Ilustrasi perempuan (Photo by Engin Akyurt from Pexels)

Setiap membaca infografis tentang keperawanan, pembahasannya selalu tentang adanya selaput dara (hymen) atau tidak. Jarang sekali ada yang membahas soal situasi politik, ekonomi, dan sosial yang menciptakan dan melanggengkan mitos keperawanan.

Hingga hari ini, tidak ada bukti yang pasti bahwa keperawanan bisa diukur dari ada atau tidaknya selaput dara. Bahkan, secara ilmiah, ketiadaan selaput dara tidak menjamin apakah seorang perempuan pernah mengalami penetrasi atau belum.

Sebuah penelitian pun menyatakan bahwa selaput dara tidak selalu robek, bahkan ketika dilakukan penetrasi. Istilah selaput dara robek juga tidak bisa dijadikan penjelasan tentang sebuah kondisi.

Selaput dara ada untuk melindungi bayi perempuan dari bakteri yang dapat masuk ke dalam vaginanya. Semakin ia besar, maka selaput daranya akan hilang secara perlahan. Dengan demikian, selaput dara bukan tolak ukur untuk memastikan status dan sejarah seksual seseorang.

Namun, ketika masyarakat membicarakan keperawanan, sering kali merujuk pada kondisi seseorang yang tidak pernah melakukan hubungan seksual.

Baca juga: Salah Paham soal Selaput Dara

Pertanyaannya, apakah hubungan seksual selalu tentang penetrasi penis dan vagina? Jika ya, bagaimana dengan pasangan homoseksual seperti pasangan gay dan lesbian yang berhubungan seksual? Bagaimana mereka menjelaskan kondisinya, jika seseorang gay atau lesbian belum pernah atau sudah berhubungan seksual?

Konsep keperawanan ini sangat heteronormatif, hanya melihat hubungan seksual melalui penetrasi penis dan vagina. Konsep ini juga seksis karena tidak ada padanannya, semisal bagaimana membuktikan keperjakaan lelaki.

Lantas, dari mana konsep keperawanan ini bermula?

Perlu kita ketahui, konsep keperawanan ini muncul beberapa ribu tahun lalu. Sementara, peradaban manusia sendiri sudah ada sejak ratusan ribu tahun lamanya. Sebelum manusia mengenal hidup dengan cara menetap dan bercocok tanam, manusia hidup secara berpindah-pindah (nomaden).

Saat manusia masih nomaden dan hidup dalam bentuk klan, perempuan dapat berhubungan seks dengan siapa saja. Bahkan, jika ia memiliki anak, semua laki-laki yang berada dalam klan tersebut berperan sebagai ayah. Setiap anak diasuh bersama-sama di klan tersebut. Ketika itu tidak ada bentuk keluarga inti yang kita kenal hari ini.

Baca juga: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Namun, sejak masyarakat mulai mengenal hidup bercocok tanam dan menetap di satu tempat, manusia mulai mengumpulkan kekayaan. Untuk dapat memastikan kekayaan dan properti berada di dalam keluarganya, maka anak yang dilahirkan oleh perempuan harus dipastikan siapa ayahnya agar dapat diwariskan kepada keturunannya tersebut.

Maka, perempuan harus dipastikan bahwa ia tidak pernah berhubungan seksual, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk hidup dan membangun rumah tangga bersama lelaki. Konstruk ini diciptakan untuk mengatur dan mengontrol seksualitas perempuan agar kekayaan keluarga tidak jatuh ke anak orang lain.

Karena saat itu belum ada tes DNA, makanya cara paling mudah untuk memastikan anak yang dilahirkan adalah anak dari suaminya, ya dengan mengontrol perempuan. Alhasil, perempuan diperlakukan sebagai objek dan alat produksi untuk menghasilkan keturunan serta mempertahankan kekayaan.

Seks akhirnya menjadi sekadar prokreasi. Esensi lain dari seks, yaitu rekreasi – terutama untuk kenikmatan perempuan – tidak diperhitungkan. Kemudian, lelaki mengambil keuntungan dari ketimpangan ini.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Hingga hari ini, kita bisa melihat bahwa kekayaan dimiliki oleh lelaki, karena warisan yang diberikan oleh ayah mereka, mempertahankan konsep keperawanan ini dan penerapannya terhadap perempuan.

Konsep ini diadopsi oleh agama yang berkembang saat itu agar bisa diterima oleh masyarakat. Tafsiran dalam agama kemudian dikaitkan dengan budaya yang sudah ada sebelum diturunkannya agama. Konsep kesucian juga dikaitkan dengan ketubuhan perempuan, seolah satu-satunya cara untuk bisa terhubung dengan Tuhan adalah, dengan tidak berhubungan seksual. Namun, itu tidak berlaku bagi laki-laki.

Semisal, ada yang bertanya, “Bagaimana menjelaskan jika seseorang belum pernah berhubungan seksual? Kata apa yang dipilih untuk menjelaskan statusnya?” Sederhana saja, cukup bilang belum pernah berhubungan seksual dengan orang lain. Lagi pula, apa sih pentingnya mempertanyakan itu?

Konsep keperawanan ini sungguh berbahaya, karena akhirnya perempuan tidak dibekali dengan pendidikan seksual tentang tubuhnya, sehingga ia tak memiliki pilihan untuk menentukan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Ia dijauhkan dari tubuhnya sendiri.

Artikel populer: Suka Sama Suka, Apa Iya Bisa Ngeseks Semaunya?

Ia juga dijauhkan dari akses kesehatan, bahkan untuk pasang kontrasepsi saja membutuhkan tanda tangan lelaki. Maka, tidak heran angka kematian ibu dan anak masih tinggi hingga hari ini. Lagi-lagi, ini terjadi karena perempuan diasingkan dari tubuhnya dan dijauhkan dari pemahaman bahwa ia sebetulnya memiliki agensi dan hak atas tubuhnya sendiri.

Konsep keperawanan ini bukan soal ada atau tidaknya selaput dara, namun soal kontrol tubuh perempuan. Konsep itu berkaitan erat dengan situasi politik, ekonomi, dan sosial sebuah masyarakat yang hendak memelihara subordinasi perempuan guna mempertahankan kapital. Hal ini juga berhubungan erat dengan pengaturan organ reproduksi.

Jadi, mulailah menyingkirkan kata “perawan” dalam kehidupan kita sehari-hari. Anggap saja itu kebohongan yang dipelihara untuk memiskinkan perempuan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini