Katanya Harus Milih, tapi kalau Urusan Calon Suami Nggak Boleh Milih-milih

Katanya Harus Milih, tapi kalau Urusan Calon Suami Nggak Boleh Milih-milih

Ilustrasi via Pixabay

Di media sosial sempat ramai tentang seorang perempuan yang ingin punya suami dengan penghasilan minimal Rp 30 juta per bulan. Netizen langsung menyambutnya. Ada yang menanggapi positif, ada juga yang ngomel-ngomel ngedumel nggak karuan, hehehe.

Kalau dipikir-pikir lagi, ngapain sih ngedumel bin nyinyir. Bukan kamu pula yang mau diajak nikah sama mbaknya. Tapi dunia sudah terlanjur banyak SJW yang merasa perlu ’meluruskan’ jalan pikiran perempuan tersebut.

Katanya yang kayak gitu nggak pantas dibicarakan, apalagi diutarakan ke publik. Perempuan seharusnya bersyukur kalau nanti ada yang mau menikahi. Jangan ’jual mahal’ kayak cewek matre gitu. Nanti malah nggak ada yang mau.

Wuihh, meleber ke mana-mana.

Padahal ya, itu salah satu contoh resolusi seorang perempuan yang merasa bebas merdeka untuk bisa berkata dan bermimpi apa saja. Merdeka atas dirinya sendiri. Toh, itu nggak melanggar hukum atau hak orang lain.

Tapi, nyatanya, kultur masyarakat kita masih nggak suka perempuan yang terlalu berani menyuarakan pendapatnya. Perempuan seperti itu dianggap tidak sopan alias lancang. Padahal, ia bicara tentang masa depannya.

Baca juga: Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Dari situ terlihat pula bagaimana kentalnya primordialisme yang menempatkan perempuan harus selalu ’nrimo ing pandum’, harus menerima apapun yang diberikan untuknya tanpa punya hak untuk menawar apalagi menolak.

Terlebih, kalau itu urusan jodoh. Budaya menjodohkan anak memang terkikis, tapi budaya yang meletakkan perempuan sebagai pihak yang nggak boleh lancang menolak ’nasibnya’ ketika menjadi istri dari laki-laki manapun masih kuat.

Perempuan dipandang sebagai obyek, bukan subyek, meski pada akhirnya ia lebih banyak mengambil alih tanggung jawab sebagai subyek dalam kehidupan sehari-hari.

Pram telah menceritakan dengan gamblang tentang bagaimana seorang Sanikem berubah menjadi Nyai Ontosoroh. Sebuah kisah fiksi yang diambil dari berbagai kejadian nyata.

Sanikem tak sendirian. Ada banyak kronik di tanah Nusantara yang menceritakan hal serupa. Salah satunya kisah Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Bahkan, Kartini pun mengalami hal yang sama, menikah dengan seseorang yang disodorkan kepadanya dan dia nggak punya hak untuk menolak.

Sejauh ini memang nggak banyak kronik yang menceritakan kisah yang sama dengan kisah antara Roro Mendut dan Pranacitra, dimana seorang perempuan boleh menentukan sendiri nasib cintanya.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Walaupun kisah tersebut nggak happy ending layaknya negeri dongeng, tapi kita bisa melihat tentang bagaimana beratnya perempuan ketika memperjuangkan haknya untuk mencintai dan memilih pasangan hidup.

Karena ya itu tadi, perempuan hanya dipilih, bukan memilih. Padahal, ini ngomong pasangan hidup lho, orang yang bakal kita lihat pas pertama buka mata di pagi hari dan sebelum bobo. Seumur hidup, kalau bisa.

Masa sih sebagai perempuan nggak boleh milih?

Dalam budaya masyarakat kita sebetulnya masih ada kepercayaan turun temurun soal pilih memilih ini. Bahwa perempuan nggak boleh nolak lamaran lelaki untuk dijadikan istri.

Konon, jika menolak, kelak ia akan kesulitan mendapat jodoh. Nggak bakal enteng jodoh, istilahnya. Padahal, semua tahu bahwa cuma kaleng kerupuk yang enteng di dunia ini, haha.

Belum lagi anggapan bahwa perempuan sebagai komoditi, semacam barang dagangan yang bisa ditimbang kualitasnya. Contoh, anggapan bahwa perempuan yang berpakaian tertutup selalu lebih baik ketimbang yang berpakaian terbuka. Lalu, ditambahkan pula dengan analogi antara permen yang tak berbungkus dan permen yang dibungkus rapih.

Baca juga: Untuk Kamu, Kamu, yang Suka Bicara soal Standar Calon Istri

Itu jelas konyol. Sebab, perempuan bukanlah permen, bukan sesuatu yang bisa diperjualbelikan pula. Bukan benda mati, tapi manusia yang merdeka dan setara. Analogi permen tadi sudah sesat sejak dalam pikiran.

Tapi, seolah nggak cukup sampai di situ, status perempuan pun ditimbang. Perempuan yang sudah menikah dianggap sebagai perempuan berkualitas, karena sudah ’laku’. Sementara, perempuan yang belum juga menikah, terlebih usianya sudah matang, dianggap aib dan dilabeli macam-macam. Salah satunya sebutan ’perawan tua’.

Timbangan ’laku tak laku’ ini sering menjadi boomerang. Ada orangtua yang merasa malu kalau kelak anak perempuannya nggak ada yang meminang. Biasanya, orangtua yang seperti itu ingin anak perempuannya cepat-cepat menikah. Kalau perlu menikah dini ketimbang anaknya nanti nggak ’laku’. Tuh kan, memang apaan laku nggak laku?

Banyak pernikahan asal-asalan semacam itu menyebabkan masalah di kemudian hari. Hingga pada akhirnya, bukan hanya pertengkaran, namun berujung pada perceraian dan anak-anak menjadi korban.

Lantas, ada yang nyeletuk, ”Daripada berzina kan lebih baik nikah di usia muda?” Gini ya dek, menikah bukan cuma urusan ’abis sah lalu ahh’. Kamu kudu punya landasan yang cukup, salah satunya finansial. Lho, kan rezeki udah ada yang ngatur? Ya memang, kamu yang ngatur. Masa orangtuamu?

Artikel populer: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Alih-alih masalah selesai, malah tambah ruwet dan perceraian kerap menjadi jalan tengah. Repotnya lagi, dalam kasus perceraian, perempuan menjadi pihak yang bersalah atau disalahkan, karena dianggap nggak mampu menjaga baik-baik perasaan pasangan, terlalu menuntut, nggak melayani dengan baik, dan lainnya.

Dan, ternyata belum juga selesai sampai di situ. Stigma negatif seorang janda pun harus ditanggung oleh perempuan di negeri ini.

Itulah mengapa banyak perempuan kini lebih berani menentukan dan memilih nasibnya sendiri, apalagi ini urusan pasangan hidup. Sudahlah, berhenti menjunjung mitos dan patron-patron masa lalu yang berat sebelah.

Perempuan berhak untuk dicintai dan mencintai. Berhak pula menentukan dengan siapa ia kelak menghabiskan waktunya hingga akhir usia.

Lha, untuk urusan pemilu saja, kita punya hak pilih. Boleh tuh milih-milih calon presiden dan calon anggota legislatif sesuka hati. Lantas, kenapa perkara calon suami nggak boleh milih-milih?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.