Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Trailer Film Joker (Warner Bros)

Di antara semua superhero, Batman selalu ada dalam daftar terbawah karakter favorit saya. Mengapa? Sebab Batman memberi gambaran bahwa kita bisa dengan mudah menjadi pahlawan super berkat kekayaan dan privilese.

Batman atau Bruce Wayne yang merupakan salah satu pentolan DC Universe ini mirip dengan Iron Man atau Tony Stark kalau di Marvel Cinematic Universe. Namun, Tony Stark dianggap masih lebih kaya dan cerdas dibanding Bruce Wayne.

Berbeda dengan superhero lain, baik di kubu Marvel maupun DC, dimana menjadi pahlawan super itu berarti mampu menekan dan melampaui batasan yang ada dalam diri. Misalnya, si pendiam Clark Kent (Superman) yang jarang dilirik orang, si mahasiswa aneh Peter Parker (Spider-Man) yang bahkan sulit menatap orang yang ia cintai, atau Doctor Strange yang hancur dan bangkit dari palung terdalam hidupnya.

Eh tapi, Batman setidaknya masih blak-blakan ngaku kaya raya daripada calon pejabat kita yang seantero negeri ini sudah tahu dia kaya dan bisa kuliah di Amerika, tapi masih saja pura-pura miskin dan menderita.

Baca juga: Ulasan ‘Captain Marvel’ dan Prediksi ‘Avengers: Endgame’

Balik lagi ke Batman. Dalam film The Dark Knight, Batman menggambarkan bahwa baik dan buruk itu dinamis. Kamu nggak harus menjadi begitu menderita, tersingkirkan, dan direndahkan untuk menjadi seorang pahlawan. Tumpukan uang dan privilese bisa menjadi senjata terkuat untuk menolong orang lain.

Di sisi lain, miskin dan tertindas dapat menciptakan seseorang menjadi penjahat seperti Joker. Hal inilah yang membuat saya tidak terlalu menyukai Batman. Sebab, bagi mereka yang memahami pengalaman hidup Joker yang penuh dengan kesengsaraan, Batman bukanlah seorang pahlawan.

Berbagai jenis kejahatan Joker tidaklah hadir tanpa sebab, seperti yang selama ini terlihat di permukaan. Kejahatan ini hadir dari kesintingan dan kegagalan fungsi kognisi dan afeksi seorang Joker. Kegagalan fungsi psikis ini sesungguhnya disebabkan oleh kekerasan yang ia terima terus menerus dalam periode yang panjang. Kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat maupun negara.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof Jamil Salmi dalam bukunya Violence and Democratic Society, kemiskinan dan ketidakadilan sosial di negara kapitalis adalah bentuk jelas dari kekerasan karena pembiaran.

Baca juga: ‘Crazy Poor Asians’ yang Tak Kalah Seru dan Perlu

Joker hanyalah satu dari jutaan manusia di berbagai negara yang dibiarkan jatuh dalam kubangan kekerasan tanpa pertolongan. Ketika tokoh semacam Batman yang penuh privilese dan gelimang harta memilih untuk menjadi pahlawan super ketimbang membereskan akar masalah.

Nah, film Joker yang bakal tayang pada Oktober 2019 tampaknya tidak akan terlalu banyak mengubah alur cerita komik Batman: The Killing Joke. Joker tetaplah komedian miskin yang tak mampu terserap oleh pasar dalam pertarungan dunia hiburan, yang pada akhirnya terpaksa merampok demi menghidupi istrinya.

Sialnya, setelah kematian sang istri, Joker harus berhadapan dengan Batman yang membuatnya tercebur ke dalam lautan kimia. Sementara Batman, alih-alih mencari tahu mengapa begitu banyak perampokan terjadi di kota Gotham, malah lebih memilih memberantas pelaku kejahatan daripada akar masalah.

Yah, kalau nggak gitu, nggak kelihatan heroik kan? Kalau nggak heroik bin dramatis, nggak laku filmnya atau bahkan nggak bakal ada film Batman maupun Joker.

Baca juga: Mengungkap Sisi Lain Venom yang Terhubung Langsung dengan Kita

Tapi, sesungguhnya ada begitu banyak Batman dalam hidup kita. Dengan kekayaan yang berlimpah, mereka bisa lebih mudah menjadi pahlawan. Bukan dengan main hakim sendiri, melainkan turut memberantas kemiskinan dan memberi kesempatan bagi orang-orang yang tidak beruntung.

Sementara itu, masyarakat kita terkadang cenderung seperti penduduk Gotham yang membentuk para Joker. Tatapan sinis kita kepada para pencopet dan maling yang dipukuli warga sama menyedihkannya dengan penduduk Gotham. Kita seolah-olah menjadi superhero yang menghantam sedemikian rupa. Kita lupa, mengapa begitu banyak orang miskin yang mencuri daripada bekerja?

Ya bahkan mendengar kata kemiskinan saja terkadang membuat kita membayangkan yang hina-hina. Bukankah hidup seperti yang diungkapkan oleh penggemar Maudy Ayunda? Bahwa keberhasilan adalah buah dari usaha. Maka, Joker hanyalah penjahat pemalas di mata kita. Ye kan?

Artikel populer: Berbagai Versi Akhir Cerita ‘Game of Thrones’ Berdasarkan Kepribadian Penonton

Padahal, lebih dari itu, Joker mengajarkan kita satu hal. Ini bukan membela penjahat, tapi coba lihatlah lebih dalam. Cobalah menanggalkan privilese kita sejenak dan memahami pengalaman orang lain. Mengapa manusia bisa menjadi jahat? Bahkan, iblis pun tidak terlahir sebagai makhluk jahat sampai ia berseteru dengan Adam.

Kejahatan tidak terjadi begitu saja. Kejahatan cenderung hadir pada mereka yang merasa gagal. Pada mereka yang jatuh dan tidak mampu bangkit lagi.

Ada begitu banyak Joker yang kita kenal di dunia nyata. Mereka tercipta bukan karena faktor genetik, tapi justru kita lah yang terkadang ikut melahirkan dan membentuk mereka menjadi Joker-Joker dalam hidup ini. Ya betul, karena hidup adalah komedi tragedi.

6 COMMENTS

  1. Setuju nih. Belum lagi kalo ngomongin soal harvey dent di the dark knight yang tadinya terkenal popularitasnya sebagai pengacara pembela kebenaran trus gara2 kehilangan pacarnya sama separuh mukanya gara2 kasus yang sama dengan yang dipegang batman, akhirnya jadi supervillain yang bermacam-macam mental disorder.

  2. Alah lu tau batman paling baru2 ini doang, pemikiran lu juga ga original, nyomot ide nya ras al ghul, lagian yang berjuang buat gotham itu bukan cuman batman tapi bruce wayne juga dengan cara yang berbeda.

  3. Maaf mba jameelah, emang tulisanya bagus tapi ga tepat. Batman dan Bruce Wayne itu 2 karakter yang berbeda dan mereka punya cara sendiri buat memperbaiki gotham, terus joker ngelakuin kejahatannya itu setau aku dia tanpa tujuan, dia ngelakuin semua itu just for fun, beda dengan penjahat lain seperti Ras al ghul, penguin, mr freeze, poison ivy dll. Tulisan mbak itu mirip dengan apa yang di utarakan Ras al ghul terhadap gotham, makanya solusi dia mau bersihin gotham dengan cara yang exteme.
    Diantara semua super hero Batman itu superhero yang paling baik, dia ga jadiin membunuh buat solusi, bahkan dia masih peduli sama penjahat kaya Joker yang sudah ngebunuh jason todd anak didik batman.

  4. Dear mas, ini kan review the killing jokes bukan batman begins 😉, for sure saya cuma ngomongin joker disini, mohon maaf yah kalau mas fans nya batman terusik. Tapi ini pemahaman pribadi saya sebagai pembaca. Btw kalau ga setuju balesnya pake tulisan dong..

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.