Kapan Anak-anak Borjuis dan Proletar Bisa Nongkrong Bareng, nih?

Kapan Anak-anak Borjuis dan Proletar Bisa Nongkrong Bareng, nih?

Ilustrasi (Photo by Alex Jones on Unsplash)

Kita sering kali rame ketika menyikapi fenomena yang berkaitan dengan isi celana dalam isu sosial. Misalnya tentang si kaya dan si miskin. Terlebih, banyak komentar ngalor-ngidul bin nyampah yang berseliweran di linimasa.

Problemnya bukan soal hak berkomentar tuan-puan, meski sesekali menyerang sisi pribadi seseorang (ad hominem), melainkan soal keteguhan argumentasi yang didasari cara pandang atau world view. Nah, cara pandang ini nggak cuma mempengaruhi bentuk argumentasi, tapi juga sikap.

Bayangkan, betapa rapuhnya cara pandang yang secara sporadis menilai bahwa problem mukena yang dijual Syahrini seharga Rp 3,5 juta itu hanya soal siapa yang khayya dan misqueen. Atau, tentang giatnya miliarder Aa Raffi dan Teh Gigi dalam bekerja dan menumpuk uang, padahal sudah kaya. Di sisi lain, banyak orang giat bangun pagi-pulang malam banting tulang, tapi tetap saja miskin.

Ini bukan soal kompetisi kegigihan atau komoditas golongan elit, melainkan ada faktor yang mendasar. Apakah itu?

Baca juga: Mukena Dijual Rp 3,5 Juta kok Anda Julid?

Selama ini, cara pandang tentang si kaya dan si miskin banyak menghambat banyak hal yang sebenarnya punya esensi positif. Misalnya, urusan pergaulan dan tongkrongan sehari-hari.

Dari cara pandang, si kaya akan bergaul dengan yang kaya, karena si miskin punya jenis obrolan yang katanya nggak sepadan alias timpang. Hingga akhirnya, polarisasi itu sampai ke meja perkopian. Padahal, jenis obrolan yang timpang itu berasal dari pengalaman ketertindasan yang berbeda.

Lantas, apa iya keduanya nggak bisa satu tongkrongan karena semata soal kekayaan dan kemiskinan? Memang apa sebetulnya yang bisa bikin gap di antara keduanya?

Kalau menurut saya, perdebatan dan gesekan antara si kaya dan si miskin adalah manifestasi dari hal yang material, yakni kepemilikan. Tentu, cara pandang ini bukan cuma asumsi. Karl Marx (1818-1883) sebelumnya pernah bilang bahwa sejarah masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas.

Baca juga: Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

Kelas di sini berarti hubungan sosial produksi antara tenaga kerja sebagai produsen dan non-produsen (Henry Bernstein:2010). Atau, relasi sosial antara dirimu yang nggak punya apa-apa selain ‘kerja’ dengan bosmu yang memiliki sepenuhnya, termasuk hasil kerjamu.

Sebetulnya nggak ada satu pun orang di planet ini yang tiba-tiba kaya dan miskin. Atau, kaya karena lebih giat bekerja, sedangkan miskin karena bodoh dan malas bekerja. Sebab, itu semua bergantung pada kepemilikan. Kuncinya, siapa memiliki apa.

Bagi Marx, kaum borjuis memiliki alat produksi, sementara proletar hanya memiliki tenaga untuk bekerja. Nah, mungkin kita butuh bab lain untuk membahas asal-usul kepemilikan, sekarang lebih pada hubungan kelas sosial dengan meja kopi tongkrongan tuan-puan.

Tongkrongan anak-anak borju dan proletar mulai terpisah saat revolusi industri di Inggris pada abad ke-18 dan revolusi politik di Prancis. Tapi, bukan berarti masa sebelum itu mereka pernah nongkrong bareng, bukan. Sebab, periode sebelum borjuis-proletar itu adalah fase feodal (relasi tuan-hamba penggarap).

Baca juga: ‘Hypebeast’ yang Katanya Bikin Anak Muda Jadi Eksis

Kala itu, anak-anak borjuis nan gaul nongkrongnya di kafe-kafe sambil nge-gibah kerjaan proletar. Sementara, para proletar nggak punya waktu luang buat nongkrong, kan sibuk bekerja. Kalau nggak kerja, nggak makan. Kalo nggak makan, ya mati.

Hingga akhirnya, kaum proletar menuntut pengurangan waktu kerja dari 24 jam menjadi 10 jam (1791). Setelah itu, mereka menuntut lagi menjadi 8 jam per hari (1866-1904). Nah, barulah bisa nongkrong sedikit santai, meski tetap proletar.

Dari pengalaman ketertindasan itulah, kemudian berdampak pada obrolan-obrolan. Tapi, jangan salah, nggak semua anak gaul borjuis mengambil gap itu. Sebab, masih ada si Friedrich Engels yang ‘bunuh diri kelas’ untuk bisa nongkrong bareng kelompok proletar di Inggris. Bahkan, pada 1890, Engels juga ikut turun ke jalan memperjuangkan pemangkasan jam kerja jadi 8 jam per hari di Hyde Park, London (Coen:2004).

Artikel populer: Karena Pacaran Memang Harus Ideologis

Marx pun nggak akan bisa menyelesaikan Das Kapital dan manifestonya tanpa peran Engels di sisinya. Engels adalah sosok supporting bagi Marx. Selain ‘bunuh diri kelas’, Engels juga mempersunting seorang gadis proletar yang menjadi sumber inspirasinya dalam menulis.

Bersyukur lah, wahai kalian ‘SJW kiri’! Kalau nggak ada mereka berdua, kalian nggak ada bahan untuk mengkritik status quo. Bayangkan, apa jadinya kalau Marx dan Engels hidup lagi pada masa kini, terus melihat orang-orang begitu gigih hujat sana-sini. Padahal, yang juara tetap saja segelintir elit.

Atau, jangan-jangan, kalau Engels hidup hari ini, bisa jadi dia ketularan menjadi netizen yang budiman. Bagaimanapun, dia paham betul soal panjat sosial ‘bunuh diri kelas’. Saya membayangkan, Engels ngomong begini ke Marx.

Engels: “Yaelah Marx… kalau lo nggak mampu beli, berarti lo miskin. Masih untung bisa kerja, pake protas-protes segala. Dasar SJW!”

Marx: “Bacot lo, Ngel!”

Engels: “Nulis status aja, Marx, biar jadi seleb.”

Kita mungkin butuh banyak borjuis yang punya kesadaran kelas, syukur-syukur mau ‘bunuh diri kelas’. Tapi, nyatanya, nggak banyak yang begitu. Kalaupun ada, untuk persoalan kesetaraan sih yes, tapi urusan kepemilikan dan perjuangan kelas? Nanti doeloeee…

1 COMMENT

  1. Aku coba untuk mengikutimu walau terkadang ada kata yang tak tahu. Saya suka isu sosial dan punya waktu untuk membaca karena bukan dari proletar atau borju atau kadang proletar kadang borju. Selamat berkarya

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.