Ilustrasi. (Photo by Sachith Hettigodage from Pexels)

Bertahun-tahun Kominfo memerangi konten pornografi. Beberapa platform dan jejaring sosial sempat kena blokir karena dinilai tak punya report tools untuk konten asusila. Para internet service provider pun diminta untuk mengaktifkan fitur safe search. Namun, di tengah upaya keras itu, kekerasan seksual berbasis daring justru meningkat, tanpa diiringi mekanisme hukum yang tepat. Jadi, apakah blokir-memblokir itu efektif?

Sudah jadi rahasia umum bagaimana VPN browser memberi keleluasaan mengakses pornografi, terlepas dari apa orang paham risiko kebobolan data pribadinya. Kominfo dan Kemdikbud pasti tahu bahwa banyak aplikasi gratisannya di sejumlah layanan distribusi digital.

Jumlah konsumen yang besar membuat industri pornografi berevolusi dengan layanan yang memanjakan penontonnya. Fitur 3D memberikan pengalaman masturbasi terasa nyata seakan penonton punya mitra seksual di ruang dan waktu yang sama.

Membaca kajian pornografi membuat saya berpikir bahwa sineas di industri ini tampaknya lebih progresif ketimbang institusi budaya. Mereka sadar betapa cair seksualitas individu dan mengakomodasi fenomena itu dalam karya-karyanya. Sedangkan masyarakat dan institusi formal sering kali terlihat menolak dan memberi label negatif.

Baca juga: Ngopi dan Ngeseks Sehormat-hormatnya

Tenang, itu cuma upaya nge-satire kok. Kalau dibahas lebih serius, pastinya cuan adalah pemantik semangat progresif di industri pornografi. Tidak ada definisi moral dalam industri ini, berbeda dengan kalangan masyarakat dan institusinya yang sebagian besar memegang teguh moralitas.

Namun, masalah muncul ketika kemudahan akses pornografi tak sebanding dengan akses pendidikan seksual yang memadai. Edukasi tentang Hak-hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) serta layanan konsultasi seks di Indonesia tampaknya tak mengalami peningkatan. Banyak anak muda melakukan seks tanpa dasar pengetahuan.

Pasangan dewasa pun hanya memperoleh inspirasi seksual dari konten mesum. Situs-situs dewasa memang memberi pengetahuan tentang gaya seks yang lebih kreatif sebagai referensi seks non-konvensional.

Tapiii… sadarilah, pornografi tidak memberi pengetahuan soal bagaimana cara masturbasi yang aman untuk kesehatan, ada tidaknya risiko melakukan blowjob, handjob, anal, dan lainnya. Bahkan tidak mengajari cara memperoleh orgasme. Konten 18+ murni adegan sandiwara penuh sound effect, nihil pengetahuan seks yang higienis, aman, dan memuaskan.

Baca juga: Pendidikan Seks Memang Harus ‘Cabul’

Dari segi neurologis, pornografi berpengaruh buruk bukan hanya pada remaja dan anak-anak, tapi juga orang dewasa. Konsumsi jangka panjang menumbuhkan fantasi seks di luar nalar dan sulit terpuaskan oleh aktivitas senggama sungguhan.

Akses pornografi tanpa diiringi akses pendidikan seksual bisa-bisa mengakibatkan maraknya pelecehan seksual dan perkosaan.

Ketika pornografi mudah diakses dan bercinta jadi bagian dari gaya hidup, edukasi seks dan kesehatan reproduksi pun perlu upgrade kurikulum. Orang tidak bisa hanya ditakut-takuti risiko penyakit dan azab neraka. Mau tak mau, harus membahas yang cabul-cabul dari segi ilmiah juga.

Lagian, bukankah hasrat seksual sebagai anugerah Tuhan sebaiknya kita kelola dan kendalikan secara baik dan benar? Agar kita sehat jasmani, rohani, dan mental.

Akses edukasi seks bisa diselenggarakan melalui tayangan-tayangan publik, dengan memberi ruang yang cukup bagi aktivis-aktivis kespro, seksolog, dan pakar ginekologi. Dengan begitu, mereka bisa mengedukasi kalangan awam macam saya. Materinya bisa untuk remaja, dewasa, orangtua, bahkan lansia. Tinggal disesuaikan dengan kebutuhan tiap usia.

Baca juga: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Agar materinya lebih progresif, para ahli pun perlu mengingat tiga hal berikut dalam memberi informasi dan layanan konsultasi.

Pertama, punya perspektif seksualitas yang adil. Kalau hanya membedakan dua jenis gender dan seksualitas, para transpuan, transpria, lesbian, gay, biseksual, dan lainnya akan kesulitan mencari informasi tentang kesehatan seksualnya.

Kedua, berperspektif adil gender saat menganalisis kasus pasangan heteroseksual agar saran dan analisisnya tidak merugikan salah satu pihak.

Ketiga, tidak kaku-kaku amat berpedoman pada norma budaya yang ada.

Saya pernah konsultasi perihal menstruasi ke spesialis kandungan, karena berasumsi dia menempuh mata kuliah kesehatan reproduksi. Usai memberi keluhan, dokter menanyakan status pernikahan. Meski saat itu saya tidak pernah melakukan aktivitas seksual, sebagai remaja lugu, pertanyaan itu bikin cemas sekaligus canggung. Saya pun pulang membawa pil pemicu hormon tanpa pengetahuan apa-apa.

Apa hubungannya kesehatan reproduksi dengan status pernikahan? Jika diperlukan informasi terkait aktivitas seksual pasien, janganlah sungkan bertanya, apakah telah aktif secara seksual? Apakah berganti-ganti mitra seksual? Dan sebagainya.

Tentu, tak semua dokter menganggap penting status pernikahan. Semoga yang demikian bisa menginspirasi sesama koleganya.

Artikel populer: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Kebetulan, saya juga mengikuti support group penderita vaginismus secara daring. Di sana, ada perempuan tanpa status pernikahan yang mengalami gejala vaginismus enggan berkonsultasi. Budaya menganggap seks pranikah itu tercela, sementara mereka mengkonfirmasi gejalanya lewat hubungan seks pranikah.

Bisa saja mengaku terkonfirmasi lewat pemasangan tampon, tapi apa baik untuk diagnosisnya? Seorang ahli ginekologi menyampaikan bahwa tidak semua ahli medis paham penyakit ini. Bahkan ada pasien yang di-pap smear secara paksa dan diberi nasihat psikologis. Padahal, penderita vaginismus sungguh ingin menikmati penetrasi, tapi tubuhnya yang menolak, bukan pikirannya. Dalam budaya bercorak patriarki yang minim pengetahuan seksual, penyakit ini bisa menyakiti perempuan secara fisik maupun psikis.

Barangkali, banyak orang atau pasangan yang juga mengalami problem seksual. Namun, karena tabu dibicarakan dan minim akses informasi, hanya bisa bertanya ke platform kesehatan digital. Yah, meskipun tahu kalau jawaban dokternya kerap normatif mirip artikel SEO.

Dalam budaya yang kaya fantasi seksual, tapi miskin pendidikan seksual, banyak orang yang akhirnya merasa terhibur oleh serial Sex Education. Itu pula mengapa Sex Education menjadi tayangan yang begitu populer.

Melalui adegan-adegannya, kita bisa ketawa-ketawa sambil menyaksikan bagaimana institusi formal bersikap homofobik, menabukan persoalan seks dan menakut-nakuti, alih-alih memberi edukasi yang memadai. Musim ketiganya bahkan mengguncang pengetahuan umum. Relate banget nih..

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini