Jakarta (Image by iqbal nuril anwar from Pixabay)

Selama pandemi Corona, kesenjangan sosial makin terlihat jelas. Satu sisi, ada yang bisa mengikuti imbauan pemerintah untuk swakarantina di rumah dengan stok makanan bergizi guna meningkatkan imunitas. Di sisi lain, ada yang terpaksa turun ke jalanan untuk menyabung nyawa di tengah ancaman wabah. Bagi mereka, tidak kerja berarti tidak makan. Berbeda dengan juri masak yang kerjaannya memang makan.

Terlebih, Jakarta kini menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk meredam penyebaran virus Corona. Kebijakan ini bakal terasa berbeda dampaknya bagi masyarakat. Bagaikan hujan deras di film Parasite, keluarga kaya masih bisa berteduh di rumahnya yang nyaman, sementara yang miskin harus mengungsi karena tempat tinggalnya kebanjiran.

Nah, setelah film Parasite versi hitam-putih dirilis, sepertinya Bong Joon-ho perlu membuat Parasite versi PSBB dengan setting Jakarta. Cocok banget. Saya membayangkan ceritanya mungkin seperti ini:

Keluarga Pak Rasyid beranggotakan empat orang pengangguran. Sehari-harinya mereka menyambung hidup dengan menjadi tenaga lepas, salah satunya menjahit masker kain.

Suatu hari, Ridwan alias Kiwong selaku anak laki-laki tertua ditawari sebuah pekerjaan oleh sahabatnya. Dengan kekuatan ordal (orang dalam), Kiwong yang hanya lulusan SMA didorong untuk menjadi guru les untuk murid SMA.

Baca juga: Pembatasan Sosial, Buruh dengan Upah Harian Bisa Apa?

Alasan sahabatnya berhenti bekerja sebagai guru les karena ingin mudik sebelum kampungnya di-lockdown. Sementara, murid yang diajarnya tetap membutuhkan guru, terlebih ada arahan sekolah untuk belajar dari rumah.

Mengemban harapan besar dari keluarga, Kiwong pakai masker keluar rumah, menuju ke rumah Keluarga Sutaman untuk melamar pekerjaan. Sebelum masuk rumah Pak Taman, Kiwong ditembak pakai thermometer gun oleh asisten rumah tangga. Kiwong membayangkan kalau yang terlihat hasilnya bukan suhu tubuh, tetapi status sosialnya: misqueen. Apakah tetap dibolehkan masuk?

Setelah itu, Kiwong pakai hand sanitizer dan masuk bilik disinfektan. Selama di bilik, Kiwong kegirangan. Sebab ia mencontoh keceriaan Ibas Yudhoyono di video yang viral itu.

Ketika wawancara, Kiwong menjawab segala pertanyaan Nyonya Taman sebagai user dengan tenang dan meyakinkan. Sebagian besar jawaban adalah kebohongan. Sebelum jadi guru les, Kiwong harus jago ‘ngeles’.

Nyonya Taman adalah seorang ibu rumah tangga sosialita. Saat pemerintah mewajibkan warga sipil pakai masker, Nyonya Taman mematuhi aturan tersebut. Ia pakai masker di rumah, tapi masker bengkoang. “Nggak menangkal virus, tapi bikin kulit wajah jadi glowing,” Nyonya Taman memberikan testimoni.

Baca juga: Nonton Drakor tentang Perselingkuhan yang Bikin Pikiranmu Jadi ‘Glowing’

Di rumah Pak Taman, Kiwong bertemu dengan Yuni, anak gadis di rumah itu yang harus diajarinya Bahasa Inggris. Namun, dalam perjalanannya, Kiwong juga mengajari Yuni bahasa perasaan. Keduanya jatuh cinta dan membuat janji kencan setelah pandemi usai.

Sebagai guru les, Kiwong dapat fasilitas tempat tinggal di paviliun. Alasannya, supaya tidak mondar-mandir. Pak Taman takut Kiwong bawa virus dari luar rumah. Akhirnya, Kiwong dikarantina walaupun bukan akademia AFI.

Tidak boleh pulang ke rumah, Kiwong kepikiran untuk mengajak keluarganya ke rumah Pak Taman. Kiwong membuat rencana supaya adiknya yang pintar memalsukan dokumen bisa bekerja. Kiwong pun memberikan ide kepada Nyonya Taman.

“Walaupun tidak boleh ke luar rumah, Nyonya tetap bisa upload foto di Instagram sedang jalan-jalan keliling dunia,” cetus Kiwong.

“Gimana caranya?” Nyonya Taman penasaran.

“Edit foto. Saya punya teman yang jago Photoshop,” jawab Kiwong.

Akhirnya, adik Kiwong bekerja di sana sebagai admin Instagram keluarga.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Tinggal di rumah Keluarga Taman, Kiwong mengetahui sebuah rahasia. Bik Surti, asisten rumah tangga di rumah itu, porsi makannya dobel.

Tahu aib Bik Surti, Kiwong mengompori Nyonya Taman. “Kok Bik Surti makannya banyak ya? Padahal, dalam kondisi susah seperti ini, bukannya kita harus berhemat? ART seperti Bik Surti inilah yang bikin citra orang kaya jadi jelek karena dikira panic buying, padahal emang makannya banyak.”

Termakan hasutan Kiwong, Nyonya Taman memecat Bik Surti dan memintanya angkat koper dari rumah itu.

Ibu Kiwong pun jadi ART baru di sana.

Selanjutnya, sopir keluarga yang jadi korban fitnah. Kiwong menuduh sang sopir punya gejala Corona karena sering batuk. Padahal, jenis batuknya hanyalah kode minta uang rokok ke Pak Taman. Sang sopir pun dirumahkan, eh terus dirumahsakitkan.

Akhirnya, ayahnya Kiwong, yaitu Pak Rasyid yang diangkat jadi sopir dan tukang kebun sekaligus petugas kebersihan merangkap penyemprot disinfektan.

Suatu hari, Keluarga Taman bosan di rumah saja. Akhirnya, mereka memutuskan pergi piknik ke puncak.

Tinggal lah Keluarga Pak Rasyid di rumah. Mereka langsung bersantai dan memanfaatkan segala fasilitas di rumah mewah itu seolah yang empunya.

Saat itulah, Bik Surti kembali ke rumah Pak Taman dan memaksa masuk. Ternyata, Bik Surti menyembunyikan suaminya di gudang bawah tanah. Selama ini, Bik Surti menyelundupkan makanan ke gudang untuk suaminya yang sudah menerapkan isolasi mandiri, jauh sebelum ada wabah Corona.

Artikel populer: Macam-macam Karakter Pacar Berdasarkan Cara Kerja Menteri Hadapi Pandemi

Namun, sejak Bik Surti dipecat, suaminya di gudang tidak dapat suplai makanan lagi. Untunglah, ketika pelaksanaan PSBB, ada bantuan sosial untuk warga miskin dari pemerintah. Bik Surti pun mengeluarkan suaminya dari persembunyian. Mereka sudah tidak perlu jadi parasit di rumah Pak Taman. Sebab, mereka dapat jatah sembako gratis.

Yang tidak diketahui oleh Keluarga Pak Rasyid, sejak Bik Surti keluar rumah, ia terpapar virus Corona. Alhasil, Bik Surti tak sengaja menularkan virus ke suaminya dan Keluarga Pak Rasyid. Keluarga Pak Rasyid pun menularkan virus ke Keluarga Taman.

Akhir cerita, mereka reuni di ruang isolasi RS sebagai status PDP alias pasien dalam pengawasan. Bukti bahwa virus Corona tidak memandang kelas sosial. Jadi, pelaksanaan PSBB harus disukseskan. Semoga pandemi segera berakhir, dan kesenjangan sosial tidak semakin lebar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini