Ilustrasi. (Photo by KoolShooters from Pexels)

Publik sempat heboh dengan sinetron yang menggambarkan seorang lelaki berusia 39 tahun melakukan grooming terhadap perempuan di bawah umur. Grooming bisa dibilang sebuah modus untuk mendekati calon korban kekerasan seksual melalui proses melatih, mempersiapkan, atau mengondisikan lewat rayuan, bujukan, hingga manipulasi.

Grooming, juga poligami dan pedofilia digambarkan dalam adegan di kamar tidur, ketika lelaki dewasa hendak mengajak tidur istri ketiganya yang masih remaja. Remaja ini terpaksa menikah dengan lelaki tersebut untuk melunasi utang keluarga.

Belum lagi, ada adegan perseteruan yang sengit di antara para istri. Gambaran perempuan yang saling bersaing memperebutkan sesuatu itu menjadi komodifikasi. Sedihnya lagi, jadi tontonan publik di jam tayang utama. Beberapa cuplikan adegannya tersebar di Youtube pula.

Walaupun tontonan tersebut mungkin berlabel bimbingan orang tua, tapi belum tentu setiap orang tua mampu memberikan bimbingan kepada anaknya.

Baca juga: Kalau Ibu adalah Sekolah Pertama, Berarti Ada Sekolah Kedua, Ketiga, dan Seterusnya

Nyatanya tontonan bermutu hanya bisa didapatkan dari TV kabel atau layanan streaming berbayar. Tentu ada layanan yang gratis dan resmi, tapi tetap saja ada biaya untuk internet. Sulit dijangkau oleh keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, atau tinggal di daerah yang jaringannya tidak stabil. Apalagi, bagi yang tidak ada jaringan.

Sementara, narasi poligami pun menguat melalui saluran-saluran resmi, gratis, dan jangkauan yang lebih luas. Narasi itu cenderung digunakan untuk membuat perempuan tunduk, sehingga menjadi submisif hingga lemah secara ekonomi. Jika perempuan bergantung secara ekonomi kepada lelaki, otomatis ia akan melihat perempuan lain sebagai pesaing.

Menarasikan perempuan dalam posisi seperti itu menciptakan lingkungan yang tidak sehat antar sesama perempuan dan anak perempuan yang sedang tumbuh kembang.

Baca juga: Harus Banget Ada Kursus Poligami? Iri sama Kursus Prakerja Bilang Bos!

Apalagi, sampai diromantisisasi dan diglorifikasi melalui siaran gratis alias free to air. Tentu dapat mempengaruhi persepsi jutaan orang tentang perempuan dan lelaki. Bahkan bisa menormalisasi bentuk-bentuk kekerasan seksual.

Argumen bahwa saluran tertentu ingin menyuguhkan hiburan berdasarkan status atau kelas ekonomi semestinya menjadi dorongan untuk mengemasnya dengan nilai-nilai perjuangan hidup. Masa sih cuma mentok urusan kasur?

Ada banyak perempuan yang harus menghidupi orang tua dan anak-anaknya, serta tidak bergantung pada lelaki. Seharusnya itu juga menjadi ide cerita. Banyak penonton yang bakal merasakan kesamaan nasib. Rating pun tetap tinggi, jangan khawatir!

Kita pun secara individu bisa ikut mengubah persepsi orang lain, setidaknya melalui akun media sosial atau ngobrol dengan keluarga dan teman masing-masing. Memang, itu tidak mudah. Sebab masyarakat kita memelihara budaya kekerasan terhadap perempuan.

Baca juga: Ngobrolin Sex Ed sama Anak Baru Gede, Meski Awalnya Sempat Awkward

Komodifikasi kesedihan perempuan dalam tontonan publik menunjukkan bagaimana perempuan terus ditundukkan, dan turut menormalisasi kekerasan seksual secara langsung atau tidak langsung. Seolah penderitaan dan kekerasan terhadap perempuan adalah hal wajar dan harus dijadikan tontonan.

Walaupun mungkin kisah-kisah tersebut terinspirasi dari kejadian nyata, tak bisakah kita memberikan jalan keluar bagi tokohnya agar dia terbebas dari penindasan?

Contohnya, film Dua Garis Biru atau Telur Setengah Matang. Film itu menceritakan tentang kehamilan tidak direncanakan, yang terjadi saat usia sekolah. Tokoh perempuan di film tersebut tidak menjerumuskan diri atau mengemis-ngemis cinta dan pernikahan kepada lelaki ketika mengalami kehamilan tidak direncanakan. Keluarganya pun memberi dukungan penuh agar anak perempuannya tetap bisa melanjutkan studi dan membantu mencari jalan keluar. Walaupun hamil, itu tidak menghalangi mereka.

Publik diperlihatkan bahwa dalam belenggu patriarki, perempuan mesti berdaya dan memperjuangkan hidupnya. Kenapa tontonan-tontonan seperti itu tidak diperbanyak oleh para sineas maupun rumah-rumah produksi? Takut tidak laku? Film Dua Garis Biru laris manis, lebih dari 1,2 juta penonton. Rating IMDb 8,2/10.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Namun, sebagian besar tontonan kita – misalnya sinetron, iklan, maupun konten-konten video – masih gemar menjual kesedihan perempuan dan mengondisikan perempuan menjadi tidak percaya diri. Mengambil keuntungan secara semena-mena. Sebagian perempuan terpaksa mengeluarkan usaha dan uang lebih banyak untuk memenuhi kriteria yang dianggap sempurna oleh publik.

Sudah tidak zaman lagi menjual kesengsaraan perempuan untuk produk hiburan. Kita punya kuasa untuk menolak tontonan seperti itu. Melontarkan kritik dan membahasnya dengan orang-orang sekitar untuk membangun kesadaran kritis.

Para sineas, rumah produksi, stasiun TV, maupun influencer di media sosial punya peran sangat besar untuk membuat tontonan bermutu yang bisa mengubah persepsi dan budaya, termasuk menampilkan konten-konten yang memberdayakan perempuan. Sebab kita, pemirsa, punya hak untuk bersuara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini