Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Ilustrasi (Alexandra/pixabay.com)

Menjadi perempuan baik-baik adalah sesuatu yang baik. Tapi apa jadinya, jika kebaikan itu diakomodasi oleh seseorang di luar diri kita? Suatu kebaikan dikatakan baik, karena dia memang baik. Namun, kebaikan macam apa yang dikatakan baik itu?

Bingung? Sama!

Gini deh… Misalnya A punya pacar B. Setiap jalan bareng, B melarang A memakai rok karena nanti ribet, lebih baik pakai celana. Menurut B, itu adalah hal yang baik. Tapi menurut A, itu belum tentu baik, karena dia lebih suka pakai rok. Justru pakai celana bikin dia ribet.

Lantas, apakah B salah? Tidak. Apakah A yang salah? Tidak juga. Lalu siapa yang salah? Pak Jokowi, eh?

Tidak ada yang salah, manteman… Sebab dalam pacaran yang dilandasi cinta, masing-masing pihak selayaknya menjadi subjek, bukan objek.

Namun, A akan menuruti keinginan B, meski A tak suka pakai celana. Mengapa demikian? Ya karena cinta, keleus… Itulah yang disebut Jean Paul Sartre: cinta itu konflik.

Ketika seseorang sudah mencintai, maka di hadapan pasangannya, dia cenderung tak lagi merdeka. Tubuhnya diatur sedemikian rupa. Dimulai dari cara berpakaian, cara berjalan, bahkan semua waktunya diserahkan untuk orang yang dicintai.

Ini yang disebut Sartre bahwa cinta akan mentransformasi diri seseorang sebagai entitas yang dipenuhi dengan motif ‘memiliki’. Kalau kamu sudah menjadi pacarku, kamu harus menuruti semua kataku.

Jadi sebenarnya ‘cinta tak harus memiliki’ itu ada nggak sih?

Dalam sebuah entitas dengan motif ‘memiliki’, cinta dapat mengekang kebebasan. Sebab, pada hakikatnya, orang yang saling mencintai itu ‘terpenjara’, namun tak kasat mata. Hanya orang-orang yang punya mata batin seperti saya saja yang mampu melihatnya, ehm… Lho, nggak percaya? Tatap mata saya.

Jangan gagal fokes gaes, kita balik lagi.

Jadi, seseorang punya kecenderungan agar dirinya terus dicintai oleh pasangannya. Bahkan, dia akan melakukan apapun demi orang yang dicintainya. Ada nggak dari pembaca yang seperti itu? Kalau teman saya ada yang begitu.

Setelah memiliki pacar, dirinya menjadi lebih tertutup. Relasi sosialnya dibatasi, karena hampir seluruh waktunya dihabiskan bersama sang pacar. Tubuhnya mulai diatur. Semula, dia tidak suka pakai lipstik. Tapi disuruh pacarnya untuk pakai lipstik, baik saat bertemu dengannya atau tidak.

Tak hanya itu, dia harus memakai jilbab dengan warna yang disuka pacar, sekalipun nabrak antara warna baju atasan dan bawahan. Itu seolah bukan masalah, yang penting pacar senang. Kalau bajunya kegedean dimarahin, “Bajunya kegedean, jelek.” Dan, masih banyak lagi yang dikomentari oleh si pacar.

Mendengar cerita itu, saya kok jadi gemes ya. “Terus kamu nyaman diperlakukan dan diatur-atur seperti itu?” tanyaku kesal.

“Gak sih, Sis. Cuma ya mau gimana, aku ya nurut aja asalkan dia senang,” ucapnya dengan wajah lesu.

“Senang katamu? Untuk apa kamu melakukan sesuatu yang dirimu sendiri menolaknya? Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menyenangkan diri sendiri,” tuturku geram.

“Apakah kamu tidak pernah memberontak atau setidaknya kamu memberikan pandanganmu atas ketidaknyamananmu yang didikte sedemikian rupa sama pacarmu?” lanjutku.

“Tidak, aku nurut saja,” pungkasnya.

Sebagai perempuan, saya merasa harga diri saya tidak ada artinya di mata pasangan, jika hidup saya didikte seperti itu. Di mana letak kebebasan individu yang kita miliki?

Menjadi perempuan yang nurut sama pasangan itu sah-sah saja. Tapi melakukan sesuatu terhadap apa yang tidak diinginkan, apakah itu masih wajar?

Inilah yang dimaksud bahwa orang yang saling mencintai itu ‘terpenjara’, hanya tak kasat mata. Dirinya ‘dipenjara’ oleh orang lain, yaitu orang yang dicintai. Jika dirunut lebih jauh, maka ini termasuk kekerasan dalam pacaran. Sebab, kekerasan tak hanya dilakukan secara fisik, tapi juga non-fisik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekerasan berarti paksaan; perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Sedangkan kekerasan dalam pacaran adalah perilaku dimana salah satu pasangan berusaha untuk mengontrol, mengatur, menyebabkan rasa takut, atau bahkan membuat ketergantungan pada pasangannya.

Berikut ini adalah 10 bentuk kekerasan dalam pacaran:

1. Kekerasan fisik.

2. Emosi yang meledak-ledak.

3. Posesif atau cemburu yang berlebihan.

4. Selalu meremehkan dan mengejek (tidak menghargai) pasangan.

5. Menguntit (mengintip) secara fisik ataupun digital.

6. Mengecek ponsel, email, media sosial, dan hal-hal yang bersifat pribadi lainnya tanpa izin.

7. Melarang atau menjauhkan diri dari keluarga teman ataupun lingkungan sekitar.

8. Menuduh tanpa alasan.

9. Memaksa berhubungan seks.

10. Menolak penggunaan kontrasepsi.

Jadi, apa yang dialami oleh teman saya adalah satu bentuk dari kekerasan dalam pacaran, dimana pacarnya sangat posesif (poin ketiga) karena dia merasa bahwa pasangannya sudah menjadi miliknya dan boleh diatur-atur.

Sederhananya, dalam pacaran saja sudah mendapatkan kekerasan, bagaimana kalau sudah menikah? Mungkin pasanganmu akan lebih leluasa mengatur dan mengontrolmu.

Namun, atas nama ‘cinta’, uhuk, banyak orang yang anteng-anteng saja diperlakukan seperti itu, mengalami kekerasan dalam pacaran dengan alasan ‘suka sama suka’. Suka juga nggak segitu-gitunya juga kalee, suka kekerasan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.