Ilustrasi Twitter. (Image by Free-Photos from Pixabay)

Tahun 2018, Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengeluarkan simpulan studi yang menyebutkan bahwa hoaks di Twitter beredar 6 kali lebih cepat dibanding berita aslinya. Terkejut? Nggak juga. Ingat kasus Audrey yang bikin geger seluruh negeri? Banyak hati dibuat prihatin, banyak jiwa ikut mengutuk, tapi nggak tahunya cuma kena prank.

Belakangan, ‘perang’ di Twitter muncul dari dua pihak yang berseberangan: pro dan kontra Omnibus Law. Setelah ada demo besar, ‘perangnya’ berkembang lagi antara dua pihak lain: pihak yang menyayangkan fasilitas umum dirusak selama demo dan pihak yang merasa kerusakan itu bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan risiko nyawa para pendemo.

Di antara pertikaian online lewat kalimat-kalimat twit, ada yang menarik perhatian. Kalau sebelumnya di Twitter sering kali digembar-gemborkan soal akun-akun buzzer politik yang memanaskan suasana, kali ini yang jadi sorotan adalah (kabarnya) akun-akun buzzer politik yang memanaskan suasana dan ber-ava K-pop.

Baca juga: Octopus Law dan Demo di Bikini Bottom

Konon, ada akun-akun tanpa identitas jelas yang meng-counter attack pernyataan aktivis atau ahli di media sosial dengan menggunakan ava Korea – jenis ava yang selama ini sering jadi bulan-bulanan netizen.

Memasang foto random orang lain adalah ciri khas akun-akun ini yang tiba-tiba suka berkoar keras dan panas. Tapi kali ini, sepertinya stok foto acak itu sudah habis. Berniat untuk mengikuti perkembangan netizen terkini, mereka merasa penggunaan ava Korea adalah hal yang tepat. Kenapa?

Meski terkadang suka bersikap di luar konteks (haloooo, misalnya lagi ada utas penting, tapi kamu kok malah reply pakai videonya Sakura dan Eunbi yang lagi nyanyi “Monster” – walaupun mereka keren banget – yang jelas nggak ada hubungannya???) dan terlalu memprioritaskan idolnya lebih dari prioritas tugas kampus dan deadline kerjaan, para pengguna ava Korea adalah bagian penting yang esensial dari media sosial Indonesia.

Baca juga: Ujian Sesungguhnya Penggemar K-pop, Bukan Persoalan Cinta Searah

Coba cek following atau followers-mu. Minimal satu orang saja mungkin akan menampilkan ava mas-mas Korea dengan rambut cokelat atau mbak-mbak berwajah kecil dalam sebuah drama atau grup idol. Ava Korea ibarat Yin, sementara kita adalah Yang. Ava Korea adalah perangko, sementara kita adalah amplop. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari semesta netizen di Indonesia.

Lalu sekarang, lihatlah. Kok bisa-bisanya ada gosip soal akun buzzer politik yang pakai Ava Korea untuk mendelegasikan gagasannya?

Kalau dipikir-pikir, mana mungkin? Akun-akun buzzer itu – kalaupun ada – nggak mungkinlah pakai ava Korea. Ayolah, tujuan buzzer itu apa, sih? Tentu untuk menyampaikan pesan tertentu. Tapi, tidakkah para akun-akun ini tahu betapa susahnya menjadi pemilik akun dengan ava Korea? Syukur kalau ada yang baca. Lah wong, kadang argumennya saja dianggap invalid hanya karena pasang foto Park Bo-gum!

Baca juga: Seumpama Indonesia Me-remake Drakor Reply 1988 Jadi Reply 1998

Pakai ava Korea juga mengharuskan setidaknya berjaga-jaga untuk benar-benar paham apa pun yang berhubungan dengan K-pop, K-drama, bahkan hingga bahasa. Selagi orang-orang keasyikan saling menyapa di media sosial dengan sebutan “hyung”, pengguna ava Korea dinilai tahu dengan pasti kapan dan kepada siapa kata “hyung” digunakan, serta apa bedanya dengan sapaan lain: “oppa”, “eonni”, atau “noona”. Kan, nggak lucu banget kalau kamu menyapa orang bernama Bambang, misalnya, dengan sebutan “Oppa Bambang”?

Apa? Kamu nggak tahu apa yang salah dari sebutan “Oppa Bambang”? Fix, kamu nggak bisa jadi buzzer ber-ava Korea.

Sekali lagi, menjadi pemilik akun ava Korea menunjukkan ketertarikanmu pada K-pop, K-drama, dan lainnya. Sekarang bayangkan kamu asal memasang foto anggota boyband yang ternyata adalah boyband EXO, lalu mendapat pertanyaan, “Eh, ini pas era lagu apa, ya? Love Shot atau Lotto?”

Itu masih mending. Bakal lebih susah lagi kalau kamu dapat twit yang isinya curahan hati soal betapa formasi lengkap EXO dengan 12 member sangat dirindukan, sementara kamu bahkan nggak tahu kalau EXO pernah berisi lebih dari 8 orang. Mamam.

Artikel populer: Seandainya Seleb Internet Jadi Panitia Ospek Online

Kalau beneran ada akun buzzer politik dengan ava Korea, sungguh, rasanya ia hanya sedang menyusahkan diri sendiri. Niat hati sih mau mengincar kekuatan militan K-popers untuk menaikkan hashtag pesanan, tapi tantangannya cukup berat dan bikin pusing.

Lah, jangankan buzzer, Choi Si-won yang beneran aktor Korea aja suka diledekin kalau nge-twit pakai Bahasa Indonesia dalam rangka promosi mi instan yang menjadikannya sebagai model iklan!

Tapi yah, rasanya nggak ada deh akun buzzer politik dengan ava Korea. Malah, kayaknya nggak ada yang namanya buzzer politik. Masa iya, ada orang yang rela begitu saja jadi tukang penyampai gagasan yang bisa jadi sangat menyesatkan di ruang publik? Ih, orang macam apa yang mau-mau saja melakukan itu?

Hmm, jangan-jangan, itu cuma hoaks? Ingat, hoaks di Twitter katanya beredar 6 kali lebih cepat dibanding berita aslinya. Iya, kan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini