Kau Terpelajar, Cobalah Pahami Bagaimana Jadi Penyintas Kekerasan Seksual

Kau Terpelajar, Cobalah Pahami Bagaimana Jadi Penyintas Kekerasan Seksual

Ilustrasi (Free-Photos via Pixabay)

Saya tercekat ketika mengetahui kabar tentang penyelesaian kasus dugaan kekerasan seksual yang dialami Agni (bukan nama sebenarnya). Sementara itu, di Senayan sana, DPR tak kunjung mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Sebagai konselor, beberapa kali saya menemukan kasus serupa. Mulai dari catcalling, memaksa sentuhan fisik, hingga penetrasi. Para korban datang dengan tangisan.

Sementara itu, ada saja orang-orang yang malah mencibir korban, dengan berkata, “Apa sih nangis segala, orang gak diperawanin.” Bahkan, ada yang bilang, “Sekarang aja nangis, kemarin-kemarin keenakan.”

Sesungguhnya mereka yang tidak peka itu tak pernah tahu rasanya menjadi korban kekerasan seksual. Atau, jangan-jangan budaya memerkosa atau rape culture di negeri ini begitu kuat berkat langgengnya budaya patriarki?

Baca juga: Kuatnya Budaya “Victim Blaming” Hambat Gerakan #MeToo di Indonesia

Tangisan korban bisa disebabkan banyak hal. Biasanya, tangisan pertama tidaklah muncul dari rasa sakit pada fisik atau rasa sakit hati. Sebab, dalam kondisi pasca kekerasan, beberapa orang mengalami kelumpuhan fisik dan kegagalan motorik merespons stimulus yang didapatkan oleh saraf sensorik. Bahkan, korban pun sering kali tak mampu mengenali perasaannya pasca kekerasan.

Jangankan melawan atau berteriak, sering kali korban yang shock tak tahu apa yang benar-benar ia rasakan. Bahkan, ketika korban mulai menangis pasca kekerasan.

Lantas, dari mana tangisan yang sering kali datang secara spontan? Menangis yang terjadi pada korban adalah sebuah katarsis dasar. Atau, upaya pertama untuk melepas semua stres yang datang tiba-tiba.

Memangnya, apa penyebab stres yang selalu terdeteksi pada menit-menit awal pasca kekerasan? Rasa malu. Rasa malu karena merasa tidak mampu mempertahankan diri. Rasa malu karena merasa tidak mampu mempertahankan martabat.

Baca juga: Bilang Suka Sama Suka, Nyatanya Memperkosa

Ini bukanlah menyalahkan korban atau victim blaming, tapi ini merupakan upaya saya menggambarkan pengalaman korban pada menit-menit awal pasca kekerasan. Biar kamu-kamu yang tidak peka menjadi paham bagaimana menjadi korban.

Korban akan selalu merasa malu. Rasa malu ini tidak hadir dalam jumlah yang kecil atau hanya sekelebat dalam otak. Ia hadir dalam bentuk stressor yang sangat besar.

Kemudian, ia mendesak ingatan jangka pendek dan menghilangkan kejadian pada menit-menit menjelang kekerasan. Berganti dengan stressor rasa malu dan rasa bersalah, karena merasa tidak mampu melindungi diri.

Karena itu, sering kali kita menemui korban yang mengalami kelumpuhan mendadak. Korban merasa tak tahu harus berbuat apa, karena di kepalanya sudah penuh dengan stressor akibat rasa malu. Di sini, katarsis berfungsi untuk membuang semua emosi yang dirasa ‘overhead’.

Baca juga: #MeToo, karena Kita Harus Berhenti Terbiasa pada Penjahat Kelamin

Setelah katarsis, barulah otak dapat bekerja secara produktif karena stressor telah hilang. Banyak kita temui para korban baru dapat berpikir jernih dan menentukan sikap ketika seluruh pengalaman stressor-nya ia luapkan dalam bentuk tangisan.

Kita tahu, tubuh adalah satu satu kepemilikan pribadi yang hadir dan melekat sejak awal kelahiran manusia. Perampasan atas otoritas tubuh tentu menimbulkan trauma yang dalam.

Saya pun menangis membayangkan Agni, apalagi kasus ini diselesaikan melalui jalur non-litigasi atau secara internal UGM – kalau memang tak ingin disebut ‘damai’.

Katanya, para pihak dengan kesungguhan hati, ikhlas, dan lapang dada telah bersepakat. Si pelaku, HS, telah menyatakan menyesal dan mengaku tindakannya adalah sebuah kesalahan. HS memohon maaf kepada Agni.

Selanjutnya, HS dan Agni wajib mengikuti konseling, UGM akan menanggung biayanya. UGM juga akan memberikan dukungan dana kepada Agni untuk menyelesaikan studinya. Perkara ini pun dianggap selesai.

Lha, apa jadinya kalau setiap kasus dugaan kekerasan seksual diselesaikan dengan cara-cara internal?

Artikel populer: 5 Saran Penting terkait Kasus Pemerkosaan, dari Alumni UGM

Agni tidak sendiri. Agni adalah nama ribuan korban kekerasan seksual di Indonesia. Dan, ada jutaan perempuan yang ikut merasakan trauma dari kisah para korban. Betapa susahnya perempuan mendapat keadilan yang hakiki di republik ini.

Bahkan, tak jarang, banyak korban yang malah dianggap sebagai aib keluarga atau dipaksa menikahi si pemerkosa. Berdamai dengan keadaan katanya sih. Apa iya? Saya ragu. Sebab memaksa korban berdamai dengan pelaku adalah bentuk kejahatan turunan dari kasus pemerkosaan.

Setidaknya, ada sebanyak 2.227 kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia sepanjang 2017. Itu artinya, setiap hari rata-rata ada enam korban. Itu yang dilaporkan lho.

Jika kekerasan seksual yang menimpa Agni dirasa tidak perlu mendapatkan penanganan hukum yang tepat, sebaiknya jurusan hukum di kampus dibubarkan saja. Sebab, fungsi hukum adalah menghalau satu orang mencelakakan orang lain. Agni sudah celaka berulang kali.

Sementara, solidaritas untuk Agni yang datang dari pelosok negeri hanya dalam tataran viralitas belaka. Tanpa membawa pesan politis dari perlawanan para perempuan.

Agni telah terluka, martabatnya dirampas, dirinya dipermalukan. Di sisi lain, kampus terbaik di negeri ini – tempatnya para intelektual hebat – memfasilitasi penyelesaian secara internal.

Makanya, kalau kamu termasuk orang yang sangean, mending dari awal urus kesangeanmu itu secara internal kamu sendiri saja. Jangan jadikan perempuan sebagai korban. Paham? Katanya terpelajar.

1 COMMENT

  1. Pernah ada yang dengan entengnya ngomong: “Pemerkosa di Indonesia akan selalu bebas-bebas aja kalo korban gak berani ngadu, padahal udah ada payung hukumnya.” Entah itu orang gak liat kenyataan, ‘mainnya kurang jauh’, atau emang miskin empati. Yang udah berani ngadu aja masih juga disalahin. DIH.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.