Ilustrasi kritik. (Photo by Ahsan RK from Pexels)

Pada suatu perjalanan pulang usai meliput kampanye di kota kami, saya dan seorang teman terlibat perbincangan panjang. Pada akhirnya, kami bersepakat pada kesimpulan yang sama: menjadi seorang pejabat publik mesti bermuka dua tebal.

Pemicu obrolan kami adalah wajah cemberut seorang calon kepala daerah tatkala mendengar pertanyaan sekaligus komentar sinis tentang hasil kerjanya selama menjadi wakil rakyat. Laiknya seseorang yang tak menduga bakal dapat serangan, ia gelagapan, seketika penderitaan begitu kentara tergambar di wajahnya. Tak seperti yang ia lakukan kepada penanya sebelumnya, perhatiannya kini dicurahkan pada telepon genggamnya.

Padahal, penderitaan itu tak ada seujung kuku dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Masyhudul Haq, diplomat besar Indonesia yang kita kenal dengan nama Haji Agus Salim.

Jef Last, seorang wartawan asal Belanda pernah berkisah, dalam sebuah pertemuan, ketika Agus Salim sedang menyampaikan pidatonya, pada setiap akhir kalimatnya muncul sahutan “mbeek… mbeek… mbeek” dari para pemuda. Sahutan itu tak lain dan tak bukan untuk mengejek janggut Agus Salim yang dianggap mirip kambing.

Lantas, apa yang dilakukan pria kelahiran 8 Oktober 1884 itu? Tentu saja, ia tak menggerutu atau cemberut. Kendati, misalnya, pada zaman itu sudah ada ponsel, saya yakin ia tak akan pura-pura mengambilnya dengan alasan ada pesan masuk.

Baca juga: Pejabat Bebas Bercanda, Warga Biasa Kena Perkara

Dengan begitu telengas, ia menjawab cemoohan itu, “Tunggu sebentar. Sungguh menyenangkan, kambing-kambing pun mendatangi ruangan ini untuk mendengar pidato saya. Sayang, mereka kurang mengerti bahasa manusia, sehingga menyela dengan cara kurang pantas.”

Para pemuda terdiam dan ia melanjutkan. “Saya sarankan kepada mereka agar keluar ruangan sekadar makan rumput di lapangan. Kalau pidato saya untuk manusia ini selesai, mereka akan disilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing untuk mereka,” tukasnya, seperti dikutip dari buku Membongkar Manipulasi Sejarah (2009) karya Asvi Warman Adam.

Jika adegan tersebut terjadi pada era sekarang, kemungkinan besar akan ada videonya dan viral di media sosial dengan caption: Siappp bang jagoo!!

Dalam sepakbola, serangan balik kerapkali menjadi fragmen yang orgasmik. Serangan balik begitu mempesona, kata Zen RS, karena mendemonstrasikan upaya bertahan hidup yang dilakukan secara cepat dan tak terduga. Apa yang dilakukan oleh Agus Salim serupa dengan kondisi tersebut.

Bayangkan saja, bagi sebagian orang, berada di podium untuk menyampaikan pidato saja sudah merupakan kondisi yang menggetarkan nyali, apalagi ditambah dengan olok-olokan semacam itu. Perlu kelincahan otak serta ketenangan yang luar biasa agar bisa mengelak dari serangan seperti itu.

Baca juga: Nonton Drakor Kingdom tentang Politik di Tengah Wabah, Cocok Banget nih!

Jika diledek mirip kambing saja Agus Salim bisa menangkis dengan begitu elegan, apalagi, misalnya, hanya dikatain sebagai tukang obat? Tentu mantan menteri luar negeri ini tak akan membalasnya dengan cara cengengesan.

Lagi pula, tindakan Agus Salim ini berangkat dari mentalnya yang memang teruji. Jangankan omongan khas Lambe Turah, pahitnya kehidupan saja ia telan sehari-hari dengan tabah dan keras kepala. Dalam catatan hariannya, Perdana Menteri Belanda era 1945-1946, Prof. Schermerhorn mengakui kejeniusan Agus Salim. Orang tua yang sangat pandai ini, kata Schermerhorn, seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam, paling sedikit, sembilan bahasa.

“(Ia) hanya mempunyai satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat,” tulis Schermerhorn.

Menjadi intelektual unggulan tak lantas membuatnya hidup mewah. Sebaliknya, Agus Salim tinggal di rumah sederhana yang atapnya bocor sana-sini. Jalan menuju rumah kontrakannya itu pun serupa dengan hidupnya: penuh gejolak alias berlubang dan berlumpur.

Tak mengherankan, ketika menyambangi rumah anggota Dewan Rakyat atau Volksraad (1922-1925) dan pengurus inti Sarekat Islam itu, Kasman Singodimedjo – saat itu ia bersama Mohammad Roem – mendapat ilham bahwa memimpin adalah menderita (leiden is lijden).

Baca juga: Setelah Kursi Kosong, Inilah Daftar Kekosongan yang Mesti Diwawancarai Najwa Shihab

Terlepas dari makmurnya pemimpin di era sekarang, menjadi pejabat publik di alam demokrasi memang semestinya mafhum atas penderitaan, paling minimal mampu menahan derita yang berasal dari kritikan. Laiknya pesepakbola yang gagal mengeksekusi pinalti, seorang pejabat mula-mula memang harus tahu risiko apa yang terjadi jika kerjanya tak becus.

Sebab itu, alangkah anehnya ketika orang-orang memprotes tindakan Najwa Shihab saat mewawancarai kursi kosong yang seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan dr. Terawan Agus Putranto. Menurut mereka, adegan tersebut adalah bentuk dari perundungan. Padahal, sengatan itu adalah risiko menjadi seorang petinggi negara yang keputusannya berdampak terhadap ratusan juta orang. Betapa berbahayanya jika kritikan atau tuntutan atas penjelasan dari seorang menteri malah sengaja dianggap sebagai perundungan.

Meskipun bukan seorang pejabat, Muhidin M. Dahlan pernah menunjukkan bagaimana keselarasan antara nyali, tanggung jawab, dan tindakan. Sekali waktu, ia harus memenuhi sejumlah undangan dari orang-orang yang jelas membencinya. Ia mesti berbicara, tepatnya membacakan pleidoi, di hadapan ratusan orang yang menganggapnya telah menistakan agama. Tuduhan itu bermula dari novelnya yang berjudul “Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur”.

Muhidin bisa saja menolak undangan itu dan bersembunyi di balik ungkapan “pengarang telah mati ketika karyanya terbit”, tapi nyatanya ia tetap datang dan berupaya mempertanggung jawabkan karyanya semampu yang ia bisa.

Artikel populer: Jika Elite Politik Jadi Peserta MasterChef Indonesia

Bicara tentang kesediaan dikritik hingga kuping mendidih membuat saya teringat seorang teman yang mengaku terheran-heran ketika menyaksikan gegap gempita sebagian masyarakat Amerika Serikat tatkala Donald Trump kalah dalam pemilihan presiden beberapa waktu lalu. Ia menyaksikan pelbagai unggahan warganet Negeri Paman Sam itu yang mengolok-olok mantan presiden mereka sendiri.

Ia tak habis pikir ketika melihat ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan Trump tersedot WC, bokongnya ditendang, hingga gambar yang menunjukkan dari mulutnya keluar kotoran. Bahkan, hasil pencarian kata kunci “loser” di Twitter pun menampilkan akun Trump di deretan teratas. “Coba bayangkan yang seperti itu terjadi di Indonesia sekarang,” katanya. “Ya, jangan dibayangkan,” timpal saya.

Sulit membayangkan yang seperti itu terjadi di Indonesia ketika data dari SAFEnet menyebutkan, pada 2019, terdapat 3.100 kasus yang terkait dengan pasal-pasal dalam UU ITE. Dikutip dari Tirto, sebesar 35,92% yang melaporkan kasus ITE justru adalah pejabat negara.

Jangan jadi pemimpin yang malah nyusahin orang banyak hanya karena ngambek ketika dikritik. Menjadi pejabat publik mesti memiliki mental yang teruji. Pra-syarat utamanya adalah tak mudah terbawa perasaan. Sebab itu tadi, leiden is lijden, pemimpin itu menderita. Itu kata kuncinya.

1 KOMENTAR

  1. well, masalahnya lagi-lagi UUITE ya. Kalau kata Karni Ilyas sih, mengejek atau mencemooh atau menuduh seseorang sebenarnya penting untuk disampaikan demi kepentingan publik. Misalnya saya terindikasi pembohong di antara teman-teman saya, lantas ada yang nyeletuk, “Riyanto itu tukang ngibul!” maka omongan orang itu memang harus disampaikan agar publik tau. Di ranah itulah media massa bergerak dan ada dewan pers yang menaunginya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini