Kebiasaan Pemain Playstation dalam Kubu Prabowo-Sandi

Kebiasaan Pemain Playstation dalam Kubu Prabowo-Sandi

Ilustrasi (jeshoots.com via Unsplash)

Dalam lingkup pertemanan, kami mengenal istilah ‘investasi alasan’. Istilah ini awalnya tercetus ketika hendak bermain Playstation atau PS. Biasanya, sebelum laga dimulai, pihak lawan atau bahkan kita sendiri akan melontarkan berbagai alasan yang berorientasi pada beberapa menit ke depan.

“Ah, stiknya rusak nih!”

“Duh, gue udah lama nggak main nih.”

“Ini ruangannya kok nggak nyaman ya, bisa nggak fokus nih.”

“Posisi duduk gue nggak aerodinamis nih.”

“Wah, TV-nya mirip punya mantan gue. Bisa gagal fokus gue!”

Dan, segudang alasan sejenis lainnya.

Percayalah, ketika alasan semacam itu sudah meluncur, maka dijamin pertandingan nggak bakal seru. Berbeda, jika saat laga dimulai kedua pemain sudah saling psywar. “Ah, lu mah mana pernah menang lawan gue!” ucap lawan yang kemarin dibantai 10-0. Lawan seperti ini akan membuat pertandingan menjadi seru.

Dengan sikapnya yang seperti itu, pemain yang sudah pernah mengalahkannya bisa lebih bersemangat, lebih fokus, dan lebih serius menjalani detik demi detik dalam pertandingan. Kalau perlu menang telak. Mengapa? Kalah aja doi udah songong, apalagi kalau menang?

Baca juga: Hal yang Lebih Penting daripada Fatwa Haram Main PUBG

Mereka yang membuat bermacam-macam alasan ketika pertandingan belum dimulai sejatinya berusaha mencari ‘kewajaran’. Alasannya itu dibuat untuk mendelegitimasi kekalahannya kelak. Jadi, kalau pada akhirnya kalah, kekalahan tersebut tidak terlalu menyakitkan. Sebab, sebelumnya ia sudah membuat alasan kenapa kalah.

Jika sudah begitu, sang pemenang hanya bisa membatin: modus!

Walaupun hal seperti itu biasanya muncul saat bermain Playstation, bukan berarti tidak terjadi dalam kehidupan yang lebih luas. Kontestasi politik, misalnya. Eeaaa…

Pemilihan presiden (Pilpres) tinggal menghitung hari. Berbagai prediksi tentang siapa yang bakal memenangi pertarungan sudah seliweran, lengkap dengan analisis. Mulai dari yang ndakik-ndakik sampai yang receh. Dari yang mengemukakan data sampai yang memperdebatkan sempak merah.

Lembaga survei juga sudah mengeluarkan hasilnya masing-masing. Dari semua lembaga survei itu, nyaris semuanya menyatakan mayoritas penduduk Indonesia masih menginginkan Joko Widodo alias Jokowi menjabat sebagai presiden untuk kedua kalinya.

Litbang Kompas, misalnya, baru-baru ini merilis hasil survei yang menyatakan 49,2% memilih pasangan 01, Jokowi-Ma’ruf Amin. Sementara, pasangan 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya memperoleh 37,4%.

Baca juga: Jokowi Vs Prabowo, Siapa yang bakal Menang?

Dengan selisih 11,8%, beberapa pihak menganggap bahwa hasil akhir pertarungan sudah kelihatan. Bahwa dengan selisih sejauh itu, pasangan 02 masih sulit mengalahkan 01 yang merupakan petahana.

Namun, politik adalah seni segala kemungkinan, konstelasinya bisa berubah. Terlebih, data dari berbagai sumber menyebutkan bahwa jumlah mereka yang belum menentukan pilihan masih sangat banyak. Beberapa rilis lembaga survei mengungkapkan, jumlah undecided voters ini berkisar 10-15%.

Charta Politika menyatakan, jumlah undecided voters sebesar 11,1%, sementara Litbang Kompas mengungkapkan bahwa 13,4% yang belum menentukan pilihan terhadap capres. Meski demikian, kubu Jokowi-Ma’ruf Amin semestinya tak perlu pesimis.

Sementara itu, di kubu Prabowo-Sandi, narasi tentang kemungkinan kalah mulai diproduksi. Prabowo sempat mengeluarkan pernyataan kepada media bahwa dia siap menerima kekalahan, asalkan tidak dicurangi.

Hal yang sama dikatakan oleh Amien Rais. Menurutnya, bakal ada gerakan people power, jika nanti pemilu dianggap curang. Masalahnya adalah anggapan curang atau tidaknya itu perlu dibuktikan, jangan hanya sebatas pandangan subjektif karena tidak menerima kekalahan.

Baca juga: Beberapa Argumen tentang Golput yang Kurang Tepat

Narasi “pokoknya kalau kita kalah berarti pemilu curang” itu terlihat seperti ‘investasi alasan’ tadi. Melihat hasil survei yang nyaris semuanya memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin, tampaknya membuat elit kubu Prabowo-Sandi perlu mengeluarkan jurus tersebut. Berupaya mendelegitimasi kemenangan pihak lawan.

Kalaupun yang menang Prabowo-Sandi, ya berarti sujud syukur tahun 2014 itu akhirnya menemukan faedahnya. Tapi, kalau sampai kalah, kemungkinan besar pertandingannya dianggap curang. Kalau main PS, ini seperti, “Ah, gue kalah karena stiknya error nih.” Atau, “Tombol segitiganya kayak lambang Freemason.”

Saya tak sedang mengatakan bahwa Pemilu 2019 sudah pasti adil. Yang namanya pertandingan dan kecurangan itu seperti dua hal yang tak bisa dipisahkan. Bukankah setiap kali bendera fair play dikibarkan saat hendak memulai pertandingan sepak bola, berulang kali juga aksi diving dilakukan?

Jangan pula menganggap kecurangan itu wajar. Tidak. Namun, pihak Prabowo-Sandi seharusnya juga punya andil untuk mencegah terjadinya kecurangan. Bahwa mereka punya kapasitas untuk itu. Kan katanya lebih TNI daripada TNI, berarti lebih paham strategi dan tahu bagaimana mencegah terjadinya kecurangan.

Artikel populer: Macam-macam Gaya Mencoblos Berdasarkan Film Favorit

Lha, kalau seorang TNI – yang lebih daripada TNI – tidak bisa mengatasi kecurangan secara benar, gimana nanti berhadapan dengan beberapa korporasi yang dikenal lihai dalam mengangkangi aturan?

Terus, bagaimana mau people power kalau nantinya selisih suara tak jauh berbeda dengan hasil lembaga survei? Setahu saya yang awam ini, people power itu terjadi kalau mayoritas rakyat menginginkannya, seperti yang terjadi pada 1998. Kalau prediksi lembaga survei terbukti benar, gimana membangun people powernya? Kubu sebelah juga punya dukungan yang bahkan lebih banyak. Hhmm… biarkan itu menjadi rahasia Amien Rais.

Jadi, kubu Prabowo-Sandi semestinya fokus saja bagaimana caranya meraih suara dari undecided voters itu daripada menggunakan jurus ‘investasi alasan’ seperti beberapa teman saya kalau main PS. Sebab, kata beberapa ahli, undecided voters ini signifikan, tapi sulit dibujuk.

Iya, kayak dia yang walaupun sudah diperjuangkan tapi memilih nikah sama yang lain…

3 COMMENTS

  1. Buat kamu Abdul Rizal yang awam, dan didukung oleh kamu, Aris. Kalimat Prabowo itu “saya lebih TNI dari banyak TNI,” bukan “saya lebih TNI daripada TNI.” Saya sebagai undecided voters, muak dengan kalimat “saya lebih TNI daripada TNI” yang terus dipanggang oleh orang-orang picik. Kalimat itu terkesan bermakna brutal kalau cuma sepotong, dan kamu salah satu yang membangun kebrutalan itu.

    Selamat!
    Semoga Anda bangga.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.