Ilustrasi. (Image by Piyapong Saydaung from Pixabay)

Tayangan televisi sempat diramaikan dengan kabar perseteruan duo sahabat penyanyi dan aktris. Sebabnya rekaman suara mbak penyanyi yang sedang menjelek-jelekkan mbak aktris sampai di telinga sahabatnya itu. Mbak penyanyi mengelak tuduhan “menusuk sahabat dari belakang” karena menurutnya rekaman itu diambil saat dirinya sedang berbincang dengan ibunya.

“Kira-kira kalau lagi ngobrol sama orang tua sendiri itu ngomongin orang apa nggak?” katanya melalui akun media sosial.

“Tentu iya,” jawab netizen. Membicarakan orang yang tidak ada, sekalipun dengan orang tua sendiri termasuk ngomongin orang alias bergosip. Kecuali apa yang kalian gosipkan tersebar, faktanya orang tua adalah teman bergosip yang asik. Meskipun memiliki orang tua demikian adalah sebentuk relationship goals sebab tidak semua anak cukup dekat dengan orang tuanya untuk bisa bergosip bersama.

Aktivitas bergosip menunjukkan relasi seseorang dengan lainnya. Untuk bisa bergosip, seseorang harus memiliki kedekatan dan kepercayaan psikologis dalam berbagi pengalaman dan perasaan tentang sesuatu. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bagaimana bergosip bisa menguatkan ikatan dan kedekatan dalam sebuah hubungan.

Baca juga: Kalau Ibu adalah Sekolah Pertama, Berarti Ada Sekolah Kedua, Ketiga, dan Seterusnya

Sekalipun kerap dinilai negatif, sebenarnya gosip bisa berbentuk netral atau bahkan positif. Faktanya sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science pada 2019 menunjukkan bahwa tiga perempat porsi gosip yang dilakukan sehari-hari rata-rata bernada netral. Mereka hanya saling berbagi kabar tentang orang lain tanpa memberi penilaian.

Selain itu, aktivitas bergosip dengan orang tua secara psikologis memberi efek positif dalam hubungan anak-orang tua. Istilahnya membangun mutually responsive bound. Kata kuncinya: responsif. Karena bergosip hanya akan terlaksana jika ada respons. Kecuali, itu adalah monolog gosip alias narasi acara infotainment.

Bagi orang tua, aktivitas mengobrol santai dengan anak seperti bergosip bisa melatih moral love yang memungkinkan mereka menurunkan ego sebagai pihak yang lebih superior. Mereka akan membiarkan diri menjadi setara dengan anak untuk sama-sama memberi atau diberi pengaruh. Hal ini wajar belaka karena pergosipan yang menyenangkan hanya bisa dilakukan dua pihak setara, sebab itu bukanlah perkuliahan dosen-mahasiswa atau ceramah ustazah-jamaah.

Menurut riset Prof Grazyna Kochanska dari University of Iowa, pola komunikasi demikian juga akan melahirkan anak-anak yang bahagia, karena tidak lagi perlu menyembunyikan banyak hal dari orang tuanya. Sebab sering kali tuntutan orang tua terhadap anak bermula dari ketidaktahuan mereka mengenai keadaan anak sebenarnya.

Baca juga: Doraemon sebagai Kritik kepada Orang Tua

Dalam salah satu drama Korea populer, True Beauty, diceritakan hubungan tokoh utama dan ibunya yang tidak hangat. Ibunda Ju-kyung terus memarahi putrinya karena dianggap hanya mementingkan riasan wajah daripada sekolah. Dia bahkan diam-diam membuang semua koleksi riasan itu dan membuat anaknya menangis (yang menurutnya tentu berlebihan). Hingga suatu hari, ibu Ju-kyung mendapati fakta perundungan anaknya di sekolah karena dianggap jelek.

Melihat rekaman perundungan Ju-kyung oleh teman-temannya, ibu Ju-kyung berubah 180 derajat menjadi manusia yang paling mendukung anaknya merias diri. Dia tidak lagi mencemooh ketertarikan Ju-kyung pada make up, bahkan mulai membuka diri untuk mendukung keseriusan anaknya mempelajari hal itu secara akademik. Belakangan diketahui ketakutan si ibu terhadap ‘obsesi make up Ju-kyung’ berasal dari pengalamannya sebagai pemilik salon yang merasa industri kecantikan tidak bisa memberi jaminan kesejahteraan.

Pemahaman demikian hanya bisa tercapai jika ada perbincangan intim. Tidak sedikit pula yang telah membuktikan adanya perubahan kualitas hubungan anak dan orang tua ketika orang tua telah mengetahui masalah anak-anak mereka sebenarnya. Tapi, bagaimana jika masalah anak-anak itu adalah orang tua mereka sendiri?

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Faktanya, tidak semua anak bisa mengobrol santai dengan orang tua mereka. Menurut data dari Wahana Visi Indonesia (Mei 2020), sebanyak 49,2 juta jiwa atau sekitar 62% anak Indonesia justru tercatat mengalami kekerasan verbal selama pandemi Covid-19. Dan, perbincangan beracun dengan orang tua adalah salah satu sumbangsih besar terhadap angka-angka itu.

Maka jangankan menggosipkan tetangga, sejumlah anak justru harus bertahan dibanding-bandingkan dengan anak tetangga. Jangankan mendapat penguatan, sejumlah anak justru harus bersabar ketika masalahnya diremehkan oleh orang tua sendiri.

Sesi ‘bergosip dengan orang tua’ yang harusnya menyenangkan itu pun menjelma sebagai mimpi buruk. Bahkan tidak sedikit yang berakhir sebagai pengalaman kekerasan traumatis. Sebaliknya, bisa berbincang, lebih-lebih bergosip santai dengan orang tua, adalah sebuah keistimewaan atau privilese hari ini. Maya Angelou, aktivis perempuan progresif dari Amerika, mengajarkan pada kita bagaimana merayakan privilese itu dengan bijaksana.

Penulis Mom & Me & Mom – autobiografi populer tentang relasi ibu-anak – itu tentu bisa memahami kenyamanan dan kebahagiaan yang didapat saat bergosip dengan orang tua. Sebelumnya Maya pernah ditelantarkan sang ibu sebelum akhirnya mereka berkonsiliasi dan saling menguatkan sebagai sesama orang tua tunggal.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Bisa menjalani hari-hari sambil bergosip dengan orang tua seputar permasalahan rumah tangga pastilah membahagiakan. Apalagi, jika ada yang lebih menderita atau lebih berantakan hidupnya, tentu akan menjadi ‘obat penyembuh kesedihan’ ketika kita bisa mengomentari dan membicarakannya di belakang bersama orang tua atau sahabat dekat. Bukankah kesedihan orang lain sering kali menjadi kebahagiaan bagi yang lainnya?

Namun, Maya Angelou justru dikenal sangat menghindari pergosipan beracun seperti itu. Dalam sebuah perjamuan makan terkenal, Maya terekam bangkit dari kursinya saat perempuan-perempuan di meja itu mulai menjelek-jelekkan seseorang yang tidak hadir. Tidak hanya berdiri, Maya juga mengingatkan para perempuan dan tamu undangan lain di ruangan itu untuk berhenti bergosip. Sungguh tindakan yang berani dan langka.

Di masa-masa sulit ketika kabar buruk orang lain menjadi penawar kondisi buruk kita, rasanya tentu sulit meneladani Maya Angelou yang menolak menggosipkan orang lain tidak peduli seberapa banyak kebahagiaan yang bisa didapatkan dengannya. Tetapi, bukankah akan lebih sakit jika hal yang sama justru terjadi pada kita? Maka, mari akhiri kebahagiaan berbahaya itu.

Toh, sebenarnya kita memang tidak perlu membicarakan pilihan hidup orang lain yang tidak kita ketahui betul perjalanan di balik setiap keputusannya. Pun, jika orang itu adalah sahabat kita. Atau, gosip itu dilakukan dengan orang tua kita sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini