Kamu Bilang Perempuan di Rumah Saja Biar Aman, tapi Nyatanya Tidak

Kamu Bilang Perempuan di Rumah Saja Biar Aman, tapi Nyatanya Tidak

Ilustrasi (rmac8oppo via Pixabay)

Sering kali kita mendengar seruan lelaki misoginis agar perempuan tidak keluar rumah, seperti “kodrat perempuan di rumah”, “pekerjaan perempuan yang baik adalah di rumah”, atau “karier perempuan itu di rumah”. Alasan keamanan pun dipakai, yang paling sering diucapkan “makanya di rumah aja, lebih aman”.

Padahal, alasan itu tak sepenuhnya benar. Faktanya, perempuan masih belum aman di rumahnya sendiri. Belum lama ini, perempuan yang sedang hamil tua dibunuh oleh suaminya. Selain itu, perempuan difabel diperkosa oleh ayah dan dua saudara lelakinya selama bertahun-tahun.

Menurut Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan tahun 2019, ada sebanyak 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan selama 2018 atau naik 14% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 348.466 kasus. Kenaikan yang signifikan sekaligus mengerikan.

Kasus kekerasan terhadap perempuan itu terdiri atas 13.568 kasus yang ditangani oleh lembaga mitra pengada layanan dan sebanyak 392.610 kasus bersumber dari data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama.

Nah, dari banyak kasus yang ditangani lembaga mitra pengada layanan, kekerasan justru terjadi pada ranah privat atau personal. Jumlahnya mencapai 9.637 kasus (71%). Dari angka tersebut, 1.071 di antaranya merupakan kasus inses.

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Lalu, kekerasan di ranah publik atau komunitas sebanyak 3.915 kasus (28%) dan ranah negara 16 kasus (0,1%). Sementara itu, dalam catatan Pengadilan Agama, penyebab perceraian di antaranya kekerasan terhadap istri.

Catahu 2019 juga menunjukkan adanya fenomena baru dimana pelaku kekerasan yang cukup besar adalah pacar, yaitu sekitar 2.073 kasus. Sedangkan suami sebagai pelaku tetap berada di peringkat teratas, yaitu sebanyak 5114 kasus. Anak perempuan juga sering kali mengalami kekerasan, terlapor sebanyak 1.417 kasus.

Bentuk-bentuk kekerasan dalam ranah privat itu berupa kekerasan fisik sebanyak 3.951 kasus (41%), kekerasan seksual sebanyak 2.988 kasus (31%), kekerasan psikis sebanyak 1.638 kasus (17%), dan kekerasan ekonomi 1.060 kasus (11%).

Kalau mencermati data-data tersebut, jelas ya, bahwa perempuan juga tidak aman di rumah. Justru bentuk kekerasan yang paling marak terjadi berasal dari relasi yang dimiliki perempuan di rumah. Jadi, kalau ada lelaki yang bilang bahwa tempat perempuan adalah rumah dan ranah privat, bisa jadi ia adalah calon pelaku kekerasan.

Baca juga: Bilang Suka Sama Suka, Nyatanya Memperkosa

Selama ini, relasi antara perempuan dan lelaki di rumah timpang banget. Pembagian peran gender menempatkan perempuan pada posisi yang lemah dan tak berdaya, begitu sangat bergantung pada belas kasih lelaki. Inilah pola patriarki dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sudah begitu, perempuan terus disalahkan jika dianggap menyulut emosi laki-laki, seolah-olah ia pantas mendapatkan kekerasan fisik yang dapat berujung pada kematian. Media massa juga tak ada habis-habisnya ‘membenarkan’ alasan laki-laki membunuh perempuan. Media tak pernah menyampaikan bahwa tindakan yang sangat tidak manusiawi itu berasal dari ekspresi kejantanan yang tidak sehat.

Apakah perempuan pantas dibunuh, karena dianggap menyulut kemarahan laki-laki? Apakah lelaki merasa paling jantan karena membunuh perempuan?

Yang kayak gitu nggak pernah diangkat atau dibahas oleh media massa ketika memberitakan kasus pembunuhan perempuan. Alhasil, ekspresi kejantanan yang tidak sehat itu terus berkembang di masyarakat. Suka atau tidak suka, media massa turut melanggengkan budaya pembunuhan terhadap perempuan.

Fenomena pembunuhan perempuan ini disebut femisida. Setelah dibunuh, tubuh perempuan masih mengalami kekerasan akibat dimutilasi dan dibuang begitu saja hingga membusuk.

Baca juga: Surat untuk Caleg Perempuan, Jangan Berhenti di Kamu!

Di Meksiko, upaya mantan presiden Meksiko Enrique Pena Nieto untuk melawan femisida tidak membuahkan perubahan terhadap kehidupan perempuan. Upaya itu bahkan terkesan hanya gimmick.

Pembunuhan perempuan kerap terjadi, tubuhnya pun ditemukan mengapung di sungai. Para korban tidak mendapatkan penanganan yang baik, bahkan di kamar mayat sekalipun. Mereka ditumpuk bersamaan dengan jenazah perempuan lainnya. Tentu ini menyulitkan, jika pengadilan hendak meminta bukti-bukti visum.

Pembunuhan perempuan dianggap bukan masalah serius dan hanya urusan personal. Hal ini seolah-olah membenarkan bahwa perempuan adalah properti lelaki, sehingga tak ada yang berhak memasuki teritori atau daerah kekuasaan lelaki.

Negara yang maskulin tidak pernah melihat perempuan sebagai manusia yang berdaulat dan hanya menempatkannya sebagai kepemilikan lelaki.

Itu bisa dibuktikan dari sikap dan tindakan aparat negara yang masih menilai status perempuan yang bekerja dan sudah menikah sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaan ibu rumah tangga yang sangat terikat dengan status pernikahan seseorang.

Artikel populer: Agar Penjahat Kelamin Tak Lagi Berani Main-main

Saya masih ingat ketika seorang aparat menanyakan status pernikahan saya untuk mengisi kolom pekerjaan. Dia memaksa saya untuk menulis ibu rumah tangga. Padahal, saat itu saya bersikukuh dengan status mahasiswa, terlepas apapun status pernikahan saya.

Wacana mengenai kepemilikan tubuh perempuan oleh lelaki juga terus diproduksi menggunakan dogma-dogma agama. Padahal, kenyataannya perempuan masih tidak aman dari lelaki yang ada di rumahnya. Ini kan bertentangan dengan misi agama yang memanusiakan perempuan.

Percayalah, rumah bukan tempat yang aman untuk perempuan selama lelaki-cis nan patriarkis menginginkan kamu terikat di dalamnya. Karena itu, negara harus mengesahkan peraturan yang melindungi warganya, seperti Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (UU PKS), UU Pekerja Rumah Tangga (PRT), bahkan UU Perkawinan yang baru.

Seperti nyanyian Iwan Fals dalam lagu “Manusia Setengah Dewa”: Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu. Peraturan yang sehat yang kami mau.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.