Ilustrasi.

“Hari ini, berterima kasihlah pada mereka yang telah memperlakukanmu dengan salah. Mereka tanpa sadar menjadikan kamu kuat, tidak mudah patah,” tulis seorang praktisi media.

Kalau dalam Bahasa Inggris, kalimat populernya mungkin seperti ini, “Thank you for hurting me, for you have made me stronger.”

Kalimat di atas seperti usaha untuk menghibur diri sendiri, meskipun telah disakiti. Ya, usaha untuk berdamai dengan diri sendiri dan realitas hidup sambil tetap berpikir positif. Mirip dengan orang-orang yang berusaha menghibur saat kita jatuh:

“Seenggaknya elo masih selamat, masih hidup.”

“Untung dia nggak sampe membunuh elo.”

“Tenang, elo masih punya banyak hal baik lainnya yang patut lo syukuri.”

Dan, masih banyak lagi.

Baca juga: Tren Baru yang Bikin Orang Terjebak dalam ‘Toxic Positivity’

Tentu banyak orang yang mengamini pernyataan-pernyataan tersebut. Cuma, kalau dipikir-pikir lagi, ini termasuk bentuk toxic positivity. Oh, boleh saja kalau memang tidak sepakat. Kata-kata dalam toxic positivity sekilas memang terdengar manis.

Misalnya, ada yang ngomong, “Sudah, ambil hikmahnya saja.” Coba ucapkan itu kepada mereka yang masih trauma karena pernah menjadi korban kekerasan, terutama kekerasan seksual. Memang, apa hikmah yang bisa mereka ambil dari peristiwa nahas tersebut? Bahwa sekarang mereka tahu kalau dunia penuh orang-orang jahat dan mereka tidak bisa percaya semua orang? Bahwa mereka lain kali harus berhati-hati agar tidak menjadi korban lagi? Lah, jatuhnya malah victim blaming lagi dong, alias menyalahkan korban.

Baca juga: Pacar Kamu Gagah? Perkasa? ‘Toxic Masculinity’ Nggak?

Pernyataan-pernyataan tadi juga secara tidak langsung menginvalidasi perasaan mereka yang pernah menjadi korban dan layak menuntut keadilan. Seakan-akan mereka tidak punya hak untuk merasa sakit hati dan dirugikan. Mereka hanya terus dituntut untuk bersabar dan menerima, bahkan sebisa mungkin memaafkan.

Pada kenyataannya, siapa yang mau disakiti oleh orang lain? Rugi. Bahkan bisa jadi orang-orang yang mengamini pernyataan tadi belum pernah mengalami kemalangan yang kemungkinan besar bakal bikin orang-orang tersebut mempertimbangkan ulang cara pandang seperti itu.

Lagi pula, apa faedahnya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang pernah menyakiti kita? Yang ada malah bukan membuat kita terkesan tangguh, tapi justru menyindir penuh kepahitan.

Iya kalau mereka tersindir. Bagaimana kalau mereka malah kesenangan, lalu merasa bahwa selama ini yang telah mereka lakukan itu adalah demi kebaikan kita? Enak di mereka, dong. Kita yang sudah dirugikan, eh… mereka yang dapat penghargaan karena secara tidak langsung katanya telah menjadikan kita lebih kuat.

Dengan kata lain, pelaku malah nggak akan merasa berdosa karena sudah menyakiti orang lain. Pelaku jadi merasa berjasa. Lah?!

Baca juga: Cek, Orang Lain yang Baperan atau Guyonanmu yang Toksik?

Kemudian, jangan heran kalau pernyataan-pernyataan semacam di atas tadi telah memunculkan orang-orang yang kemudian menyombongkan diri sebagai sosok paling tangguh. Merekalah yang sesumbar dengan pernyataan semacam ini: “Dulu bokap suka gampar gue sampe babak belur, gue baik-baik aja. Gak perlu lapor polisi segala, apalagi sampai sok bawa-bawa HAM. Anak sekarang mah, manja-manja!”

Hah, jadi korban kekerasan kok malah bangga? Kalau kemudian membandingkan diri mereka dengan orang lain yang mereka rendahkan, itu sih kebanggaan yang semu. Padahal, cukup mengaku saja kalau sebenarnya mereka iri dengan anak-anak sekarang yang menurut mereka hidupnya lebih enak, nggak susah, pahit, dan suram kayak mereka dulu.

Artikel populer: Dear Laki-laki yang Merasa Keki sama Aktor dan Idol Korea

Saking irinya, mereka nggak terima dan merasa bahwa anak-anak sekarang juga harus merasakan susahnya mereka dulu. Loh, kok jadi balas dendam? Salah sasaran pula!

Gini ya, ketika berhasil keluar dari masalah atau situasi negatif lainnya, seharusnya bukan pelaku yang layak diberikan ucapan terima kasih. Orang paling pertama yang harus mendapat ucapan terima kasih adalah diri sendiri, karena telah bertahan dan membebaskan diri dari mereka yang pernah menyakiti.

Setelah itu, berterima kasihlah kepada semua orang yang selalu mendukung kita untuk segera bangkit dari keterpurukan. Merekalah yang justru paling berhak untuk itu. Bukan malah terima kasih sama pelaku. Aneh banget…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini