Ilustrasi. (Photo by J W on Unsplash)

Mengutip riwayat hadist, orang sering mengulang-ulang petuah “Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya”. Saya ingin sekali menggantinya jadi “Orang tua adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya”.

Itu lebih pas dan fair, sih. Baik dari sudut pandang peran gender yang cair maupun pengalaman individual. Misalnya, anak yang ditinggal mamaknya sejak kecil, bukan berarti bapaknya harus lekas kawin lagi demi memfasilitasi sekolah pertama untuknya. Bedakan antara cari pengasuh dan cari istri.

Kalau yang dimaksud sekolah pertama bagi anak adalah mengajar hal-hal dasar, bapak saya pun melakukan itu. Saya pertama belajar baca huruf hijaiyah dan latin dari bapak. Begitu pun etika mengucap salam saat masuk rumah dan cium tangan saat ke sekolah. Bapak juga yang sering mendongeng. Mamak saya, lebih berperan dalam mengusahakan biaya sandang, pangan, papan, dan pendidikan anak.

Terlepas dari peran masing-masing, mereka berdua sama-sama menjadi sekolah pertama. Pelajaran pertama dari mereka adalah pembagian peran sebagai orang tua yang tidak kaku kek kanebo kering. Pelajaran lainnya berupa cerita kemiskinan mereka semasa orde lama dan setelahnya. Kelak pada jenjang sekolah berikutnya, barulah saya mampu memahami kisah mereka dari sudut pandang kritis.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Jadi, kalau orang tua adalah sekolah pertama, maka institusi pendidikan dan masyarakat adalah sekolah berikutnya.

Terima kasih untuk para intelektual, aktivis, novelis, seniman, yang membagikan pikiran-pikiran progresif. Kalian adalah guru yang membuat saya tidak terlibat gerakan ekstremis, sehingga tidak mati konyol karena ngebom tempat ibadah. Atau, menjadi seorang yang ambisius menimbun kekayaan, lalu mati sia-sia.

Walaupun pengetahuan-pengetahuan itu tidak berguna untuk cari duit banyak, paling tidak saya kelak bisa mati penuh makna.

Mereka yang menganggap pengasuhan hanya ada dalam domain privat (keluarga), tampaknya sering tidak menyadari bahwa peran publik seperti itu berkontribusi terhadap perkembangan anak-anaknya.

Sebagian dari mereka bahkan sulit menghargai perempuan dewasa yang punya kontribusi serupa dan melajang. Ia dianggap keluar dari kodrat perempuan sebagai seorang istri dan ibu. Disangka menyia-menyiakan kantung janinnya. Sekelilingnya merasa iba dan kasihan, tapi diam-diam juga mencibirnya. Dianggap bukan panutan masyarakat pula.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Bunda-bunda dan para ayah perlu tahu, sebagai individu, kita punya keterbatasan pengetahuan untuk mengajarkan seisi dunia pada anak-anak. Siapakah yang akan mengisi keterbatasan itu? Tentu mereka yang berkiprah di ranah publik, yang menikah ataupun tidak.

Tapi, kalau anda mau menuliskan anak-anak dongeng disertai berbagai ilustrasi sendiri, mengajarinya matematika, fisika, geografi, dan sastra sendiri, ya leh uga dicoba. Silakan bikin penerbitan sendiri, mendirikan sekolah sendiri dengan anda sendiri yang menjadi tenaga pengajar segala bidang sekaligus tenaga operasionalnya.

Ruang pengasuhan tidaklah terbatas di ranah privat, bund. Pengasuhan juga terjadi di ranah publik melalui sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, bahkan kebijakan negara.

Para orang tua pernah mengeluhkan sistem belajar dari rumah, bukan? Maka, kini berterima kasihlah kepada guru-guru honorer yang setiap pagi menitipkan anak-anak mereka ke mertuanya demi mengajar anak-anak orang lain. Pada dosen-dosen kontrak yang menitipkan anaknya di penitipan anak dengan kualitas semena-mena demi mengajar para mahasiswa di kampus. Dan, banyak lagi profesi lain yang menyangkut kesejahteraan anak-anak anda. Hidup kita ini saling bertukar jasa.

Baca juga: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Kalau anda istri domestik yang bisa hidup layak tanpa perlu menjadi pekerja, tidaklah sopan menyombongkan pilihan anda dengan perkataan “Rela melepas jenjang karier demi mengasuh anak-anak”.

Sebab tidak setiap ibu bekerja demi karier dan reputasi, bund. Ada yang demi mencukupi kebutuhan hidup, karena pasangannya berupah pas-pasan dan negara tidak menjamin kehidupan yang layak untuk keluarganya.

Kalau bunda punya suami yang upahnya di atas UMK, bersyukurlah karena bisa diberi kenikmatan resign kerja dan mengasuh sendiri anak-anak. Apalagi, jika suami mampu memfasilitasi hobi, syukurnya dua kali. Tapi, tidak usah merasa lebih heroik dari ibu pekerja. Tidak setiap perempuan punya pilihan semudah bunda.

Kepada orang tua dan calon orang tua sesama kelas menengah, mari kita berserikat saja menuntut adanya day care yang layak, pendidikan usia dini yang mencerdaskan dengan akses literasi bersama, layanan kesehatan anak yang berkualitas, yang semua ditanggung dengan skema subsidi sesuai tingkat pendapatan keluarga. Yang begini hanya akan terselenggara lewat kebijakan negara dan negara perlu dituntut.

Artikel populer: Daripada Mengurusi Selangkangan, Mending Urus soal Pengasuhan

Sementara, kita yang punya peran sosial di ranah pendidikan dan ruang berkebudayaan, yuk mari berupaya memberi nilai dan manfaat dalam setiap karya. Kita tidak harus menikah dan punya anak untuk bisa melakukannya.

Kalau anda penulis, tulislah dongeng yang memiliki nilai dan makna reflektif. Kalau anda konten kreator, buatlah konten yang edukatif. Kalau anda sutradara, buatlah film-film yang membangun nalar dan perikemanusiaan. Kalau anda akademisi, buatlah riset-riset yang memaparkan kenyataan di sekitar kita, walau itu pahit. Karya-karya itu yang nantinya menjadi sekolah berikutnya bagi anak-anak dan membentuk padangan hidup mereka.

Dan, kalau anda ibu-ibu komplek, tidak usah menggunjingkan mbak-mbak yang tidak kawin-kawin atau tak kunjung punya anak. Cobalah lihat peran sosial apa yang ia tunaikan, karena derajat kemuliaan perempuan bukan dinilai dari siapa suaminya dan berapa anaknya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini