Wonder Woman 1984. (Warner Bros Pictures)

Haruki Murakami menulis novel 1Q84 dengan latar belakang tahun 1984 yang aneh, yang dialami oleh dua tokoh bernama Tengo dan Aomame. Sejak awal cerita, pembaca diajak mengerti apa keanehan yang dilihat secara jelas dengan mata kepala mereka: Ada dua buah bulan di langit malam.

Sementara itu, film Wonder Woman 1984 alias WW84 seolah menyajikan penjelasan kenapa tahun 1984 memang layak dipertanyakan dan ditandai sebagai masa yang absurd. Lewat cerita soal batu ajaib bernama Dreamstone, Diana Prince si Wonder Woman jadi harus bertarung hingga lecet dan berdarah demi ketenteraman dunia.

Dreamstone punya kekuatan luar biasa. Kalau kamu memegangnya sambil mengharapkan sesuatu, permintaanmu bakal jadi kenyataan. Kamu hanya boleh meminta sekali, persis seperti kisah jin dalam lampu ajaib. Bedanya, ‘jin’ pengabul di sini akan meminta sesuatu darimu sebagai imbalan, sementara kamu tak bisa memilih mana yang akan kamu relakan untuk dibawa pergi.

Baca juga: Menyoal Abuse of Power Lewat Satire Superhero, Nyindir Banget!

Suatu hari, Maxwell Lord berhasil meleburkan Dreamstone ke dalam dirinya sendiri. Tujuannya jelas, untuk mengabulkan permintaan orang-orang dan ia bisa mengambil apa yang mereka miliki sebagai imbalan. Alih-alih terlihat seperti jin, Max Lord malah terkesan kayak dukun yang bertanya kepada para pasiennya, “Apa yang kamu inginkan? Ayo, katakan,” dengan wajah separuh kelelahan karena kebanyakan mengabulkan permintaan orang, tapi tetap bernafsu tinggi menguasai dunia.

WW84 adalah cara lain untuk menunjukkan bahwa musuh besar seseorang adalah dirinya sendiri. Tentu wajar jika berharap mendapatkan sesuatu sesuai keinginan, tapi tidak semua orang mengerti bahwa ‘bayarannya’ kadang bisa menghancurkan diri sendiri.

Soal vaksin Covid-19 gratis, misalnya, yang memang sudah diamini oleh Presiden Jokowi. Ini terdengar seperti kabar baik, tapi selanjutnya malah jadi waswas. Seberapa jauh kabar baik ini bertahan? Bagaimana urutan vaksinasinya? Apakah cepet-cepetan kayak promo 12.12 di marketplace? Sebab pemberitaan tentang Jokowi sebagai orang pertama yang akan disuntik vaksin begitu masif.

Baca juga: Macam-macam Karakter Pacar Berdasarkan Cara Kerja Menteri Hadapi Pandemi

Maap-maap aja nih, bukan apa-apa, kita kerap menginginkan pejabat ataupun wakil rakyat yang bisa diandalkan, tapi kadang cuma terkabul di awal masa kerja sampai akhirnya mereka ketahuan. Tak ada yang menyangka seorang menteri sosial menjadi tersangka dalam kasus korupsi bantuan sosial, yang mana bansos tersebut untuk membantu masyarakat yang kesusahan selama pandemi Covid-19. Rusak, kan? Kepercayaan pun menjadi ‘bayarannya’.

Sebetulnya apa yang ditawarkan oleh WW84 cukup sederhana: mengikhlaskan. Bukan mengikhlaskan duit rakyat yang dirampok pejabat atau soal karut-marut penanggulangan pandemi Covid-19, tapi lebih pada diri kita sendiri. Bahwa permintaan, seberapa bagus dan menariknya, adalah hal yang belum pasti terbaik saat ini. Malah, memaksakan keinginan bisa saja hanya akan menyiksa diri.

Wonder Woman yang tangguh pun mendadak jadi berbeda dengan lirik lagu Mulan Jameela “Aku bukan Wonder Woman-mu yang bisa terus menahan rasa sakit karena mencintaimu”. Nyatanya, Wonder Woman juga bisa nangis dan galau, bahkan sempat tak rela melepas kembali orang yang paling dicintainya.

Baca juga: Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Kalau dipikir-pikir, ini mirip seperti hari-hari selama pandemi. Ratusan rencana yang batal terasa seperti mimpi buruk, tapi ini bagaikan jalan terbaik untuk tidak turut sakit dan terkapar. Memakai masker pada awal terasa menyesakkan, begitu juga dengan rutinitas cuci tangan yang membosankan. Tapi lihat sekarang, masker yang sebetulnya nggak modis itu justru bisa menyelamatkan kita dari kemungkinan yang lebih buruk. Rencana yang batal membuat kita punya banyak waktu untuk duduk dan sedikit bersantai setelah sebelumnya lembur is in your blood.

Kejadian yang sama dialami Gal Gadot, si Wonder Woman yang jadi idola Imam Darto itu. Setelah ditampar kenyataan bahwa banyak orang menderita gara-gara batu pengabul mimpi yang rakus dan tamak, ia rela pergi dari belahan jiwanya dan kembali hidup sendiri. Kadang-kadang, memang, merelakan dan melepaskan apa saja yang melekat adalah jalan terbaik daripada terseok-seok karena terlalu sibuk menambal luka. Ciyee.

Artikel populer: Sejak Dulu, Orang memang Tergila-gila dengan Kesatria Perempuan

Pada akhirnya, film Wonder Woman 1984 juga menjadi pengingat bahwa kecemburuan adalah lawan yang tak kalah kerasnya selain ego diri sendiri. Lihat teman sukses, langsung bete. Lihat mantan bahagia, nggak mau terima. Lihat mantan nikah, kebakaran jenggot. Padahal, kebencian itu tak akan membawamu ke mana-mana.

Apa yang menghentikan Maxwell Lord, tetapi tidak pada si gadis pencemburu Wonder Woman, adalah pesan besar yang ingin disampaikan. Berlari sejauh apa pun, kalau cuma dipenuhi obsesi, tak akan berujung kejayaan.

Sudahlah, apa lagi yang kamu kejar, padahal kamu telah menjadi versi terbaik dirimu sendiri?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini