Jomblo atau Bukan, Kita Semua Sama di Hadapan Promo Valentine

Jomblo atau Bukan, Kita Semua Sama di Hadapan Promo Valentine

Ilustrasi (The Virtual Denise via Pixabay)

Bulan Februari bertema kasih sayang. Apa-apa pake ajektiva romantic, ya konser ya event pertunjukan. Seandainya pemilu dihelat pada 14 Februari, mungkin KPU bakal kebanjiran surat suara penuh cinta bertuliskan “Happy Valentine” dari pemilih pemula. Mungkin, sebelum ke TPS pun, mereka dapatnya cokelat, bukan amplop.

Kafe, ritel, hotel, bahkan konter pulsa berbagi kasih dan cinta dengan cara memberi label diskon Valentine. Distro sepatu dan tas hingga produk kecantikan juga turut memberi rabat. Omzet UKM olahan cokelat rumahan ikut terdongkrak oleh order pelanggan, meskipun tidak dengan harga kakao petani.

Kemarin, saya beli 3 bungkus cokelat dengan harga lebih murah dari biasanya, terus dapat diskon waktu beli produk perawatan tubuh. Padahal, saya jomblo. Ah, semua begitu sama di hadapan Valentine. Jadi, siapa bilang jomblo adalah warga negara yang enggan merayakan Valentine?

Pricing strategy, begitu istilahnya dalam marketing. Ada banyak ragamnya, seperti poin member, kupon, free merchandise, diskon kuantitas, diskon promo, hingga seasonal discount alias diskon musiman seperti yang kita rayakan pertengahan Februari ini.

Baca juga: Valentine Bukan Budaya Kita, lalu Budaya Kita Apa? Nge-julid?

Diskon berpengaruh secara psikologis. Konsumen seolah-olah dibikin merasa rugi, jika melewatkan kesempatan membeli produk dengan harga lebih murah dari hari biasanya.

Jika tahun baru masehi waktunya cuci gudang, tahun baru imlek waktunya ngasih angpao berupa cashback, Valentine Day waktunya jual barang berpasang-pasang hingga jualan gengsi sosial. Kan mayan tuh, bisa pesan set menu romantic dinner di restoran atau hotel dengan harga spesial. Bisa update Instastory pake hashtag #myvalentinedate with pacar.

Begitulah Valentine, salah satu dari banyaknya momen di kalender untuk menerapkan seasonal discount. Kalian sepasang kekasih nggak usah terlalu ge-er menganggapnya sebagai hari paling sakral untuk pacaran, pun yang jomblo nggak perlu merasa paling menderita. Kita sama-sama bisa menikmati promo harga. Jadi B aja, ye kan?

Seasonal discount ini sebenarnya kurang greget bagi ritel-ritel besar. Oleh mereka, discounting diberlakukan setiap waktu tanpa kenal momen. Salah satunya peritel Indonesia yang logonya hampir menyerupai plungkeran obat nyamuk bakar, memberlakukan strategi diskon kuantitas dimana bikin kita selalu merasa rugi kalau cuma beli sepasang sepatu atau kemeja.

Baca juga: Valentine, Bagaimana denganmu?

Banyak ketentuan dibuatnya, semacam beli dua gratis satu, beli minimal 150K dapet kupon 50K, beli dua produk bermerek sama gratis satu item dengan merek sama, dan lain-lain. Apalagi, makin banyak belanja, makin banyak juga akumulasi poin yang sewaktu-waktu dapat ditukar potongan harga.

Dengan model belanja seperti itu, konsumen seakan-akan dibuat selalu merasa untung jika belanja banyak. Tapi, benarkah harga yang kita beli jauh lebih murah dari total ongkos produksi? Wallahu A’lam. Jelasnya, sebagai ritel yang menyuplai banyak sekali produk, mereka harus pandai-pandai menghabiskan stok.

Selain lewat pricing strategy, propaganda iklan pun di-gaspol oleh perusahaan. Melalui kanal televisi swasta, masyarakat diberi pemahaman bahwa masalah kontemporer manusia abad ini adalah bau mulut, kulit gelap, rambut kusut, jentik jerawat, hingga ketek menghitam. Lebih canggih lagi, kini algoritma media sosial lihai melacak apa kebutuhan masing-masing individu.

Malamnya berbalas komentar sayang-sayangan di DM Instagram, paginya muncul iklan Get Valentine Premium Gift Box for Your Special One! Memang, jika ada yang paling perhatian ke kita, mungkin mereka adalah pasar yang ditopang oleh segala bisnis perbankannya.

Baca juga: Mending Mana sih, Budak Cinta atau Budak Korporat?

Begitulah produk harus diwacanakan. Agar perolehan margin tetap besar, roda bisnis tetap berputar. Pokoknya beli, beli, dan beli, bunyi falsafah disiplin ilmu pemasaran. Without marketing, capitalism would collapse, kata seorang ekonom.

Bahkan di Eropa dan Amerika, strategi marketing bisa ngalahin gerakan anti-branding yang diinisiasi Naomi Klein pada 1999 lewat buku berjudul No Logo. Brand-brand besar bisa menampiknya dengan mengubah strategi pemasaran melalui propaganda aktivisme. Misalnya, kedai kopi transnasional melabeli barang dagangnya dengan sertifikasi fair trade.

Ketika konsumen mulai rewel soal rantai nilai produksi yang timpang, kelestarian lingkungan, hingga isu-isu HAM seperti keadilan gender dan child labor, korporasi besar di hampir seluruh brand ternamanya membuat propaganda iklan yang humanis.

Misalnya, iklan pembalut yang memotret anak-anak perempuan di pelosok, iklan skincare yang secara sentimentil mengangkat isu leftover women di Tiongkok, dan iklan teh yang memotret petani-petani kecil di negara berkembang. Bahkan, merek es krim terkenal berlambang hati pernah memproduksi es krim dengan nama salah satu tokoh revolusioner dunia, Magnum Che(rry) Guevara.

The future of branding is activism, menurut presiden direktur Unilever Eropa dalam wawancara beberapa waktu lalu di situs web yang membahas isu-isu marketing.

Artikel populer: Jatuh Cinta kok Hitung-hitungan, Itu Hati atau Kalkulator?

Hayoo, kalau sudah begini gerakan-gerakan anti-kapitalisme punya celah kritik di mana?

Eh tapi… itu kan gaya branding di Eropa, benua yang dihuni banyak negara sekuler. Di Indonesia, konsumennya hanya rewel soal label halal. Padahal, yang dimaksud halalan thoyyiban itu terlalu wagu kalau hanya berupa label MUI, tanpa mau kritis soal relasi sosial di balik proses produksi barang konsumsinya.

Btw, selain bikin label halal, ternyata MUI di daerah malah ada yang juga bikin imbauan larangan perayaan Valentine. Ya apalagi kalau bukan, “Valentine itu haram, wahai rakyat Indonesiaaa..”

Yaelah, yang banyak memperingatinya kan para pelaku industri, baik kafe, ritel, resor, dan hotel. Kita-kita sebagai konsumen sih sekadar tak kuasa menikmati promonya.

Sama seperti Lebaran dan Natal yang dinikmati oleh semua umat beragama. Sebab, di hadapan tanggal merah, semua buruh sama-sama bahagia. Maka, di hadapan hari Valentine, semua konsumen sama-sama senang belanja. Bukan soal selebrasi kemesraan, tapi soal promo dagangan.

Dengan begitu, jomblo bukan warga negara yang termarjinalkan pada Hari Kasih Sayang. Happy (promo) Valentine’s Day, ya mblo…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.