110 Tahun Kebangkitan Nasional, Kita Masih Asyik Ribut Sendiri

110 Tahun Kebangkitan Nasional, Kita Masih Asyik Ribut Sendiri

Ilustrasi (youtube.com)

Perayaan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini yang mengambil tema “Pembangunan Sumber Daya Manusia Memperkuat Pondasi Kebangkitan Nasional di Era Digital”, rasanya seperti panggang jauh dari api. Terlebih, momen itu diperingati dalam suasana duka yang mendalam.

Banyak sekali korban berjatuhan akibat teror bom oleh kelompok teroris. Bahkan, di tengah suasana duka, masih banyak orang yang sadar atau tidak sadar mendukung perbuatan keji tersebut.

Betapa menyedihkan, juga menyakitkan, saat sebagian orang begitu entengnya mengatakan bahwa kejadian ini hanyalah kesengajaan atau rekayasa. Bahkan, tak sedikit pihak yang coba memanfaatkan situasi ini demi kepentingan politiknya.

Dan, itu semua secara terang-terangan disuarakan lewat media sosial. Tak jarang, informasi itu berupa berita palsu (fake news) atau kabar bohong (hoax). Mirisnya, banyak dari kita yang gagap menghadapi sisi gelap era digital tersebut.

Padahal, banyak sekali fitur-fitur di internet yang bisa dimanfaatkan untuk mencari bukti-bukti kebenaran sebuah berita. Namun, taklid buta kebencian telah membutakan mereka akan kebenaran.

Apa ini, kualitas sumber daya manusia yang bisa memperkuat pondasi kebangkitan nasional di era digital?

Mau dibilang tidak mumpuni karena kurangnya pendidikan, kok rasanya aneh. Sebab, banyak pula dari mereka yang berasal dari kalangan terdidik. Bahkan tak sedikit yang berprofesi sebagai pengajar di negeri ini.

Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan seorang Wahidin Soedirohoesodo, seandainya beliau masih hidup?

Karena Wahidin berjuang dengan segala keterbatasan, keluar dari hidupnya yang sudah kepenak, hanya demi sebuah cita-cita bahwa masyarakat kita harus terdidik, harus bisa menjadi pendidik, agar bisa menjadi manusia yang berkualitas.

Ya, penggagas lahirnya organisasi Boedi Oetomo itu adalah seorang pensiunan dokter Jawa, sebutan bagi para dokter dari kalangan pribumi yang tak dianggap sama sekali oleh pemerintahan kolonial.

Dokter Jawa yang tekun ’menjajakan’ ide kepada masyarakat kita tentang dana beasiswa bagi anak-anak Jawa agar bisa bersekolah lebih tinggi lagi. Dua tahun lamanya, ia berkeliling menjajakan ide tersebut hingga gayung bersambut saat ia bertemu dengan para mahasiswa STOVIA.

Mereka, yang pada akhirnya memiliki mimpi yang sama, yang berasal dari kalangan priyayi rendahan ini, akhirnya berkumpul menjadi satu demi pendidikan masyarakat kita.

Para pelajar STOVIA ini, setelah lulus, adalah sejatinya seorang dokter. Namun, seorang dokter terutama lulusan STOVIA, biasanya ditambahi emel-embel dokter Jawa. Sebuah profesi yang tak bergengsi sama sekali kala itu.

Sebetulnya banyak orang yang tak mau belajar di situ. Sebab, setelah lulus, mereka pun dipaksa untuk melayani kepentingan para pemilik perkebunan di Sumatera Timur. Mereka harus menjaga kesehatan para buruh agar tak menjadi beban perusahaan.

Hingga akhirnya, ide Wahidin terus berkembang. Para mahasiswa STOVIA yakin, Boedi Oetomo seharusnya tak melulu bicara tentang beasiswa, tapi harus merambah ke dunia politik.

Boedi Oetomo mulai membuka diri untuk banyak kalangan, tak lagi terbatas kalangan para priyayi Jawa, juga menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Di sinilah, gaung nasionalisme mulai muncul ke permukaan.

Mereka, yang berkumpul di Boedi Oetomo mulai menggalang kekuatan politik, yang tak terbatas pada satu persoalan. Karena pada dasarnya, kebijakan-kebijakan politiklah yang bisa mengubah wajah negeri kala itu.

Kebijakan itu diyakini bisa mengantarkan mereka untuk menjadi tuan di negeri sendiri. Bukan sebagai inlander yang dininabobokan oleh segala fasilitas, namun hanya di atas kertas. Seperti kata Homi Bhabha, ”Hampir sama, tapi tak benar-benar sama.”

Keadaan tersebut – hampir sama, tapi tak benar-benar sama – kembali terulang saat ini. Tapi bukan dilakukan oleh pemerintah kolonial, melainkan oleh para elit politik negeri ini.

Ketika menghadapi isu teror, politik, maupun ekonomi, mereka justru sibuk mencaci, saling menyalahkan, seolah mencari panggung kebenaran versi mereka sendiri. Begitu juga dengan para pendukung maupun simpatisannya.

Para elit politik bukannya duduk bersama di meja yang sama untuk membahas masalah yang sama, kemudian mengatasi masalah tanpa masalah, tapi justru menambah gaduh suasana.

Misalnya, tarik ulur pembahasan UU Antiteror dan perdebatan soal kondisi ekonomi. Lembaga eksekutif dan legislatif saling melempar tanggung jawab. Dan, yang paling menyedihkan, masyarakat justru dibenturkan antara satu dan lainnya lewat isu SARA.

Melihat hal tersebut, jelas muncul pertanyaan, elit politik macam apa yang justru gaduh sendiri saat rakyatnya butuh ditenangkan hatinya?

Ini sekaligus mengingatkan saya pada kata-kata Soekarno, “Kita yakin, bahwa pemimpin Indonesia semuanya insaf, persatuanlah yang akan membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan.”

Kata-kata Soekarno di atas sejatinya sebuah sindiran kepada Agus Salim dan Semaun yang tengah berkonflik. Konflik yang menyebabkan Sarekat Islam (SI) pecah menjadi dua. SI Putih di bawah pimpinan Agus Salim dan SI Merah (Sarekat Rakyat) di bawah pimpinan Semaun.

Namun, kata-kata Soekarno tadi, sepertinya pas sekali dengan situasi saat ini, meski keadaannya berbeda karena ini tentang negara, bukan organisasi. Tapi, itu justru menjadi catatan yang perlu ditebalkan dengan tinta merah, karena negara jauh lebih besar dari organisasi.

Para elit politik maupun petinggi negeri ini seharusnya tidak perlu diajarkan kembali tentang nasionalisme. Sebab, nasionalisme jauh lebih besar dari kepentingan golongan, suku, atau agama apapun. Begitu kan bapak-bapak, ibu-ibu?

Jangan sampai momen kebangkitan nasional yang sudah 110 tahun ini hanyalah seremoni tanpa makna. Lupa dengan esensinya, yaitu bagaimana sebuah embrio kecil bernama Boedi Oetomo bisa membangkitkan cita-cita besar tentang sebuah negara.

Ingatlah momen saat seorang Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara menulis Als Ik Eens Nederlander Was. “…Aku juga patriot, dan sebagaimana seorang Belanda yang dengan semangat nasionalis mencintai tanah airnya, juga aku mencintai tanah airku.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.