Kebijakan Kota Depok kok Lucu Cekali?

Kebijakan Kota Depok kok Lucu Cekali?

Ilustrasi (Image by WikimediaImages from Pixabay)

Wacana kebijakan Pemerintah Kota Depok yang satu ini memang ajaib betul. Pemkot Depok berencana memutar lagu di lampu merah Jalan Margonda dan Simpang Juanda pada jam-jam padat lalu lintas. Program tersebut bernama Joyful Traffic Management atau JoTRAM.

Pemutaran lagu ini akan menggunakan pengeras suara. Katanya untuk mengurangi stres para pengendara saat macet. Yup, mendengarkan musik bisa bikin relaks dan meredakan stres, tapi nggak di keramaian lampu merah juga, keleus…

Pengendara cuma ingin jalanan nggak macet, titik. Nggak butuh dihibur ketika macet. Biar pengendara, terutama warga Depok, bisa cepat menuju ke tempat wisata yang keren-keren di Jakarta, Bogor, dan Bandung. Di Depok, ada?

Lalu, soal lagu yang akan diputar. Memang sih, lagunya bukan lagu sembarangan. Selain lagu tradisional dan lagu sosialisasi tertib berlalu-lintas, lagu berjudul “Hati-Hati” yang dinyanyikan oleh Wali Kota Depok Idris Abdul Shomad juga akan diputar. Ini sedikit mengingatkan saya kepada politisi senior yang punya bakat nyanyi meluap-luap. Kalau tidak salah inisialnya SBY.

Baca juga: Semua akan Jadi Penjajah di Jalan pada Waktunya

Belakangan, banyak yang mengkritik rencana kebijakan Pemkot Depok tersebut. Namun, Pak Wali tetap pasang lagu, eh pasang badan. “Oke-oke, ini yang terakhir ya. Yang lewat media itu persepsi yang keliru. Jangan dilebih-lebihkan, ini LC ‘lebay cekali’,” katanya sambil tertawa.

Mohon izin Pak Wali, saya mau dosa, tapi takut ketawa. Eh, kebalik. Kebijakan Pak Wali memang LC ‘lucu cekali’. Hahahaha…

Bahwa kebijakan publik lahir dari keresahan publik. Setidaknya itu yang saya pahami dari bangku kuliah. Dari pemahaman sederhana itu, apa iya pengendara merasa perlu mendengarkan suara emas Pak Wali di lampu merah sebagai obat pengusir stres akibat macet?

Dalam konteks ini, keresahan publik bukan karena ingin dihibur atau kurangnya pengetahuan tentang tertib berlalu-lintas, melainkan ingin kemacetan enyah dari jalan raya ‘Kota Belimbing’. Itu saja. Kalau diputarin lagu yang ada malah tambah stres.

Baca juga: Gebetan Baru dan 4 Tips Menawan sebagai Bekal Menaklukkan Jakarta

Eh tapi, kebijakan itu bisa menjadi hiburan tersendiri deng. Jadi, tolong ya, jangan pernah meragukan kemampuan Pemkot Depok untuk membuat warganya terhibur sekaligus bertambah pintar. Sebab, beberapa kebijakannya asli lucu sekali dan merangsang nalar kritis.

Kalau ada orang yang bilang bahwa kebijakan ini tidak tepat dan hanya buang-buang anggaran, Anda kok lebay cekali?!

Apakah Anda tidak tahu Pemkot Depok sedang bekerja keras menata kata? Eh, itu sih tetangga sebelah, maksudnya menata kota? Misalnya, keberadaan angkutan umum yang sampai sekarang gitu-gitu aja. Apa perlu ada kebijakan pemutaran lagu di dalam angkutan umum demi menciptakan transportasi publik yang nyaman?

Bikin kebijakan publik harus benar-benar relevan dengan keresahan warga. Belum lagi, masalah kemacetan yang nggak kelar-kelar. FYI aja nih, kemacetan di Depok, terutama akhir pekan, bisa lebih menyebalkan daripada kemacetan di Jakarta. Terutama, di kawasan Margonda dan Jalan Raya Sawangan.

Baca juga: Ibu Kota Mau Pindah? Jangan Abaikan 7 Hal Ini

Tapi, persoalan itu tampaknya tidak strategis. Lebih strategis kebijakan merekayasa lalu lintas, misalnya dengan sistem satu arah (SSA), yang bikin muter-muter pusat Kota Depok. Asyikk, bisa sekalian wisata keliling pusat kota!

Tak hanya itu, dulu, Pemkot Depok juga pernah bikin kebijakan yang strategis banget terkait hemat energi. Serius ini. Caranya, mengimbau agar pegawai pemkot tidak menggunakan kendaraan pribadi ke kantor dalam sehari. One Day No Car (ODNC). Ya, naik angkot lah.

Ada pula One Day No Rice (ODNR) setiap selasa. Warga Depok masih ingat, nggak? Mungkin sudah lupa, ya karena gerakan itu cuma bertahan beberapa tahun saja sebelum akhirnya dicabut. Lagipula, mana ada yang betah tidak makan nasi seharian penuh? Terus, kalau bukan nasi, kita makan apa? Makan temen?

Berikutnya, Pemkot Depok juga pernah bikin kebijakan yang tidak kalah strategis dan urgen banget. Beneran, kali ini beneran serius: makan menggunakan tangan kanan.

Artikel populer: Sukses Jadi PNS menurut @PNS_Ababil

Kebijakan ini datang dari anggapan ‘budaya timur’ bahwa tangan kanan lebih punya nilai kesopanan dibanding tangan kiri. Tapi, apakah pemkot perlu sejauh itu mengatur cara makan warganya? Kalau cara makan saja diatur-atur, saya khawatir nanti cara tidur, berpakaian, sampai bercinta pun juga diatur-atur.

Fokus gaes…

Kebijakan pemutaran lagu di lampu merah memang masih perencanaan. Tapi, kalau melihat jejak rekam Pemkot Depok dalam menelurkan kebijakan-kebijakan yang ada, bukan tidak mungkin ini akan terealisasi juga.

Kalau sudah begitu, yang bisa saya lakukan dan mungkin warga Depok lainnya adalah mengelus dada, sambil menguatkan hati agar tidak salah pilih lagi dalam pilkada selanjutnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.