The Conjuring: The Devil Made Me Do It. (New Line Cinema)

Sewaktu insiden kolapsnya Christian Eriksen, sang pemain timnas Denmark di laga Euro 2020, memori penggemar sepakbola langsung terpaut pada trauma serupa. Yakni, kehilangan Miklos Feher – pesepakbola asal Hungaria yang meninggal dunia ketika memperkuat klub Benfica. Penyebab kematiannya serangan jantung.

Pada sebuah pelatihan ESQ sewaktu orientasi sepekan di kampus, tragedi yang menimpa pesepakbola pernah menjadi bahan renungan untuk para pesertanya. Dengan narasi bahwa kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja. Contohnya, kematian mendadak Feher dan ‘sakaratul maut’ pesepakbola di liga Arab Saudi.

Kalau dipikir-pikir, tragedi yang menimpa seseorang dijadikan momok untuk para maba sungguhlah tidak etis. Bagaimana pun, itu tetaplah duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Kok malah dijadikan konten?

Ditambah lagi, belakangan diketahui bahwa cuplikan video pesepakbola asal Arab Saudi yang diklaim sedang berjibaku dengan malaikat kematian adalah hoaks belaka. Urban legend yang menyesatkan.

Baca juga: Seandainya Seleb Internet Jadi Panitia Ospek Online

Aslinya, pesepakbola bernama Abdulrahman Al-Shoaibi itu mengidap epilepsi. Setelah tertangkap kamera sedang mengalami kejang-kejang di lapangan, nyatanya ia masih bertahan hidup. Bahkan, ia bertanding di laga selanjutnya.

(Itu artinya sebelum jadi agen perubahan, para maba sempat kena prank panitia ospek).

Adegan kejang-kejang pun menjadi pembuka film The Conjuring: The Devil Made Me Do It. Seorang anak tak sadarkan diri sampai badannya tertekuk tak masuk akal. Berhubung film horor, adegan itu bukan bagian dari atraksi sirkus.

Ditambah, yang menanganinya bukan dokter, jadi gejalanya tidak didiagnosis sebagai epilepsi. Cenayang yang menghadapi fenomena itu menyebutnya sebagai kesurupan.

Roh jahat yang merasuki tubuh sang anak membuat suasana tak terkendali. Mendadak cuaca buruk. Tiba-tiba listrik anjlok. Lampu pun pecah. Piring dan gelas melayang.

Si anak yang kesurupan makin kelojotan sambil tertawa menyeramkan. Kukunya mencakar-cakar dinding. Badan kecilnya yang dipegangi empat orang seperti memaksa ingin bergoyang. Paranormal dan pastor sampai kewalahan dengan amukan si anak. Keluarganya pun terpental ke mana-mana.

Baca juga: Cara Mengalahkan Annabelle Selain dengan Agama

Di film horor, roh jahat seperti virus yang bisa berpindah tempat untuk mencari inang selanjutnya. Kesurupan pun bisa menular. Itulah mengapa sewaktu pemutaran seri film The Conjuring kerap dibarengi dengan berita penonton bioskop yang kesurupan.

Di cerita filmnya sendiri, roh jahat yang menguasai si anak akhirnya berpindah ke seorang pemuda bernama Arne Johnson yang sebelumnya berusaha menyadarkannya. Setelah itu, sang iblis melakukan perbuatan jahat lewat manusia yang dipengaruhinya. Berbeda dengan cerita kesurupan di Tanah Air yang bisa bikin orang tampak lancar berbahasa daerah dan mahir ceramah.

Pembunuhan yang dilakukan Arne Johnson adalah kisah nyata yang menjadi landasan cerita film The Conjuring: The Devil Made Me Do It. Di pengadilan, Arne mengaku tidak sadar ketika melakukan tindak kejahatan itu. Lalu, disimpulkan bahwa Arne kerasukan setan ketika melakukannya. Makanya subjudulnya adalah “The Devil Made Me Do It”. Sang iblis lah yang memaksaku melakukannya.

Dengan bantuan Ed dan Lorraine Warren sebagai saksi ahli hal-hal berbau supranatural, Arne mendapatkan keringanan hukuman. Yang semula ia didakwa 10-20 tahun penjara, dikorting jadi 5 tahun saja.

Baca juga: Jika Layanan “Move to Heaven” Buka Cabang di Indonesia

Kejadian itu termasuk luar biasa. Di negara berkembang yang lekat dengan dunia klenik saja banyak masyarakat menolak RUU KUHP pasal santet. Ternyata di luar negeri yang terkesan maju peradabannya, masih mengakui dunia gaib dan bisa menyeret iblis ke meja hijau. Dengan alasan, kalau percaya Tuhan, harusnya percaya juga bahwa iblis itu ada.

Namun, sampai sejauh mana iblis dijadikan kambing hitam untuk kejahatan yang dilakukan manusia? Terlepas bahwa ‘wujud’ Baphomet memang serupa kambing sih.

Yang dikhawatirkan premis The Conjuring ini dijadikan landasan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk menormalisasi tindakan jahatnya. Misalnya, ada influencer yang melakukan pelecehan seksual terhadap penggemarnya. Lantas, ia mengaku tidak sadar ketika melakukannya. Bisa saja dalihnya “The devil made me do it”.

Kalau gitu, Deddy Corbuzier harus menghubungi sang iblis untuk klarifikasi di podcast. Penasaran dengan jawaban atas pertanyaan, “Apakah benar kamu yang melakukannya, wahai iblis?”

Kalau Om Deddy bisa melakukannya, nanti bukan cuma close the door, pintu neraka juga bisa ditutup. Untuk memenjarakan iblis yang banyak berbuat jahat di dunia.

Artikel populer: Ketika Negara Menjadi “A Quiet Place” Tanpa Wujud Monster seperti di Film

Belum lama ini, seorang terdakwa kasus korupsi mendapatkan keringanan hukuman. Yang semula 10 tahun dipotong menjadi 4 tahun penjara. Bahkan, hukumannya tidak lebih lama daripada kredit mobil.

Alasan keringanan hukuman itu diberikan karena terdakwa dulunya penegak hukum. Lah? Harusnya kalau penegak hukum dijatuhkan hukuman yang setimpal. Sebab dia tahu hukum, tapi masih melanggarnya. Padahal, dia telah disumpah untuk menegakkan hukum, kok masih berani membelokkannya?

Seseram-seramnya semesta The Conjuring, masih seram dunia hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas, merangkul yang sejajar. Tak heran publik berteriak karena kecewa berat dengan penegakan hukum, yang mana itu dipertontonkan di depan mata.

Padahal, terdakwa juga sudah mengaku bersalah. Ia tidak berdalih, “The devil made me do it.” Jadi, ia tidak sedang dalam pengaruh iblis ketika melakukan tindakan korupsi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini