Kamu Laki-laki, Dilecehkan, Memang Siapa yang Bela?

Kamu Laki-laki, Dilecehkan, Memang Siapa yang Bela?

Ilustrasi (Daniel Reche via Pixabay)

Banyak orang yang menyerang feminis ketika ada perempuan yang histeris menyaksikan atlet bulu tangkis Jonatan Christie melepas bajunya. Mereka menganggap betapa ironisnya perempuan yang kerap menentang pelecehan, tapi malah melecehkan laki-laki.

Padahal ya, tidak ada feminis yang membenarkan komentar-komentar yang menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai obyek seksual. Kalaupun ada, sengaja atau tidak, akui saja bahwa itu sebagai kesalahan.

Jadi, menyerang feminis gara-gara ada perempuan yang ngomong “duh, rahim gue anget” atau ”ovarium gue meledak-ledak memproduksi sel telur” adalah tindakan serampangan.

Lagipula, tidak semua perempuan paham dan mengamini prinsip-prinsip feminisme. Mereka juga tidak mengerti bahwa ada kata-kata yang cocok dan tidak cocok dalam relasi sosial.

Feminisme justru memberikan ruang seluas-luasnya kepada laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual untuk berani bersuara. Jadi, tak hanya perempuan saja. Semua manusia.

Pelaku pelecehan terhadap laki-laki pun bisa siapa saja. Namun, yang terjadi hari ini, banyak laki-laki yang tidak berani bersuara karena takut dianggap lemah atau tidak jantan.

Sebagai contoh, ketika gerakan #MeToo mulai gencar, aktor Anthony Rapp baru berani berbicara bahwa ia pernah dilecehkan oleh Kevin Spacey. Saat itu, Anthony masih di bawah umur. Ia takut, kalau ia melaporkan perbuatan Kevin, orang tidak akan menanggapinya.

Begitu pula yang terjadi dengan aktor Terry Crews. Bagian tubuhnya pernah diremas oleh seorang produser eksekutif di Hollywood. Kejadiannya berlangsung di depan istrinya pula, dan Terry pun tak berani berbuat apa-apa.

Terry takut bakal terjadi insiden besar, jika ia melawan. Ia pun takut, jika esoknya muncul berita yang menyudutkannya sebagai orang berkulit hitam yang telah memukul dan memulai perkelahian.

Baca juga: Mengapa Sekarang Makin Banyak Laki-laki yang Berdandan?

Dari dua kasus tersebut tampak ketimpangan relasi kuasa. Ada perbedaan usia antar Anthony dan Kevin, sehingga Anthony sempat tak berani melapor. Begitu pula dengan Terry dan si produser, dimana ada ketimpangan sosial yang menganggap bahwa orang berkulit hitam lebih inferior, sehingga Terry tak berani melakukan apa-apa.

Hal serupa juga menimpa sekelompok pegulat laki-laki di negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Mereka mengalami pelecehan seksual dari dokter olahraga.

Mereka juga tidak berani bersuara karena takut kehilangan beasiswa. Mereka pun bergulat dengan rasa cemas, karena dianggap inferior menyusul kekerasan seksual yang terjadi padanya. Bahkan banyak pejabat laki-laki yang abai terhadap kasus tersebut ketika sedang terjadi.

Dari ragam wawancara dengan laki-laki korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh petinggi salah satu agama, banyak dari mereka yang mempertanyakan ‘kejantanan’ atau maskulinitas.

Sebab, nilai yang berkembang di masyarakat mengenai maskulinitas adalah nilai-nilai yang menganggap bahwa laki-laki itu harus selamanya kuat, tidak boleh lemah.

Jadi, ketika mereka mengalami kekerasan seksual, tak jarang laki-laki merasa dirinya lemah, tak berdaya, dan menganggap dirinya pecundang karena tidak bisa melawan.

Sayangnya, yang menyindir feminis seringkali merisak laki-laki yang menjadi korban pelecehan. Mereka bahkan abai terhadap kasus kekerasan seksual yang terjadi antara perempuan dan laki-laki.

Jangan salah, laki-laki hetero juga bisa menjadi pelaku pelecehan terhadap laki-laki. Mereka juga abai terhadap kasus kekerasan seksual yang menimpa transpria dan transpuan.

Nah, kalau kamu peduli dengan kasus pelecehan, angkat juga kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan kelompok ragam identitas gender yang terjadi selama berabad-abad.

Perempuan terus diopresi untuk menekan hasrat seksualnya dan dituntut untuk berperilaku suci. Tentu ada perbedaan perilaku antara perempuan dan laki-laki dalam mengekspresikan hasratnya itu.

Artikel populer: Teruntuk Penggemar Jonatan Christie di Seantero Negeri

Perempuan tidak akan terjun ke ruang publik hanya untuk catcalling, tapi laki-laki ada di setiap sudut yang seringkali membuat perempuan merasa tidak aman dan tidak nyaman.

Perempuan sudah lama mengalami ketertindasan yang nyata dan berdampak sistemik hingga berujung pada kematian. Kenapa kalian tidak pernah membahas persoalan ini?

Dan, gambaran yang disajikan media terhadap laki-laki pun berbeda. Laki-laki selalu digambarkan sebagai pemberi kenikmatan dan menjadi subyek utama yang selama ini paling banyak menempatkan ruang-ruang prestasi.

Namun, apapun prestasi perempuan, media selalu menaruh embel-embel kata ‘cantik’. Perempuan hanya dijadikan sebagai obyek yang melayani.

Lantas, ketika ada pelecehan terhadap laki-laki, kenapa kalian begitu bersemangat menyoroti kasus tersebut? Kenapa harus menunggu sampai ada laki-laki yang menjadi korban?

Karena itu, ayo angkat pula dampak eksploitasi tubuh perempuan yang terjadi di ragam media. Kemudian, bersama-sama membedah bagaimana maskulinitas yang tidak sehat membentuk pola pikir bahwa hanya laki-laki dengan tubuh tertentu yang memiliki daya tarik.

Bagaimanapun, perempuan yang paling banyak mengalami kekerasan ketimbang laki-laki, mulai dari pengaturan tubuh hingga pembunuhan.

Tapi, jarang sekali kita mendengar laki-laki yang berani berbicara ketika mengalami hal serupa. Kemungkinan yang terjadi adalah mereka tidak berani menyuarakannya, karena orang-orang yang terus menyerang feminisme tidak peduli dengan apa yang dialami perempuan.

Ini jelas menunjukkan bahwa mereka memiliki niat yang buruk. Mereka pun tak paham esensi perjuangan feminisme yang berupaya memperjuangkan cuti ayah dan ruang aman untuk laki-laki agar dapat bersuara.

Jadi, sebelum kamu menyerang feminisme, mending baca dulu deh.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.