Ilustrasi (Image by congerdesign from Pixabay)

Pandemi Covid-19 membuat kehidupan asmara terganggu. Tidak bisa bertemu kekasih karena terkendala pembatasan fisik dan PSBB di kota-kota zona merah. Kafe dan bioskop yang biasanya jadi tempat pacaran harus ditutup demi kesehatan bersama. Maka, kencan hanya bisa dilakukan via online.

Yang pacaran normal jadi seperti LDR. Yang LDR makin susah ketemuan karena bandara ditutup dan moda transportasi lainnya dibatasi. Yang tidak kuat menjalin status tanpa pertemuan, bisa saja memilih mengakhiri hubungan. Pandemi tak hanya melahirkan korban PHK, tetapi juga jomblo-jomblo baru.

Jika korban PHK diberi Kartu Prakerja, jomblowan dan jomblowati korban pemutusan hubungan kerja kekasih diberi apa? Kartu anggota Indonesia Tanpa Pacaran??

Konon, gagasan New Normal bertujuan untuk menyelamatkan kehidupan sosial dan ekonomi sebuah negara, tanpa mengesampingkan protokol kesehatan. Jika boleh berprasangka baik, mungkin pemerintah juga ingin menyelamatkan kehidupan percintaan rakyatnya dengan bergegas menerapkan konsep New Normal. Dengan catatan… sudah aman. Kalau masih bahaya, buat apa coba?

Bagaimanapun, hidup berdampingan itu dengan orang yang kita cintai, bukan dengan virus corona.

Baca juga: Kangen Pacar Mau Kencan, tapi ‘Physical Distancing’, Gimana?

Sebelumnya, pemerintah sempat melarang mudik, tetapi mengizinkan transportasi umum beroperasi kembali. Sedangkan waktu kunjungan pacar alias wakuncar tidak dibahas sama sekali. Apakah itu isyarat bahwa pulang ke pelukan pasangan masih diperbolehkan, seperti halnya pulang kampung yang dimaklumi pemerintah? Sebab rasa bahagia bertemu kekasih bisa meningkatkan imunitas tubuh. Tak baik berlama-lama membiarkan rindu berdesakan di dada.

Meski demikian, ketika datang era New Normal, jaga jarak tetaplah sebuah kewajiban. Masker menjadi atribut wajib yang dikenakan setiap orang ketika keluar rumah. Hand sanitizer perlu digunakan sebelum dan sesudah berpegangan tangan dengan pasangan. Satu botol hand sanitizer berdua terasa romantis seperti makan sepiring berdua dan berteduh di payung yang sama.

Mal kemungkinan juga kembali dibuka. Apalagi, setelah pengelola mal membandingkan pasar yang tumpah ruah menjelang Lebaran. Kalau pasar boleh, kenapa mal dilarang? Bukankah mal lebih aman dan higienis ketimbang pasar becek, begitulah argumentasinya. Sebenarnya, pemerintah bisa menanggapi protes pengelola tersebut dengan kalimat, “Iri bilang bos.”

Baca juga: Menunda-nunda Balas Pesan Instan: ‘New Normal’ dalam Komunikasi?

Di mal-mal, nantinya pasangan yang belum tinggal serumah dianjurkan tetap jaga jarak satu sama lain. Konsep jaga jarak yang biasanya dipakai karena motif agama demi menghindari dosa, kini bermuatan pedoman kesehatan. Maka, jaga jarak dengan bukan muhrim-nya di New Normal cenderung untuk menjauhkan diri dari penyakit. Seperti kata Bude Sumiyati, “Aku akan selalu menyayangi dalam suka maupun… duka dosa.”

Setelah mal buka, bioskop bakalan menyusul. Bioskop bisa kembali beroperasi dengan memberi jarak antar kursi penonton. Bisa juga memakai konsep bioskop drive-in seperti yang dihadirkan di berbagai negara. Mengantre beli tiket film di kasir harus dalam jarak aman antar pengunjung. Atau, sekalian tiket hanya dijual online supaya tidak menciptakan kerumunan di lobby bioskop.

Dengan begitu, pasangan-pasangan bisa kembali movie date. Namun, tetap mempertahankan jarak aman dengan pasangan. Nggak ada lagi istilah posisi A1-A2 (??). Layaknya orang yang nonton bioskop sendirian, eh gimana?

Baca juga: Jika PSBB di Jakarta Jadi Latar Film Parasite

Sebelum pergi kencan, biasanya seseorang bingung pakai baju apa. Ketika New Normal, seseorang bingung pakai masker yang mana. Model kain motif, scuba, atau katun earloop? Yang jelas nggak perlu pakai masker respirator, nanti dikira musuhnya Batman.

Industri fesyen bisa jadi memanfaatkan peluang ini dengan mengeluarkan produk masker yang modis. Ditambah gimmick masker bermerek mahal yang hypebeast. Lalu, dijadikan konten Youtube, “Berapa harga APD lo?”

“Masker medis 500 ribu, beli di penimbun. Kalau masker kain 100 juta, branded impor asli Korea, produk yang sama dengan yang dipakai Lee Min-ho. Hand sanitizer 10 juta, dibeli dari hasil lelang amal yang diadakan selebgram. Sarung tangan 2 miliar karena bekas sarung tangan mantan kiper timnas Markus Horison.”

Pergi keluar rumah tidak pakai masker di era New Normal adalah sebuah kesalahan. Tindakan yang mengundang penghakiman masyarakat. Orang yang tidak pakai masker bakalan dicap tidak sayang diri sendiri dan pasangan.

Netizen pun mengubah format ceramah untuk foto OOTD cewek-cewek di Instagram, “Cantik sih. Tapi lebih cantik kalau pakai masker. Maaf sekadar mengingatkan.”

Artikel populer: Seks & Virus Corona: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan

Compliment (pujian) kepada pasangan juga menyesuaikan dengan kondisi zaman, “Aku suka kamu pakai masker motif batik kawung. Kelihatan lebih berwibawa dan cinta budaya Indonesia.”

Lalu, di infotainment, Ivan Gunawan sang pengamat fesyen pun menyindir para selebriti yang tidak proper pakai masker, “Artis yang pakai maskernya asal itu nggak banget ya dilihatnya. Penampilan public figure kan berpengaruh sama imej. Kalau ada artis pakai masker ngegantung gitu, gue jadi bertanya-tanya. Itu artis atau jubir?”

Selain perkara busana, New Normal juga mengubah tradisi. Salah satunya menikah tanpa resepsi yang diprediksi menjadi sebuah kewajaran baru demi menghindari keramaian. Pasangan yang ingin menikah akan lebih dimudahkan karena tidak perlu menabung lama untuk biaya sewa gedung, katering ribuan tamu, dan bayar hiburan dangdut.

Namun, sebelum ke tahap prosesi pernikahan, acara lamaran mungkin bakal tampak bernuansa religius nan higienis romantis seperti adegan di film Ayat-Ayat Cinta. Tepatnya, ketika Fahri mengkhitbah Aisha.

“Sekarang buka maskermu, Aisha.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini