Sosialisme Adalah Kejutan Dalam Sepak Bola, tapi Kapitalisme Menikmatinya

Sosialisme Adalah Kejutan Dalam Sepak Bola, tapi Kapitalisme Menikmatinya

Ilustrasi via Pexels

Sepak bola adalah olahraga yang sangat merakyat. Di pedesaan, olahraga ini biasa hadir ketika sore hari tiba. Di bawah langit sore, bocah-bocah tak bersepatu memainkan si kulit bundar. Saat gol terjadi, mereka larut dalam gelak tawa kesenangan dan kebahagiaan.

Ketika sinar matahari meredup pertanda permainan sepak bola harus segera disudahi. Permainan selesai dan tak ada emosi yang meluap berlebihan. Semua senang dan berbagi kebahagiaan.

Mungkin ini tujuan utama diciptakan sepak bola. Untuk kebahagiaan. Lantas, apa kita masih dapat menemukan bentuk kebahagiaan dalam sepak bola saat ini?

Dalam sepak bola modern, bentuk kebahagiaan itu telah berubah wujud. Kebahagiaan diukur dari seberapa banyak trofi dan uang. Masuknya para pemilik modal telah banyak membuat perubahan besar. Sepak bola bertransformasi menjadi salah satu industri pengeruk uang.

Piala Dunia, misalnya, adalah produk kapitalisme global. Pagelaran empat tahunan itu mampu menyedot ratusan juta, bahkan miliaran pasang mata. Dan, itu adalah pasar yang menggiurkan.

Piala Dunia selalu menampilkan bintang-bintang sepak bola dari banyak negara. Dalam Piala Dunia 2018 di Rusia, misalnya, ada Neymar dari Brasil, Messi dari Argentina, dan Cristiano Ronaldo dari Portugal.

Mereka adalah pemain yang mempunyai penggemar di seantero dunia. Dan, itu juga menjadi pasar yang sangat potensial.

Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia tentu kebagian rezeki. Untuk pertama kalinya, kapitalisme hadir dengan begitu lantang di tanah yang dulunya menjadi pusat kejayaan komunisme.

Namun, siapa sangka, sepak bola memiliki sisi lain. Bisa dikatakan sepak bola adalah olahraga yang sosialis. Bahkan, bahasa tim olahraga ini begitu sosialis: solidaritas, bersatu, tujuan, datang bersama.

Mereka bermain untuk satu sama lain dan kecemerlangan individu harus tunduk pada sistem permainan demi kebaikan bersama.

Pelatih legendaris Liverpool, Bill Shankly pernah berujar, “Sosialisme yang saya percayai adalah setiap orang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang sama dan setiap orang saling berbagi apa yang didapatkannya. Itulah bagaimana saya melihat sepak bola, serta bagaimana saya melihat hidup.”

Dalam Piala Dunia yang diadakan di tanah komunis Rusia, banyak menghadirkan tim sepak bola yang berkarakter sosialis. Sebut saja Swiss, Islandia, dan Meksiko. Mereka bermain mengandalkan kolektivitas untuk merengkuh satu tujuan: memenangi pertandingan.

Secara mengejutkan di babak penyisihan, Argentina gagal menaklukkan Islandia. Pertandingan berakhir seri. Messi yang berstatus pemain kelas dunia bernilai tinggi tak mampu menekuk lutut para pekerja Islandia.

Kunci dari permainan Islandia adalah kerja sama yang solid antar pemain. Tak ada kelas sosial di sana. Tak ada ego pribadi, mereka menjalankan sistem permainan yang disiplin.

Kejutan lain datang dari Swiss, ketika kontra tim mapan sekelas Brasil. ‘Tim Samba’ yang diisi para pemain bintang, seperti Neymar, Coutinho, dan Paulinho tak mampu mengalahkan Swiss. Secara tak terduga, Swiss berhasil menahan imbang Brasil.

Selanjutnya adalah Meksiko yang mampu mempermalukan Jerman, sang juara bertahan. Mereka kalah, karena pemain Meksiko menampilkan permainan yang sangat kolektif. Pemain Meksiko bergerak bersama-sama dan memukul balik ‘kekaisaran’ Jerman.

Namun, ada fakta menarik bahwa negara-negara dengan kolektivitas tinggi biasanya hanya tampil efisien di putaran awal. Kemungkinan besar mereka berguguran memasuki 16 besar.

Ronaldo, Messi, dan Neymar memang pemain hebat. Tapi bukan berarti ia bisa melakukan segalanya. Mereka tetaplah satu unit yang mendukung satu kesatuan sistem bernama kesebelasan sepak bola.

Plato dalam bukunya berjudul Republica pernah berujar bahwa penguasa tidak mempunyai kekayaan pribadi. Semua yang dimiliki negara, baik itu hasil produksi maupun konsumsi dibagikan secara rata ke semua rakyat yang ada di negara tersebut.

Begitu juga dalam tim sepak bola. Tak akan pernah ada satu pemain yang bisa menguasai secara penuh tim sepak bola. Sebab, tim sepak bola tentang 11 pemain di lapangan, 23 dalam skuad, bekerja sama demi kebaikan bersama.

Tidak satupun dari mereka adalah bintang besar. Mereka hanyalah pemain-pemain yang mampu bermain secara kolektif.

Permainan sepak bola bagai sebuah drama teatrikal. Di sana, semua isme hadir dalam satu panggung. Panggung yang diongkosi pemodal. Dari kursi VVIP, para pemilik modal tersenyum dan bersenda gurau menyaksikan pertunjukan tarian sepak bola.

Dalam buku In the Shadow of the Silent Majorities, filsuf kontemporer asal Prancis Jean Baudrillard mengatakan bahwa sepak bola memikul tanggung jawab yang kuat, bahkan ia mengambil tanggung jawab jahat untuk memukau massa.

Pesona memukau massa ini menjadi celah bagi kapitalisme untuk masuk. Dalam esainya yang berjudul Football: a dear friend to capitalism, Terry Eagleton mengatakan, tiap kali politisi atau pemikir sayap kanan berusaha mengalihkan perhatian rakyat dari ketidakadilan politik dan ekonomi, solusinya akan selalu sama: sepak bola.

Sepak bola memang bukan sebuah tujuan akhir, tetapi ia merupakan alat untuk mengorganisir, disorganisir, dan reorganisir hubungan-hubungan sosial. Ia dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencapai tujuan di luar sepak bola itu sendiri.

Sepak bola adalah olahraga yang paling sosialis, tapi paling mudah untuk dikapitalisasi. Ujung-ujungnya, kapitalisme tersenyum bahagia menikmati kejutan-kejutan yang ada, karena ia hadir sebagai pihak yang paling diuntungkan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.