Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Ilustrasi (Manu Mangalassery via Pexels)

Ada kawan laki-laki yang setengah mati jatuh hati ke seorang gadis. Sampai mau dua kali pilpres, perasaannya tak pudar senoktah pun, justru semakin idealis. Terbukti, lembaran puisi yang teronggok di meja kamarnya semakin tebal setiap hari.

Suatu malam, diketuklah pintu kamar kos saya olehnya. Seorang lelaki tampak berdiri dengan tatapan sendu menenteng dua rim kertas Sidu. Seluruh puisi untuk kekasih hatinya itu, ia titipkan ke saya agar dirawat sebaik-baik ia merawat perasaan cintanya.

Dalam sebuah almari kayu, saya letakkan maha karya itu sebagaimana meletakkan hati saya ke seorang lelaki. Begitu hati-hati.

Kemudian, karena merasa tergugah, saya bacai lembar demi lembarnya. Aduhai, tersirat luapan perasaan yang kian tulus. Mengutip diksi Jokpin, inilah cinta sejati, bukan cinta birahi.

Anehnya, ketika seseorang mempersembahkan lembar-lembar serupa untuk saya, rasanya justru biasa-biasa saja. “Ah, gombal semata.” Mungkin, waktu itu belum terkena panah asmara sang Amor.

Musim berganti, giliran saya yang melakukan praktik serupa. Ternyata, jatuh hati membuat hari-hari diisi dengan menulis puisi di pojokan. Kopi dibiarkan dingin hingga rasanya sama pahit dengan kenyataan. Dari semula menulis makalah pemikiran, kini menulis kegetiran. Sebab, saya jatuh cinta sendirian. Hikz.

Mungkin, begitulah tradisi para pujangga, jatuh hati adalah prasyarat utama. “Sekarat karena cinta hanyalah lisensi puitika belaka,” ujar García Márquez a.k.a Gabo.

Menurut seorang kawan, saya cukup piawai dalam merayu lewat kata-kata. Dibanding-bandingkannya sajak saya dengan sajak-sajak Rendra, Sapardi, dan Aan Mansyur. Tentu, ia sedang berusaha menghibur.

Baca juga: Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

“Sayangnya satu, kau hidup di peradaban maskulin. Sebagai perempuan, itu bukan keterampilan yang membanggakan, justru mengkhawatirkan. Sebab, lebih banyak lelaki yang menganggapmu terlalu agresif soal perasaan ketimbang mengapresiasi kau punya ungkapan. Sederet penyair legendaris tadi? Semuanya laki-laki,” jelasnya panjang lebar.

Yaelah, kesusastraan sebegitu malestream. Apalagi dalam tema asmara, perempuan hanya objek fantasi belaka. Barangkali karena itu, Toeti Heraty menulis “payudara jadi bukit, tubuh wanita = alam hangat, senggama = pelukan yang paling akrab” dalam salah satu puisinya berjudul Post Scriptum.

Sayang, seberapa publik mengenal Toeti Heraty sebagai salah satu penyair dibandingkan para lelaki tadi?

Tetapi, mau se-patriarki apapun dunia ini, sebagai perempuan yang menghayati prinsip ngegombal dan menyatakan cinta adalah hak siapa saja, saya tak tanggung-tanggung menyatakan cinta lewat gaya yang tak kalah nyastra. Apapun konsekuensinya.

Orang bilang saya agresif, nggak berkelas, terlalu nekat. Kami yang menyatakan cinta (lebih dulu) seringkali masih dianggap ra wangun. Ibarat Galileo Galilei mengumumkan bahwa bumi bulat di zaman Romawi.

Perempuan yang berani menyatakan cinta justru lebih berharga dari permata dunia. Kami berani memilih pada siapa ingin mencinta, bukan dengan jalur mengoleksi gebetan demi punya pilihan. Plis, pahamilah.

Itu baru konsekuensi pertama. Konsekuensi kedua, jika perasaan tak berbalas.

Apa yang lebih menyiksa dari menyayangi, tapi tak bisa membahagiakan sang pujaan hati? Entah karena tak berhak atau ditolak. Saat itu, kita hanya bisa meratapi, seandainya luka hati bisa dianestesi.

Sungguh, cinta tak terbalas adalah kekuatan tak terkalahkan yang menggerakkan dunia. Lagi-lagi, itu Gabo yang berkata.

Baca juga: Cinta Beda Agama dalam Pandangan Anak Kekinian

Jika Raditya Dika (dahulu) dengan bangga dan jenaka mengumbar pengalaman jomblo dan kegagalan cintanya, bahkan menjadi nilai komersial tersendiri baginya, mengapa saya – yang perempuan ini – mesti malu mengakui hal serupa? Jika lelaki bisa mencintai siapa saja dengan riang gembira, mengapa saya harus dengan sunyi dan menderita?

Andai saja hanya lelaki yang terus-terusan memegang kendali humor dalam merayakan patah hati atau kisah asmara, bisa-bisa citra perempuan jadi seragam dalam sudut pandang mereka.

Padahal, pengalaman asmara perempuan kian beragam, tak selalu sebagai pihak yang dipuja-puji, yang meninggalkan pergi atau enggan membuka hati. Sementara lelaki di pihak yang menanggung pengorbanan, seolah menjadi lakon protagonis. Nyatanya, dalam beberapa kasus, bisa juga sebaliknya.

Lagipula, memangnya hanya lelaki yang bisa ngegombal atas nama cinta?

Artikel populer: Soal Traktiran saat Kencan dengan Feminis Hingga Angkat Barang yang Berat-berat

Baiklah, saya tunjukkan saja bahwa tak hanya para lelaki seperti Fiersa Besari, Boy Candra, dan Wira Nagara yang mampu memilin patah hatinya menjadi prosa. Begini jadinya, jika prosa patah hati ditulis oleh perempuan:

Perspektif

Aku sadar jika mengejarmu seperti berlari di perlombaan maraton sebagai peserta. Meski lelah, belum tentu aku juaranya. Maka, kuubah perspektifku mengenai cinta.

Cinta bukanlah cabang olahraga lari, aku atletnya dan dirimu garis finishnya. Cinta laksana lautan dan dirimu adalah karang di palung terdalamnya, sementara aku host Mancing Mania.

Dirimu tak kan bisa kurengkuh, sekalipun ada. Biar saja menjadi garis antara fantasi dan realita. Semoga garisnya tak putus-putus seperti highlight Instastory kita. Cukup UU Perlindungan Buruh Migran saja yang putus-putus penerapannya.

Aku sadar jika menantimu seperti menanti keadilan di Indonesia. Nyaris sia-sia. Maka, kuubah perspektifku mengenai cinta dan dirimu. Bukan tentang sesuatu yang diharapkan dan ditunggu untuk dicumbu. Melainkan tentang hal yang kuingat dan kurindu. Hanya Orde Baru yang mampu menghapus kenangan tentangmu.

Aku sadar jika kasih ini tak akan menuai balasan, betapapun aku menuntut melalui doa. Sebagaimana ibu-ibu Kendeng yang tak pernah mencapai hak-haknya, segigih apapun tuntutan mereka.

WhatsApp

Sengaja kuabaikan pesan-pesanmu. Berharap agar suatu hari kutemukan kosakata ‘rindu’ di kolom putih pada papan percakapanku. Nyatanya, ‘rindu’ hanya selalu muncul di kolom putih pada papan percakapanmu.

Semoga, memang karena alfabet r-i-n-d-u tak berfungsi di layar keyboard gawaimu. Sebagaimana hukum yang tak berfungsi bagi korban pelecehan seksual.

Perantara

Jika aku terlalu lemah dalam mencandra keindahan Tuhan secara langsung sebagaimana Rumi, biarkan aku meneladani Ibnu Arabi yang menjadikan perempuan sebagai perantaranya. Maka, izinkan aku menjadikanmu perantara kecintaan pada sang Ilahi.

Ketimbang menjadikan gerakan 212 sebagai jalan hakiki. Aku bukan Wiro Sableng, lagian aku kan pendukung Jokowi.

P.S Jika ingin menulis sajak perlawanan, pelajarilah mekanisme penindasan. Jika ingin menulis sajak cinta, jatuh hatilah dalam-dalam.

3 COMMENTS

  1. Saya suka saya suka…”Jika ingin menulis sajak perlawanan, pelajarilah mekanisme penindasan. Jika ingin menulis sajak cinta, jatuh hatilah dalam-dalam”…
    Totalitas tanpa batas…

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.