Ilustrasi (Image by slightly_different from Pixabay)

Joaquin Phoenix memang dikenal sebagai aktor yang kritis. Pemeran Arthur Fleck atau Joker ini kerap berbicara soal ketidaksetaraan gender, perubahan iklim, hak hewan, hingga masalah rasisme. Contohnya, ketika Phoenix menerima penghargaan sebagai aktor terbaik dalam ajang British Academy Film Awards pada 2 Februari 2020. Ucapannya bikin merinding.

“Saya merasakan dilema, karena tak semua teman sesama aktor mendapatkan perlakuan istimewa, yang seharusnya bisa mereka peroleh,” katanya. “Saya pikir, kita memberikan pesan yang gamblang kepada aktor kulit berwarna yang telah berkontribusi banyak kepada dunia dan industri seni, bahwa mereka tidak diterima di sini. Padahal, kita semua memperoleh keuntungan dari kontribusi mereka.”

Phoenix juga meminta maaf, karena dia merasa berkontribusi dan menjadi bagian dari polemik rasisme. Pun, dia merasa tak melakukan banyak hal – dengan kekuatan yang ia miliki – untuk mengubah kondisi tersebut.

Tahun ini, nominasi BAFTA memang banyak dikritik oleh para pekerja seni. Tak hanya tentang para nominasi yang didominasi oleh pekerja seni berkulit putih, tapi juga tentang dominasi laki-laki di banyak kategori. Hal itu disinggung oleh Rebel Wilson saat membacakan nominasi untuk sutradara terbaik, dimana tak ada satu pun sutradara perempuan yang masuk nominasi.

Baca juga: Yang Luput dari Fenomena Joker soal Standar Orang Baik dan Orang Jahat

Wilson bilang, “…saya merasa kalau saya tak mungkin bisa mengerjakan apa yang mereka bisa kerjakan. Karena sejujurnya, saya tidak mempunyai nyali.”

Duh, jadi ingat kata-kata Claire Goldstein. “…segala sesuatu tentang gender itu, dimulai, sejak saya terlahir dengan vagina.”

Sementara itu, dalam ajang Academy Awards atau Oscar pada 10 Februari 2020, Natalie Portman bahkan ‘berkampanye’ tentang kesetaraan gender lewat gaunnya. Sedangkan Sigourney Weaver, Gal Gadot, dan Brie Larson speak up langsung lewat guyonan sarkas di atas panggung.

Balik lagi soal Joaquin Phoenix, terutama soal masalah rasial, yang masih sangat relevan dengan keadaan masyarakat kita. Kalau di Hollywood, ada istilah whitewashing. Seperti yang terjadi belum lama ini, saat Julia Roberts hendak dijadikan lead actress di film Harriet yang bercerita tentang kehidupan Harriet Tubman, seorang pejuang kemanusiaan berkulit hitam.

Hal itu sempat menjadi kontroversi, karena tak sesuai dengan sosok Tubman. Pada akhirnya, peran tersebut digantikan oleh Cynthia Erivo dan berhasil masuk nominasi aktris terbaik di perhelatan Golden Globe, BAFTA, maupun Oscar.

Baca juga: Ketika Film-film Berkelas tentang Perjuangan Kelas Jadi Sebuah Komoditas

Sebenarnya whitewashing ini bukan pertama kali terjadi dalam industri perfilman Hollywood. Jauh sebelumnya, Angelina Jolie sempat menjadi perbincangan khalayak atas perannya sebagai Mariane Pearl di film A Mighty Heart. Film yang berkisah tentang kehidupan Mariane Pearl di tengah kecamuk perang di Timur Tengah ini menjadi perbincangan karena Pearl adalah seorang berdarah campuran. Ayahnya berdarah Belanda, sedangkan ibunya campuran Afrika-China-Kuba.

Meskipun Pearl sendiri merestui Jolie memerankan dirinya di film, banyak kritikus menganggap bahwa Michael Winterbottom, sang sutradara, terlalu memaksakan diri dengan menjadikan Jolie sebagai Pearl.

Tak hanya Angelina Jolie, masih ada lagi sederet kasus whitewash lainnya, seperti Scarlett Johansson atas perannya di Ghost in the Shell yang merupakan film adaptasi dari manga Jepang. Atau, Johnny Depp sebagai seorang Comanche, suku Indian, di film The Lone Ranger. Lalu, Tilda Swinton yang berperan sebagai The Ancient One di film Doctor Strange. Padahal, dalam komiknya, The Ancient One adalah seorang berdarah Asia.

Perkara rasial ini tampaknya bukan hal yang mudah dihilangkan begitu saja. Bahkan, di industri film, yang seharusnya bisa menjadi ajang kampanye say no to racism. Karena jelas, penikmat film tak terbatas pada kalangan atau daerah tertentu saja, melainkan bersifat global. Bisa ditonton oleh siapa pun, di mana saja dan kapan saja.

Baca juga: Tak Harus Putih, Saya Hitam dan Itu Baik-baik Saja

Whitewashing bukan cuma menghapus banyak pesan seperti kenyataan bahwa banyak tokoh di dunia ini yang berjasa – tak melulu orang berkulit putih – , tapi juga melanggengkan superioritas.

Makanya, salut untuk Joaquin Phoenix yang menyatakan perang melawan ketidakadilan, termasuk masalah rasial, saat menerima penghargaan sebagai aktor terbaik dalam perhelatan Oscar 2020.

”Di sini, kita berbicara tentang perjuangan melawan kepercayaan bahwa hanya satu negara, satu ras, satu gender, satu spesies punya hak untuk mendominasi, memanfaatkan, dan mengontrol semau mereka sendiri.”

Di zaman sekarang, ketika pola pikir masyarakat seharusnya lebih terbuka, masih ada saja yang rasis. Kuno, tapi nyatanya begitu. Apalagi, gara-gara Virus Corona, demam xenofobia di mana-mana.

Gelombang penolakan terhadap warga negara China terjadi di banyak tempat, meski alasannya absurd. Di Italia, ada restoran yang sepi pengunjung setelah kasus Corona merebak. Alasannya hanya karena pemiliknya adalah orang ‘China’. Padahal, Veronica Li – si pemilik restoran tersebut – sudah menetap di Italia selama 21 tahun. Mirisnya, bukan hanya restorannya saja yang sepi, anaknya juga mogok sekolah gara-gara menjadi korban bullying teman-temannya.

Padahal, mereka menetap di situ sudah tahunan. Kecuali, mereka baru saja tiba dari Wuhan, China, mungkin lain perkara.

Artikel populer: Dua Tiga Tutup Botol, Dunia Kita kok Konyolnya Pol?!

Di Indonesia, gelombang xenofobia juga parah. Hujatan demi hujatan dilayangkan oleh nitizen kita. Tersebar dan merata di hampir semua berita tentang Virus Corona. Bahkan, ada yang terang-terangan menyebut wabah ini sebagai azab akibat perlakuan Pemerintah China terhadap Suku Uighur. Kemudian, sampai merembet ke masalah smartphone segala, gara-gara ada hoaks yang menyebutkan bahwa Virus Corona bisa menyebar lewat smartphone buatan China. Memangnya virus komputer?

Seharusnya kita bisa menunjukkan empati yang lebih atas kasus ini, bukannya malah melontarkan hujatan. Kemudahan teknologi malah disalahgunakan oleh sebagian dari kita untuk menyebar kebencian yang berujung rasis.

Padahal, saat negara kita mengalami bencana, entah gempa, tsunami, banjir, gunung meletus, atau kebakaran hutan, bantuan selalu datang dari mana saja. Tanpa pamrih, tanpa hujatan atau cacian. Masyarakat dari belahan bumi mana pun ikut mengulurkan tangan. Tak ada embel-embel agama ataupun suku bangsa. Semua bergerak dengan tujuan yang sama: kemanusiaan.

Memangnya di mana gambaran masyarakat kita yang katanya ramah dan gemar bergotong-royong?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini