Kelakuan Orang-orang di Negara +62 terhadap Profesi Ibu Rumah Tangga

Kelakuan Orang-orang di Negara +62 terhadap Profesi Ibu Rumah Tangga

Ilustrasi (OpenClipart-Vectors via Pixabay)

“Ibu rumah tangga adalah profesi paling mulia…”

“Perempuan sekarang susah disuruh jadi ibu rumah tangga. Maunya pada kerja di luar rumah. Padahal lebih berpahala.”

“Perempuan jaman now kok, sombong-sombong, yah? Katanya pada milih kerja kantoran, mau punya gaji sendiri. Wah, kalo gaji mereka sampe lebih tinggi, bisa-bisa nggak butuh suami lagi.”

Pernah denger ucapan-ucapan kayak gitu nggak, gaes? Saya sih sering banget atau setidaknya mirip-mirip. Bahkan, nggak sedikit yang nadanya nyinyir, nyindir, hingga mengancam dan nakut-nakutin.

Hey, bro… Cara kalian tuh nggak banget. Satu sisi ingin istri menjalani profesi rumah tangga, tapi di sisi lain terkadang malah mengerdilkan perannya.

Tapi, sebelum kalian defensif seperti biasanya, mending dibaca dulu lima contoh betapa tidak konsistennya orang-orang di negara berkode +62 ini terhadap profesi ibu rumah tangga alias IRT.

1. Ngenalin istri dengan embel-embel cuma

“Istri saya cuma ibu rumah tangga.”

Cuma? Ouch.

Bayangin istrimu yang misalnya selama ini praktis mengurus rumah seorang diri. Kamu tinggal mandi, baju untuk ke kantor udah disiapin, sarapan dibikinin, rumah dirapihin. Pokoknya serba dilayani seperti keinginanmu itu.

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Lantas, bagaimana kalau istrimu mendadak sakit? Nggak bisa nyiapin ini-itu? Tentunya kamu harus bisa mengurus sendiri kan atau bahkan mengambil peran istri, meskipun kerjaan di kantor menumpuk?

Nah, lucunya, kamu sendiri juga nggak mau peranmu di wilayah domestik itu dikerdilkan. Misalnya dengan ucapan, “Halah, cuma sebentar ngerjain gitu aja udah ngeluh.”

Jadi, paham ya?

2. Lain di mulut, lain di kelakuan

“Ibu rumah tangga adalah profesi paling mulia…”

Eh, begitu sampai rumah:

“Maaah, makanan mana, Maaah? Kok belum jadi, Maaah? Udah laper nih, Maaah! Buruaaan!”

Hmm… ke mana yah, kata-kata manis seperti ‘tolong’ dan ‘terima kasih’? Sejak kecil kamu pernah diajari kan, bro? Jangan lupa dong, sebab saya sudah muak untuk menulis lagi kata-kata ‘maaf, hanya sekadar mengingatkan’. Cukup sudah.

Lagipula, kamu juga senang kan, kalau orang minta tolong sama kamu secara baik-baik?

Saya pernah menghadiri suatu acara. Nah, saat seorang istri lagi menyuapi anak mereka yang masih balita, si suami yang hanya ongkang-ongkang kaki tinggal terima jadi langsung membentak, “Mana teh saya?!”

“Iya, Mas. Sebentar.”

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Jangan gitu lah, lihat-lihat sikon juga. Masa mau disamakan dengan anak kalian yang masih balita? Kalau merasa anggota tubuh masih lengkap dan mampu bergerak, bisa kok bikin teh sendiri. Kelelakianmu juga nggak akan luntur hanya karena bikin teh sendiri.

3. Nggak mau tahu urusan rumah tangga

Pokoknya, kamu mau tahu beres dengan hanya memberi uang belanja secara rutin. Sarapan harus ada, pulang kerja tinggal makan. Rumah juga kudu bersih, wangi, dan rapi. Anak-anak pun harus tertib.

Tapi, ada situasi dimana istri minta tambahan uang belanja. Suatu hal wajar, karena kebutuhan semakin meningkat. Eh, kamu malah langsung menuduh istri kurang bisa mengelola keuangan rumah tangga. Ada yang begitu.

Di sisi lain, kamu juga suka mengeluhkan penampilan istri yang nggak seperti pacaran dulu. Terus, kamu juga suka marah-marah karena pas mengajak istri pergi, dandannya lama sekali.

Oke, kita tarik napas bareng-bareng dulu, ya… Habis itu, coba cek kabar terbaru soal harga pangan, ada kenaikan nggak? Makanya kuota jangan cuma dipakai buat lihat postingan hoaks mulu.

Baca juga: Pledoi Lelaki yang Mencuci dan Menjemur Baju Sendiri

Lalu, pahami juga apakah istri kewalahan di rumah, sehingga tidak sempat berdandan? Apakah dia kelelahan? Cari tahu dulu akar masalahnya. Jangan mau enaknya. Bisa kabur ke kantor barang delapan jam sehari bukan berarti cuek dengan realita di rumah sendiri.

Kalau memang belum atau nggak siap dengan satu penghasilan saja juga nggak apa-apa, kok. Banyak-banyak diskusi saja dengan istri untuk mencari solusi, bukan tinggal nyuruh sana-sini. Lagipula, rumah tangga itu urusan berdua.

Itu kenapa kalau belum siap mental dan finansial, jangan nekat menikah, apalagi usia masih muda. Sebab menikah bukan cuma urusan ‘sah’ lalu ‘ahh’.

4. Selingkuh

Nah, kalau yang ini kurang ajar. Istri nggak boleh kerja di luar rumah dan dikasih janji-janji surga. Eh, mentang-mentang istri udah nurut dan akhirnya tidak punya penghasilan sendiri, kamu membalasnya dengan selingkuh? Berkali-kali lagi.

Sudahlah, nggak usah bawa-bawa pelakor sebagai alasan klasik atau menyalahkan istri karena akhir-akhir ini kurang dandan. (Silakan baca No 3)

Selama ada niat jelek di hati, mau ada atau nggak ada perempuan lain, selingkuh pasti terjadi. Bukankah yang paling utama adalah pengendalian diri sendiri dulu?

Artikel populer: Suami-suami Takut Istri Berpendidikan Lebih Tinggi

5. Kekerasan pada istri

Ini juga apa-apaan, sih? Katanya ‘memuliakan perempuan’ dengan menjadikannya sebagai ibu rumah tangga, tapi kok nggak konsisten begitu?

Mungkin nggak selalu fisik, bisa saja kekerasan verbal seperti menyebut istri dengan ucapan kasar. Misalnya, istri pernah nggak sengaja bikin gosong masakan atau hal-hal terkait urusan domestik lainnya.

Jangan heran, kalau lama-lama profesi ibu rumah tangga terdengar tidak aman. Gara-gara siapa, hayo?

Menjadi ibu rumah tangga atau berkarier di luar rumah seharusnya pilihan pribadi perempuan. Keduanya sama-sama mulia, kok. Berbeda bukan berarti salah satunya lebih baik atau buruk, kan?

Apapun pilihan profesi istri, diskusikan lah dengan baik dan ambil solusi paling realistis dengan kondisi rumah tangga. Apapun pilihan istri, selama masih baik untuk keluarga, kenapa tidak? Dan, jangan cuma memuji profesi ibu rumah tangga di mulut saja, tapi kelakuan beda.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.