Kalaupun Kamu Anti-Pacaran, Memangnya Kamu Lebih Baik?

Kalaupun Kamu Anti-Pacaran, Memangnya Kamu Lebih Baik?

Ilustrasi (Klimkin via Pixabay)

Belakangan, gerakan Indonesia Tanpa Pacaran semakin kontroversial saja. Mereka ingin generasi muda terbebas dari pacaran pada 2024, karena pacaran dianggap sebagai awalan dari perbuatan zina. Solusinya, ya apalagi kalau bukan ngipasin anak muda supaya buru-buru nikah.

Padahal, pacaran atau tidak, adalah kehendak bebas setiap orang. Kalaupun mau zina, nggak perlu pacaran juga bisa, keleus… Mending bikin gerakan yang bisa bikin orang terbebas dari kebodohan gitu, atau kemiskinan atau ketidaksetaraan.

Eh tapi, kalau dipikir-pikir, kehadiran gerakan Indonesia Tanpa Pacaran justru bisa memudahkan orang untuk menyeleksi calon pacar lho, alih-alih mendorong terciptanya generasi muda yang terbebas dari pacaran.

Di tengah masyarakat yang menaruh nilai pada cinta yang berpasang-pasangan ini, orang cenderung ingin memahami bagaimana berbagi cinta dan kasih sayang. Tapi, bagaimana bisa memahami kalau belum apa-apa digiring segera nikah?

Baca juga: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Saya sendiri tidak tertarik dengan laki-laki yang inginnya langsung menikah. Ya pacaran dulu lah. Lantas, apakah saya termasuk orang yang ‘gampangan’? Justru, saya menggunakan ragam metode dan pendekatan untuk memahami dan mengenali cinta dari pasangan.

Urusan asmara ini, gimana ya, ada juga sisi rasionalnya. Jadi, nggak semua cinta itu buta. Mereka yang kebelet kawin itu yang tanpa rasionalitas. Sebetulnya itu hak mereka juga sih, tapi bukannya dengan begitu berhak mem-bully orang yang memilih untuk pacaran.

Fyi aja nih, orang-orang yang hobi menyematkan label ‘gampangan’, terutama kepada para perempuan, biasanya laki-laki jomblo ngenes yang tak kunjung dapat pacar karena sikapnya yang misoginis.

Cobalah tengok konten di akun media sosial yang dikelola Indonesia Tanpa Pacaran yang cenderung mem-bully perempuan yang pacaran. Woii… Pacaran nggak melulu soal seks.

Baca juga: Ayolah, Banyak yang Lebih Penting daripada Kebelet Kawin dan Ngurusin Orang Pacaran

Sebagian orang merasa perlu mengenal calon pasangan hidupnya. Misalnya, dengan menghabiskan waktu bersama sambil jalan kaki, makan bareng, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, serta berbicara tentang sudut pandang politik, ekonomi, sejarah, budaya, keluarga, hobi, film, buku, dan seabrek aktivitas lainnya.

Kenapa? Ya karena ketika kita hendak menghabiskan hidup dengan seseorang, isinya bukan cuma aktivitas seks belaka. Mengasah intelektualitas secara bersama itu penting. Makanya, sebagian orang merasa harus memilih, bukan dipilihin.

Dan, ketika selama masa penjajakan atau pacaran tidak menemui kecocokkan, ya nggak masalah. Sedih sih, lantas apa kehidupan akan berakhir di situ? Kan, tidak. Lagipula, sedih-sedih gimana gitu. Hehehe.

Kita seharusnya jangan mempermalukan mereka yang hendak berjuang demi membangun cinta, baik itu dalam koridor pernikahan maupun di luar pernikahan. Sebab, mereka yang kerap disebut sebagai budak cinta alias bucin itu, bisa jadi lebih baik dari kamu.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Kegagalan dalam berpacaran itu sangat mungkin terjadi. Tak ada yang cacat dari kegagalan itu. Namanya juga mencari kecocokkan di antara tujuh miliar orang di muka bumi ini, tentunya sulit. Life still goes on. Malah inspirasi bisa datang dari rasa sakit hati, lho. Coba tengok penulis puisi Rupi Kaur.

Ya begitulah, prosesnya memang menyakitkan sekaligus menyenangkan. Kalau kata guru saya, “Kamu tidak akan pernah bisa menghasilkan karya yang hebat, jika tidak pernah merasakan sakit.”

Oh ya, orang yang pantas dijadikan pasangan hidup itu tidak bisa dilihat dari seberapa besar keberanian untuk melamar. Tapi, bagaimana kita bisa membangun cinta yang setara.

Cinta yang setara tentunya tidak ada relasi kuasa. Harus ada fondasi finansial yang kuat dari kedua pihak, sehingga tak ada ketergantungan secara ekonomi. Sebab, penelitian menunjukkan, banyak perempuan yang terpaksa bertahan meski terjadi kekerasan dalam rumah tangga, hanya karena himpitan ekonomi dan ketergantungan finansial.

Artikel populer: Pentingnya yang Ngebet Nikah Nonton Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga)

Selain itu, cinta yang setara juga mendukung kemandirian masing-masing, serta sama-sama membangun kebersamaan dalam kemandirian itu. Pasangan yang setara juga akan mendorong kita menjadi orang yang terbaik versi diri kita sendiri dan tidak ada tuntutan peran gender.

Ya tentunya, jalan hidup ini nggak cocok bagi sebagian orang yang anti-anti pacaran club dan kebelet menikah. Terlebih, promosinya menggunakan ragam cara untuk menempatkan perempuan ke ranah domestik belaka.

Sebetulnya tidak masalah jika seorang perempuan hendak memilih menjadi ibu rumah tangga, asalkan dia memilih dengan kesadaran penuh dan menyadari hak-haknya.

Yang salah ketika konten-konten anti-pacaran ditujukan kepada perempuan muda yang sesungguhnya memiliki potensi besar, namun belum memiliki kematangan emosi.

Alhasil, menikah dijadikan tujuan utama hidup, alih-alih meningkatkan taraf kehidupan dengan pendidikan dan kemandirian finansial. Sebab, pendidikan juga wajib hukumnya.

1 COMMENT

  1. “Fyi aja nih, orang-orang yang hobi menyematkan label ‘gampangan’, terutama kepada para perempuan, biasanya laki-laki jomblo ngenes yang tak kunjung dapat pacar karena sikapnya yang misoginis.”

    Menghimbau org jgn mudah kasih label, sendiri nya gampang kasih label 😀 emang ngomong lbih mudah dari pada berbuat, tanpa di sadari diri sendiri jd munafik. Penyakit yg cukup banyak menjakiti para feminis. Klo wanita yg menyematkan label ke sesama wanita apa bsa disebut “misoginis” wanita itu?? Hmmm saya heran..

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.