Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

Ilustrasi (Photo by Joanna Nix on Unsplash)

Saya pikir sebanyak 2.073 kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) selama 2018 dan 1.750 kasus yang ditangani institusi pemerintahan bukan hal sepele. Ribuan kasus itu juga bukan sekadar susunan angka-angka tanpa ada hikmah di baliknya. Pun, bukan sebatas bahan untuk menakut-nakuti para ukhti di seminar profit oriented.

Namun, sialnya, tak sedikit pula pihak yang seolah-olah menawarkan solusi imajiner yang basis argumentasinya datang dari langit.

Beberapa waktu lalu, saya coba tanyakan perihal bagaimana cara menyudahi kasus toxic relationship ini kepada dua orang sahabat. Pertama, seorang laki-laki 24 tahun, berafiliasi ideologis dengan ormas keagamaan yang dilarang di Indonesia. Baginya, tak ada sedikit pun kebaikan dalam pacaran dan cara menyudahinya adalah menghapus cara pandang pacaran dari kamus fase kehidupan anak muda.

Sahabat yang kedua adalah seorang perempuan 23 tahun, tidak berafiliasi dengan organisasi apapun. Namun, ia mengkalim dirinya suka membaca buku-buku sejarah pergerakan perempuan. Bagi dia, pacaran bukanlah musuh sesungguhnya dan tidak semua relasi dalam pacaran itu membuahkan kekerasan, selama di dalamnya tumbuh dan hidup rasa ‘kesadaran’.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Kita akan membahas jawaban yang kedua daripada membeberkan argumentasi sahabat saya yang laki-laki – yang berkeras bahwa apapun masalahnya, solusinya adalah khilafah. Lagipula, kalau sudah mutlak-mutlakan begitu, tak akan ada diskusi yang menggunakan akal sehat, bukan?

Nah, kalau kita mendengar sekilas kata ‘kesadaran’, tentu itu kata yang sangat sederhana. Namun, kata tersebut bisa menjadi ratusan halaman, jika seorang psikolog yang mendedahnya.

Dalam pacaran, ‘kesadaran’ agaknya menjadi satu hal yang kadang luput dari perhatian dua anak manusia yang sedang memadu kasih. Maksud ‘kesadaran’ di sini bukan sadar atau tidak sadar gimana-gimana lho ya, melainkan suatu hal yang terkait dengan ego.

Tanpa ‘kesadaran’ ini, pertikaian kecil bisa menjadi tak terselesaikan, lalu berujung pada kekerasan verbal atau bahkan fisik.

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Jangan tanyakan siapa pelakunya, tentu laki-laki masih juaranya. Perasaan menjadi superior, merasa menjadi ‘si pemilik perempuan’, dan arogansi atas maskulinitas sering menjadi kondisi kejiwaan di belakangnya. Tapi, jangan terburu-buru mengatribusi bahwa setiap laki-laki pasti patriarki. Sebab, patriarki itu relasi sosial yang ditopang oleh kekuasaan yang hegemonik.

Menjalin relasi dalam pacaran dengan penuh kesadaran memang tidak mudah. Jalinan kesadaran antar pasangan yang hidup dan tumbuh berarti juga menghilangkan perbudakan atas nama apapun di dalamnya.

Celakanya, slogan ‘Budak Cinta’ alias ‘Bucin’ sampai saat ini masih menjadi guyonan. Padahal, dalam berpacaran yang penuh kesadaran, mestinya slogan receh semacam itu sudah terkubur dalam-dalam. Sumpah, itu kata nggak ada lucu-lucunya.

Hidup dan tumbuhnya kesadaran dalam relasi kasih anak manusia sejatinya adalah bentuk lain dari membangun relasi yang ideologis. Kalau kata Karl Marx, yang mana di antara keduanya tidak lagi diselimuti kesadaran-kesadaran palsu yang bisa menyebabkan terjadinya perbudakan.

Baca juga: Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

Mengamini perbudakan dan kekerasan dalam pacaran berarti membangun kesadaran palsu. Jadi, dalam relasi pacaran sebenarnya ada semacam pertemuan ideologi. Jika keduanya saling berupaya menguasai, alhasil semacam ada pertarungan ideologi. Jangan kaget kalau ternyata ideologi sampai ke ruang pacaran Anda. Udah, udah, udah?

Kesadaran tidak datang secara tiba-tiba dari langit tanpa melalui proses historis. Kesadaran menyertakan akal budi dan rasionalitas.

Sementara, adanya pertarungan ideologi dalam pacaran berarti ada upaya untuk mendominasi dalam relasi yang sedang dijalin. Ideologi di sini berarti upaya memengaruhi cara pikir, usaha mengarahkan cara menilai, dan ikhtiar mengarahkan pada suatu tindakan tertentu.

Sekarang, coba tanyakan pada diri Anda. Apakah relasimu dengan pasanganmu memenuhi ketiganya? Tentunya, iya.

Setiap lelaki bakalan mikir keras kalau pasangannya terlampau sering ngasih jawaban ‘terserah’ atau ‘aku ikut kamu aja’ waktu ditanya mau nongkrong di mana enaknya. Begitu juga perempuan, bakal mikir keras dan terheran-heran kalau yang ada di otak pasangannya cuma soal selangkangan.

Artikel populer: Relasi Dilan dan Milea tentang Penaklukan, Beda dengan Rangga dan Cinta

Jadi, pesannya si Mbah Marx adalah, hati-hati dengan kesadaranmu dalam berpacaran, jangan-jangan bentuk kesadaran yang kalian bangun selama ini cuma kesadaran palsu.

Jadi, kekerasan demi kekerasan yang terjadi dalam pacaran bukan karena pasanganmu gabut nggak ada kerjaan, lalu tiba-tiba saja melayangkan pukulan. Tapi, ada unsur usaha untuk menaklukkan pasangannya agar bisa tetap di bawah pengaruh kuasanya. Relasi semacam itu lebih tepat disebut patriarki.

Sementara, gerombolan yang menghalalkan praktik patriarkal sejenis itu sedang melakukan proses bercocok tanam menanam ideologi hegemoni, kalau istilahnya Antonio Gramsci. Dimana kebudayaan pacaran diubah menjadi budaya yang syarat dengan kekerasan.

Untuk keluar dari kubangan ideologi palsu dalam pacaran, setidaknya diperlukan cara pandang yang lebih kritis lagi terhadap relasi yang sedang Anda bangun. Kesadaran kritis dalam berpacaran berarti berupaya menghadirkan prinsip-prinsip egalitarian dan berkeadilan. Misalnya, membangun dialog yang tulus tanpa tendensi untuk kuasa-menguasai.

Sebab itu, pacaran memang harus ideologis.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.