Kamu juga Bisa Jadi Via Vallen

Kamu juga Bisa Jadi Via Vallen

Via Vallen (Instagram @viavallen)

Saya akan memulai tulisan ini dengan data agar tidak melebar ke mana-mana, sebelum memulai pembahasan soal pelecehan di internet.

Pew Research Center menemukan bahwa setidaknya 41% pengguna internet di Amerika mengalami pelecehan di internet. Sementara 66% pengguna internet melihat pelecehan terjadi pada orang lain dalam jaringan.

Adapun setiap satu dari lima orang Amerika mengalami pelecehan dan ancaman di internet. Gender dan penampilan fisik adalah dua dari alasan-alasan utama para korban mengalami itu semua.

Sayangnya, data untuk Indonesia belum tersedia. Namun, saya yakin Via Vallen bukanlah yang pertama dan satu-satunya.

Kalau kamu pernah mendapatkan pesan yang tiba-tiba mengobjektifikasi penampilanmu dari pengguna internet yang tidak dikenal, kamu adalah Via Vallen.

Kalau kamu tiba-tiba pernah dikirimi foto penis atau diminta mengirim foto telanjang, kamu adalah Via Vallen.

Kalau kamu tiba-tiba pernah mendapatkan pesan yang kasar dan merendahkan kamu sebagai manusia karena pilihan pakaian atau profesimu, kamu adalah Via Vallen.

Kekerasan seksual di internet tidak melulu bersifat personal antara satu pengguna dan pengguna lain. Kekerasan seksual terhadap perempuan di internet bisa jadi berupa menyebarkan foto tanpa konsen, atau menyebarkan percakapan pribadi sebagaimana dialami perempuan F dengan seorang tokoh yang sedang kabur ke Arab.

Dr Elizabeth Carl, seorang psikolog klinis di New York mengungkapkan bahwa trauma yang dialami korban pelecehan di internet sama dengan trauma pelecehan fisik. Gejala-gejala trauma tersebut termasuk kecemasan, ketakutan, perasaan tidak berdaya, mimpi buruk, termasuk merasa tidak aman dan kehilangan keselamatan pribadi.

Bahkan, menurut dia, pelecehan di internet bisa berdampak lebih parah, karena pelaku bisa mengikuti korban ke mana saja. Jika seseorang mengalami pelecehan di tempat kerja, misalnya, puncak stres dan ketakutan bisa terjadi ketika korban berada di tempat kerja. Rasa frustrasi dapat menurun drastis ketika pulang ke rumah.

Sementara, untuk kekerasan dalam jaringan, korban hampir tidak dapat mengelak, meski beberapa situs media sosial memiliki fitur blokir.

Kalau sudah begitu, apa yang bisa Via Vallen atau kita lakukan?

Menteri Yohana Yembise, yang membidangi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mendukung sikap berani Via Vallen dalam mengungkap kejadian tersebut, sekaligus menyarankan agar kasus tersebut diteruskan kepada pihak yang berwajib.

Tentu kita harus mendukung setiap korban pelecehan yang telah berani mengungkapkan kejadian tersebut. Sebab, pelecehan ada di mana-mana dan bisa menimpa siapa saja. Tak peduli penampilan fisik atau pakaian kamu.

Korban yang berani bersuara adalah upaya agar pelaku pelecehan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya layaknya pelaku kriminal lain, dan tak lagi bisa lenggang kangkung begitu saja.

Ini sekaligus peringatan bahwa pelecehan tidak dapat dibenarkan, sehingga mereka yang berniat melakukan hal yang sama, sebaiknya mengurungkan niatnya.

Sayangnya, sistem sosial seringkali membuat korban malu dan takut untuk berbicara, karena masyarakat begitu suka menyalahkan korban. Mungkin bajunya yang terlalu pendek, jilbabnya kurang panjang, atau ya salah sendiri lahir dengan vagina.

Pada 2017, saya mengumpulkan cerita para korban yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual dalam kehidupan sehari-hari. Awalnya, saya ingin membuat blog yang isinya kumpulan cerita yang dialami korban agar dapat mengedukasi apa saja bentuk pelecehan yang dialami perempuan.

Selama ini, banyak yang tidak paham bahwa yang dilakukannya merupakan pelecehan dan membuat orang lain merasa tidak aman.

Namun, rencana tersebut sulit diwujudkan, karena setiap korban yang mengirimkan cerita menjadi sangat khawatir akan dipermalukan masyarakat atau menjadi korban secondary victimization/double victimization, yaitu keadaan ketika korban justru disalahkan atas apa yang menimpa mereka.

Tak heran, jika kemudian tiga dari empat korban pelecehan tak pernah melaporkan pelecehan, kekerasan seksual, atau pemerkosaan yang dialaminya. Jangankan melapor, bercerita kepada orang lain saja seringkali tidak berani.

Sebab itu, data kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dimiliki oleh lembaga penegak hukum dipercaya sebagai puncak gunung es, karena jumlah korban yang tak berani bersuara justru jauh lebih banyak.

Kalau sudah berani bersuara, lalu melapor ke pihak berwajib, terus bagaimana?

Sayangnya, jangankan pelecehan seksual di internet, hukum di Indonesia seringkali masih gagap menghadapi definisi konsen, atau yang sering diartikan sebagai suka sama suka, dalam kasus pemerkosaan.

Korban yang pernah berhubungan seksual sebelumnya, korban yang berada dalam hubungan dengan pelaku (suami-istri atau pacar, misalnya), atau korban yang pernah berhubungan seksual dengan pelaku sebelumnya, kerap menghadapi kesulitan ketika melaporkan kasus pemerkosaan karena seringkali dianggap suka sama suka. Lalu, pelaku lenggang kangkung begitu saja.

Dengan ketidakberpihakan hukum yang seperti itu, bagaimana kita dapat membela korban pelecehan di internet?

Di Amerika Serikat, seorang jaksa dari California telah mengungkap pentingnya payung hukum baru, yang dapat menghukum pelaku pelecehan seksual dalam jaringan, baik pemerkosaan, membocorkan video porno, ataupun pengiriman foto porno.

Namun, hal ini masih dalam angan-angan sampai Amerika memiliki legislator yang memahami teknologi, sekaligus memahami isu kekerasan seksual.

Sementara di Indonesia, kita baru bisa sebatas mendukung Via Vallen karena telah berani mengungkapkan pelecehan yang terjadi padanya, termasuk mendukung proses hukum paling adil pada kasus ini.

Dan, untuk kamu yang malah menyalahkan korban, berhentilah menjadi bigot.

1 COMMENT

  1. Sebenarnya tidak lama sebelum kejadian Via Vallen ini, ada influencer (vlogger) yang juga menerima pelecehan secara verbal. Dia juga sudah berani bersuara lewat vlognya dan ig story. Ternyata si pelaku memakai akun palsu. Setelah beberapa hari pemilik foto asli dari akun palsu itu muncul & mengirim DM untuk si influencer. Tapi si influencer ini mungkin saking emosinya dengan kejadian yang dia alami cara menanggapinya kasar. Chatnya di publish oleh pemilik foto asli dan akhirnya netizen jadi nyinyir sampai kejadian pelecehan yang dialami si influencer ini malah tergeser dengan citra si influencer yang kasar.
    Jadi dari kejadian itu tidak ada kelanjutan penyelesaiannya, semuanya hanya saling memaki saja.
    Btw, saya suka baca tulisan-tulisan kak Rika di Voxpop ini

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.