terhadap perempuan tanpa disadari menjadi bagian dari cara pandang seseorang. Biasanya, seorang perempuan mudah menjauhkan diri atau merendahkan perempuan lain, yang menurutnya tidak sama dengan standar yang ia yakini.

Yup, tak hanya laki-laki, misogini juga bisa diidap oleh perempuan. Karena ini cenderung tak disadari, maka internalized misogyny lebih kompleks dari seksisme yang terkesan terang-terangan.

Sebagai contoh, kita hidup dalam masyarakat yang suka mengatur dan menentukan keharusan diri pada perempuan dan laki-laki. Semisal, urusan make up. Katanya, perempuan harus mahir mengaplikasikan make up, karena ia dituntut menjadi cantik sesuai standar masyarakat. Perempuan yang gagal memenuhi ‘standar’ sering kali dicemooh, bahkan oleh perempuan sendiri.

Baca juga: Girls, Seberapa Menor atau Naturalnya Riasan di Wajahmu, Jangan Mau Diadu!

Di sisi lain, tak sedikit perempuan yang punya standar kecantikan dengan make up natural menganggap perempuan lain yang memakai make up tebal sebagai perempuan penggoda. Anggapan tersebut telah menginternalisasikan misogini, melekatkan perempuan dengan stereotip tertentu. Padahal, mau tipis, tebal, atau tidak pakai make up sekalipun, itu hak setiap perempuan.

Ada lagi yang tanpa sadar kita lakukan, ketika kita menganggap perempuan yang ‘menye-menye’ sebagai orang yang menyebalkan. Alhasil, saat kita menjumpai perempuan kemayu, tidak bisa menjalankan pekerjaan berat, fisiknya lemah, takut panas, takut kotor, suka warna pink, atau warna cerah lain, maka sekenanya kita menyebut dia sebagai perempuan ‘menye-menye’ atau manja. Padahal, itu terjadi hanya karena kita berbeda pandangan tentang gender.

Mencoba contoh yang lain, ingin rasanya membahas K-Popers. Banyak perempuan terutama yang menggilai artis Korea sampai terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Semisal, hafal lagu-lagunya hingga mengoleksi beragam aksesoris berbau artis Korea. Perempuan yang tidak sepaham dengan K-Popers ini akan begitu mudah melabeli mereka dengan sebutan perempuan alay.

Baca juga: Untuk ‘Moms’ yang Merasa Cemas dengan K-Pop

Kemudian, ada juga nih anggapan terhadap perempuan yang katanya harus tampak anggun, lemah lembut, dan murah senyum. Nah, ketika tanpa sengaja menjumpai perempuan yang duduknya ngangkang, suaranya keras, pakaiannya seperti laki-laki, tingkahnya terkesan cuek, apalagi merokok, maka kita akan begitu mudah menyebutnya sebagai perempuan nakal atau liar.

Sebenarnya masih banyak contoh lain dalam keseharian kita soal internalized misogyny. Ini tentu bahaya, karena diam-diam bisa melancarkan satu aksi dengan target dua; membenci perempuan, sekaligus membela kaum patriarkis.

Hal itu terjadi karena adanya bentukan keluarga dan konstruk masyarakat yang begitu kuat. Sebagai contoh, seorang perempuan yang dididik dalam keluarganya dengan anggapan bahwa perempuan harus kuat, tidak boleh cengeng, tidak boleh ‘menye-menye’, dan ketika perempuan tersebut bertemu dengan perempuan lain yang berbeda, maka akan mudah melanggengkan stereotip.

Baca juga: Yang Tidak Dipahami Banyak Orang Mengapa Perempuan Saling Bersaing

Persoalan-persoalan ini kelihatannya sepele. Tapi boleh dikata, efeknya luar biasa dalam diri kita, sebab terkait dengan perlakuan kita terhadap seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Miris, ketika sesama perempuan saling menjatuhkan, alih-alih saling menguatkan. Sementara, kaum patriarkis menyimak sambil melempar ungkapan, “Because they kill each other.”

Lalu, bagaimana caranya kita bisa terbebas dari internalized misogyny? Mulailah introspeksi, cek lagi ucapan maupun perbuatan kita selama ini. Jika kita mendeteksinya, ubah cara pandang bahwa konsep feminitas itu sama dengan konsep maskulinitas. Kita semestinya tidak memiliki standar khusus bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan bertingkah laku. Sampaikan itu ke orang-orang terdekat kita.

Artikel populer: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Laki-laki maupun perempuan dapat menjadi apapun yang mereka mau. Setiap manusia itu dilahirkan dengan kekhasannya masing-masing. Harusnya kita tidak dengan mudah mengatur, melabeli, menjatuhkan seseorang hanya karena kita berbeda dalam mengamini suatu konsep gender.

Dengan demikian, kita bisa meminimalisir pandangan misoginis yang sudah berkarat ini. Perlahan tapi pasti. Akhirnya, secara konsisten kita bisa lebih menghargai setiap pilihan orang lain. Kita juga menjadi pribadi yang saling menguatkan, bukan menjatuhkan. Nah, sekarang waktunya!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini