Beberapa Petunjuk untuk Memahami Kebijakan Anies yang Kontroversial

Beberapa Petunjuk untuk Memahami Kebijakan Anies yang Kontroversial

Ilustrasi becak (sufeca/pixabay.com)

Tanggapan publik atas kebijakan kontroversial Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang memperbolehkan becak beroperasi di Jakarta setelah belasan tahun dilarang, bisa diwakili oleh dua status Facebook saja sebagaimana di bawah ini:

“Jakarta milik semua orang, termasuk tukang becak. Menyedihkan sekali bila rakyat dilarang mencari penghidupan yang halal di ibukota negaranya sendiri. Dan soal kemacetan – pelarangan becak terjadi sejak belasan tahun lalu, dan apakah pada periode tersebut Jakarta menjadi bebas macet?”

Itulah perwakilan dari tanggapan yang mendukung kebijakan tersebut. Sementara itu, tanggapan yang menentang diwakili oleh status yang bertuliskan demikian:

“Becak adalah moda transportasi yang tidak manusiawi, tidak efisien, dan tidak sesuai dengan kebijakan gubernur yang ingin mengurangi kemacetan. Intinya, Anies Baswedan sebenarnya tidak memiliki rencana yang jelas untuk Jakarta, ia hanya mampu memikirkan apa-apa yang baik bagi popularitas dirinya.”

Begitulah. Ada lebih banyak status bernada serupa yang ditulis dengan cara yang lebih dramatis, lebih panjang, dan lebih menjual yang berseliweran di beranda siapa pun belakangan ini. Dan, harus saya katakan bahwa semua status tersebut memiliki satu kesamaan: mereka lupa bahwa Anies Baswedan adalah manusia.

Itulah masalah sejatinya: Jakarta dipimpin oleh manusia, bukan alien atau, apalagi, belalang sembah. Adalah wajar bila Anies Baswedan memperuwet kembali sesuatu yang sudah dibikin mudah, yang merupakan sifat alamiah manusia belaka.

Kecenderungan memperuwet kembali apa-apa yang sudah gampang tersebut barangkali belum dikaji secara ilmiah, sehingga ia tampaknya belumlah bernama.

Meski begitu, sejarah peradaban manusia penuh sesak oleh pelbagai peristiwa yang tercetus karenanya, entah peristiwa yang berdarah-darah, penemuan teknologi tertentu, atau peristiwa yang hanya akan berakhir sebagai meme.

Demi memahami sikap Anies Baswedan, ada baiknya bila kita merunut sejarah dan memutar ulang pelbagai peristiwa yang lahir dari keruwetan. Pertama, kita mulai dengan alis.

Tubuh manusia, seperti juga tubuh makhluk hidup lainnya, terdiri atas organ-organ yang memiliki fungsinya masing-masing. Beberapa organ tubuh memiliki fungsi yang amat vital yang membuatnya layak dipelajari secara khusus di sekolah kedokteran, seperti jantung dan otak.

Namun, ada juga organ tubuh yang fungsi utamanya seperti sekadar ada, tak signifikan, sehingga kerap terlupakan. Contohnya adalah filtrum, lekukan vertikal di antara hidung dan bibir. Dan, tentu saja, alis.

Tak seperti fungsi filtrum yang masih tak jelas hingga kini, alis ternyata amat berguna untuk melindungi mata dari keringat, air, dan sinar. Bila seseorang mencukur habis alisnya, keringat dari dahi akan meluncur langsung ke kelopak mata.

Solusinya mungkin sederhana: Anda tinggal memejamkan mata dan menyeka keringat tersebut dengan tangan. Selesai. Namun, bisakah Anda membayangkan petaka macam apa yang akan timbul ketika Anda memejamkan mata demi menghalau keringat di siang yang terik dan kedua tangan Anda sedang sibuk mengendalikan laju sepeda motor yang melesat bagai peluru?

Kini, Anda tahu alasan di balik utuhnya alis para pembalap MotoGP.

Hal sederhana tersebut diubah menjadi kerumitan oleh manusia. Alih-alih menjaganya agar tetap sesubur hamparan padi di daerah manapun selain Kulon Progo, manusia mencukurnya habis demi mengejar standar estetika tertentu. Di tempat alis itu sebelumnya, manusia kemudian menggantinya dengan guratan pensil jenis tertentu yang berbentuk… alis.

Alis baru tersebut memiliki banyak kegunaan, misalnya membuat wajah seseorang tampak selalu ceria atau sedih atau marah pada sembarang kesempatan. Yah, meski itu bergantung pada bentuk lengkungan dan keterampilan pemulasnya.

Hanya saja, alis baru tersebut tak bisa menjalankan fungsi dasar sebuah alis. Itu belum termasuk dampak dari musim hujan yang menjelma menjadi masa-masa tak menyenangkan bagi penggunanya, terutama bila pensil yang dipakai belum pernah muncul di iklan apa pun.

Hasil inovasi teknologi juga ada yang tak luput dari kecenderungan manusia untuk memperuwet hidupnya sendiri. Benda itu ada di rumah Anda, di tiap rumah orang-orang yang khawatir dicemooh ketinggalan zaman, dan bahkan terkadang diperlakukan seolah memiliki nyawa sehingga tampaknya tinggal menunggu waktu untuknya didaftarkan di Kartu Keluarga. Ia bernama televisi.

Purwarupa pertamanya muncul di Jerman, satu dekade setelah Perang Jawa berakhir. Meski begitu, dibutuhkan empat puluh tahun untuk membuat televisi menjadi komoditi global.

Harga televisi yang termurah pada saat itu mencapai 445 dolar Amerika dan Anda mendapat layar cembung 12 inci berbalut kayu, yang kemampuannya terbaiknya adalah menampilkan gambar hitam-putih dari objek yang Anda tidak yakin itu berupa gedung parlemen London atau boks telepon umum.

Sudah menjadi sifat teknologi untuk terus memperbarui diri. Seiring perkembangan kamera rekam, televisi pun berubah menjadi lebih estetis: layarnya lebih besar dan berwarna, jumlah piksel lebih banyak, dan bentuknya tak melulu seperti kardus yang ditempeli kabel dan tombol.

Dan, yang lebih menyenangkannya lagi, televisi hadir bersama remot! Suatu terobosan mahapenting bagi penonton yang punya bakat alamiah untuk membuat Garfield sekalipun tampak rajin.

Waktu terus berjalan dan begitu pula teknologi pertelevisian. Ia kemudian hadir dengan panel layar datar, desain yang semakin tipis, dan kemampuan berintegrasi dengan piranti lain seperti pemutar piringan cakram dan konsol game.

Di titik inilah televisi mencapai nilai optimumnya, menjadi benda yang amat berguna dan begitu lumrah dijumpai, sehingga kadang kita lupa kalau ia dulu juga perlu diciptakan.

Namun, kecenderungan manusia untuk memperuwet hidupnya sendiri mengambil alih konsep teknologi berikutnya. Setelah puluhan tahun nyaman oleh teknologi layar datar, para inovator merasa bosan dan memutuskan untuk membikin standar televisi terbaik yang berlayar… lengkung. Bukan layar cembung seperti bentuk nenek moyangnya, melainkan layar cekung.

Seolah itu belum mampu mengusir rasa bosannya, mereka juga menjejalinya dengan aneka sensor gerak dan sentuh layar, yang membuat konsumen akan merasa merugi bila memutuskan berinteraksi dengan tetap memakai remot.

Bagaimananapun, konsumen membayar mahal untuk televisi yang bisa menanggapi sentuhan, yang artinya mereka harus berjalan menuju televisi, alih-alih selonjoran di sofa dan mengudap popcorn sembari memenceti remot seperti sebelumnya.

Televisi termutakhir adalah televisi yang membuat pembelinya serajin karyawan magang di hari pertamanya bekerja.

Itulah dua contoh yang bisa jadi petunjuk untuk memahami kebijakan kontroversial Anies Baswedan. Anda bisa mencari contoh-contoh lainnya bila belum tercerahkan, dan beruntunglah Anda hidup di Indonesia – bangsa kita memiliki kecakapan yang tak habis-habis untuk memperumit hidupnya sendiri.

Pada level pemerintahan, Anda akan disuguhi contoh terbaik dari sektor pertanian. Amatlah wajar bila pemerintah mengangankan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia; kita memiliki iklim dan lahan yang amat mendukung.

Namun, pemerintah adalah manusia, sehingga sulit untuk kita menaruh rasa heran ketika pemerintah membangun bandara dan pabrik dan jalan tol dan infrastruktur lain di atas lahan produktif. Itu manusiawi sekali, kan?

Dan, di tingkat rakyat, Anda bisa menemukan contoh dari perilaku pengguna media sosial. Barangkali Anda tahu kalau platform medsos apa pun dibikin dengan tujuan merekatkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Intinya, medsos dibikin agar orang-orang semakin terhubung, tanpa sekatan jarak dan lokasi geografis yang menjadi kendala di era teknologi komunikasi sebelumnya.

Kita tahu dan paham betul tujuan pembuatan medsos tersebut, dan kita merayakan ketiadaan batasan itu dengan menambah teman sebanyak mungkin dan berinteraksi seintens mungkin sebelum akhirnya saling memblokir dan membenci, dan menggeruduk kantor Facebook karena tiba-tiba tak diizinkan membenci dengan bebas lagi.

Sangat manusiawi, kan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.