Karena Prostitusi Bukan Hanya tentang Perempuan

Karena Prostitusi Bukan Hanya tentang Perempuan

Ilustrasi perempuan (Gribouille334700 via Pixabay)

Seorang kawan berkomentar enteng tentang kasus prostitusi online yang menyeret nama artis VA. Dia bilang, “Masih mendinglah dia dibayar Rp 80 juta sekali main. Ketimbang kalian, sudah tiap hari capek nyuci bajunya, masak, urus rumah, melahirkan anaknya, paling mentok dijatah Rp 2 juta sebulan, berarti kalau ‘main’ dihitung gratis dong.”

Makk… Rasanya mau nimpuk pake ulekan ke laki-laki yang ngomong begitu. Kok kayak nggak ada saringannya, apalagi dia juga punya anak dan istri. Berarti selama ini dia anggap istrinya apa, coba?

Perkara prostitusi online yang melibatkan artis sebetulnya bukan hal baru. Komodifikasi dalam dunia hiburan bikin biaya menjalani profesi ini jadi tinggi. Kudu jaga penampilan lah, mengingat tiap hari saingan tambah banyak. Belum lagi gaya hidup dan pernak-perniknya.

Baca juga: Tontonan Erotis yang Tak Pernah Habis

Kalau lagi sepi job syuting, terus nggak punya usaha sampingan yang menjanjikan, bisnis esek-esek kerap menjadi jalan pintas untuk mendulang uang. Perkara klien mah nggak sulit-sulit amat, biasanya dari kalangan pengusaha atau pejabat. Asal tahu jaringannya aja.

Jadi, nggak perlu heboh duit Rp 80 juta bisa dapet apa, orang missqueen kayak kita mana paham? Yah, kalau pakai duit sendiri sih mending, lha kalau pakai duit rakyat?

Motif para pelanggan jasa prostitusi artis bukanlah sekadar urusan seks, melainkan jadi semacam gengsi, kebanggaan, dan power. Tapi giliran dibongkar, ngacir semua. Kalaupun identitas mereka ‘dibuka’, tetap saja samar-samar. Ya begitulah dunia patriarki.

Sementara, VA maupun AS habis-habisan diekspos. Semua mata tertuju kepadanya, seolah menjadi objek yang paling pantas diulik-ulik, bahkan cenderung dihakimi. Tak hanya oleh media, bahkan kita pun secara sadar atau tidak turut andil. Setidaknya melalui guyonan-guyonan seksis.

Lagi-lagi, selalu perempuan yang disudutkan.

Baca juga: Perempuan Berpakaian Mini Adalah Penebar Teror Dosa, Ah Masa?

Dulu, jaman saya masih imut dan bekerja di suatu perusahaan, seringkali ikut rapat dengan bos-bos. Tak jarang, mereka bergosip tentang beberapa perempuan yang jadi langganan mereka. Yang artis lah, mahasiswa, hingga pelajar. Dibahas pula soal tarif dan durasinya.

Objektifikasi atau memperlakukan perempuan layaknya barang ini seakan hal lumrah. Bahkan, tampak menjadi lelucon yang sebetulnya nggak ada lucu-lucunya. Dalam kasus VA juga sama, lihatlah bagaimana teman-teman kita di media sosial berusaha melucu dalam menyikapi kasus ini, seolah mereka lah manusia paling suci?

Kini, VA terpaksa harus menanggung ‘hukuman’ ini sendirian, meski sudah dilepas polisi. Identitasnya kadung diketahui publik. Sementara, pengusaha R bebas dari hukum karena tak ada pasal yang menjerat pelanggan. Publik pun tak tahu persis siapa dia atau mungkin tak mau tahu juga.

Baca juga: Kamu Bercandanya Seksis dan Itu Nggak Ada Lucu-lucunya

Apakah ini yang namanya keadilan? Apakah begini amat masyarakat kita, cenderung menimbang berat sebelah terutama kepada perempuan? Belum lagi ejekan dan sumpah serapah. Berbeda dengan si pelanggan jasa prostitusi yang justru terkesan menuai ‘pujian’. Gile, itu orang tajir juga, ya?

Masyarakat kita seharusnya jangan mengabaikan fakta bahwa para pelanggan juga menjadi kunci dari bisnis esek-esek. Kalaupun kita harus mengikuti logika bisnis nih, permintaan dan penawaran kan saling berelasi. Masa, giliran melanggar lantas menihilkan sisi permintaan, kan aneh.

Apa namanya itu, kalau bukan pecundang? Lha, kamu pikir lelaki yang semakin banyak meniduri perempuan adalah lelaki perkasa, gitu?

Itulah mengapa fenomena ini tak adil bagi perempuan, termasuk mereka yang menjadi pekerja seks. Mereka dihujat habis-habisan, termasuk oleh sesama perempuan. Bahkan, tak jarang, kalau ada suami yang ketahuan menyewa jasa prostitusi, tetap saja suaminya yang dibela.

Artikel populer: Nissa Sabyan dan Nashwa Zahira dalam Tatapan Mata Lelaki

Sementara, perempuan pekerja seks dianggap sampah masyarakat. Ayolah sayangku, apa kabar itu koruptor duit rakyat? Mereka jelas melacurkan jabatannya. Ulah mereka merugikan banyak orang, termasuk kita, lho.

Sekarang, ada yang tahu berapa banyak mantan narapidana korupsi yang jadi calon legislatif (caleg)? Ayo berapa? Lalu, partai mana yang paling banyak mengusung napi korupsi sebagai caleg?

Ada 38 mantan napi korupsi yang lolos jadi caleg, sementara sebanyak 13 dari 16 parpol peserta pemilu tetap mengusung eks koruptor. Coba cek dulu, jangan-jangan itu partai dan caleg pilihanmu.

Lantas, apa sikap kita kepada mereka yang sudah melacurkan kepercayaan kita, demi untuk memperkaya dirinya sendiri maupun konco-konconya itu?

Hmmm… Hmmm…

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.