Katanya Kopi Milik Semua, Nyatanya Tidak

Katanya Kopi Milik Semua, Nyatanya Tidak

Ilustrasi (Ali Yahya via Unsplash)

Di sebuah warung kopi, seorang pelayan baru saja mencatat pesanan sahabat saya yang laki-laki. Setelah itu, pandangannya beralih. Belum sempat saya memilih, sang pelayan nyeletuk, “Kakaknya mau apa? Green tea latte atau hot chocolate?”

Saya memilih kopi tubruk!

Pada kesempatan lain, hal yang serupa terjadi. Ketika itu sedang mencoba sebuah kafe baru di daerah Kuningan, Jakarta. Saat sedang mencerna menu kopi, si barista menengahi dan mengarahkan saya kepada minuman non-kafein.

Pengalaman ini bukan sekali dua kali. Awalnya, ini mungkin cuma kebetulan. Tapi lama-lama kok rasanya nggak nyaman. Ternyata memang ada seksisme di warung kopi, atau seksisme dan kopi. Sebuah pandangan yang menganggap bahwa perempuan nggak meminum kopi, melainkan minuman manis-manis saja, yang terkesan unyu.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap orang yang suka minuman non-kafein (di waktu-waktu tertentu saya minum taro, green tea latte, dan kawan-kawannya), secara nggak langsung masyarakat khususnya masyarakat perkotaan menyematkan konotasi feminin kepada minuman non-kafein dan konotasi maskulin kepada kopi, apalagi kopi pahit.

Baca juga: Benarkah Ngeteh Nggak Sekeren Ngopi?

Agar tak terkesan suudzon, saya pun mengajak tiga orang teman perempuan untuk bercakap-cakap soal kopi dan seksisme. Ketiganya merupakan ahli di bidangnya masing-masing, dan ya mereka penyuka kopi.

Aya, suka kopi pahit dan rokok

Aya mengaku nggak pernah mengalami seksisme dari barista atau pelayan kafe. Jurnalis di salah satu media nasional ini justru mendapat perlakuan itu dari teman nongkrong atau rekan kerjanya.

Aya, yang suka minum kopi pahit ditemani sebatang rokok, sering dikomentari, “Kok nggak pake gula?” Ada juga yang kaget beneran dengan pilihan kopi Aya. Katanya, “Jarang banget teman cewek yang ngopi kayak lu.”

Komentar-komentar seperti itu sebenarnya bikin Aya terganggu. Sebab, pada dasarnya, dia nggak suka dikotak-kotakkan. Seolah-olah merokok dan minum kopi pahit itu aneh. Hanya karena jenis kelaminnya perempuan.

“Gue nggak suka seolah pahit itu identik dengan laki-laki. Kalau minum yang pahit kesannya mirip laki-laki. Padahal kan ini cuma soal selera dan pilihan saja,” katanya.

Audrey, dianggap kuat minum kopi

Kalau Aya suka kopi yang pahit, Audrey lebih variatif. Dari yang bergula sampai yang pahit, dia pernah mencoba. Tapi satu hal yang dia sadari, setiap memesan kopi yang rasanya cukup kuat (seperti piccolo atau espresso), reaksi barista nggak jauh-jauh dari ini, “Wehhh, kuat juga minum kopinya.”

Baca juga: Filosofi Kopi Terlalu ‘Mainstream’, Ini Lawan yang Setimpal: Pare!

Audrey bilang pernyataan barista itu seolah mengiyakan bahwa perempuan cuma minum kopi yang ‘lucu’ aja. Semacam yang pakai susu atau ber-latte. Walau cukup sebal, Audrey memilih untuk nggak ambil pusing. Ketika risih sesekali, Audrey cuma bilang, “Saya memang lebih suka pahit daripada manis.”

Vanesha, penyuka kopi dan wiski yang tidak merokok

Vanesha, kerap dipanggil Echa, merupakan lulusan salah satu universitas di Amerika Serikat. Tumbuh besar di negeri Paman Sam, Echa menggemari wiski dan kopi pahit. Kebiasaannya itu kerap dikomentari oleh teman-teman sejawat. Bahkan ada yang bilang, “Wah, kamu kurang merokok aja, Cha.”

Paduan kopi, alkohol, dan rokok merupakan karakter yang sering ditempelkan kepada cewek-cewek ‘gahar’ atau maskulin. Menariknya lagi, perempuan tipe ini lebih mudah berbaur secara sosial, terutama di kalangan laki-laki.

Masyarakat patriarkis yang biasanya nggak menerima tipe perempuan pemberontak malah berdecak kagum dengan karakter seperti itu. Seolah-olah untuk diterima, maka perempuan harus berubah total dengan menganut nilai-nilai maskulin.

Ngopi, budaya maskulin?

Dari bincang-bincang dengan tiga perempuan di atas, saya menarik kesimpulan bahwa saya tidak suudzon kan? Hehe… Sadar atau nggak, komentar-komentar sambil lalu dan ‘tanpa dosa’ sesungguhnya membuat perempuan peminum kopi nggak nyaman. Sadar atau nggak, seksisme di dunia kopi itu ada.

Artikel populer: Beberapa Profesi yang Ngehits, meski Berpenghasilan Pas-pasan

Ini bukan cuma dari sisi konsumen aja, lho. Industri kopi sendiri didominasi oleh laki-laki. Studi di Australia menemukan 58% dari barista dan pelayan adalah perempuan, akan tetapi laki-laki 2,5 kali lebih banyak masuk dalam kelompok pajak tertinggi.

Artinya, posisi barista lebih banyak diberikan kepada laki-laki. Ini menimbulkan perbedaan penghasilan, karena barista dibayar lebih tinggi dari pelayan.

Selain itu, dalam kompetisi meracik antar-barista, World Barista Championship, yang digelar oleh World Coffee Events (WCE) berbasis di Irlandia, tak satupun perempuan pernah memenangi perhelatan tersebut selama 15 tahun. Dalam kompetisi lain oleh WCE, World Latte Art, hanya ada lima perempuan di antara 36 finalis pada 2015.

Coba deh kamu ingat-ingat, berapa banyak barista perempuan yang pernah kamu temui di Jakarta? Apa saya yang kurang gaul atau apa, tapi memang kebanyakan bahkan hampir semua kedai kopi yang saya kunjungi itu memiliki barista laki-laki.

Padahal kan, kopi itu milik kita semua.

1 COMMENT

  1. Akhirnya ada yg nulis soal ini. Pengalaman saya lbh jelas lg. Saya dan kawan laki (ekspat pula, meski bahasa Indonesia-nya udah gape) nongkrong d warung kopi. Jelas2 saya pesan kopi hitam & dia pesan teh. Teteup lho, pas dihidangin, kopi hitam ditaruh dpn dia sementara teh dpn saya. Gak cuma saya, kawan pun keganggu dg stereotipe itu. Kami cuma saling lirik, geleng2, trus tukar pesanan.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.