Jika Protagonis di Film-film Ini Ikut Demo Bareng Mahasiswa

Jika Protagonis di Film-film Ini Ikut Demo Bareng Mahasiswa

Rangga dan Cinta (Miles Films)

Sepertinya DPR dan pemerintah kita sedang error sampai bisa muncul RUU-RUU ngawur. Akhirnya, para mahasiswa turun ke jalan untuk memberikan kuliah kepada para penguasa.

Demonstrasi adalah hak rakyat yang tinggal di negara demokratis. Orang-orang yang sebelumnya sudah demotivasi akibat putus cinta dan patah hati karena dilupakan mantan, sampai ikut berdemo. Tanda urgensinya sudah sangat tinggi. Motivasinya, cukup hati para sadbois yang ambyar, negara jangan.

Setiap orang berunjuk rasa dengan caranya masing-masing. Mahasiswa turun ke jalan, pengguna KRL memberikan semangat, bahkan influencer seperti Awkarin sampai turun tangan membagi-bagikan nasi kotak kepada para mahasiswa yang aksi. Tak terkecuali Cinta, eh maksudnya Dian Sastrowardoyo.

Dian Sastro mengkritik revisi KUHP yang menurutnya misoginis. Namun, komentar pemeran utama Ada Apa dengan Cinta? (AADC) itu dimentahkan oleh Yasonna Laoly selaku Menteri Hukum dan HAM. Menurut Pak Yasonna, Mbak Dian tak membaca keseluruhan isi revisi KUHP sebelum komentar, jadi terlihat bodoh.

Woah, woah, woah.

Kontan saja, Cinta menanggapi dengan berkata, “Apa yang kamu lakukan itu jahat!” Tapi itu kalau Cinta yang bereaksi, dalam bayangan di kepala saya. Kalau Mbak Dian sih tetap chill menanggapinya. Baginya, lebih baik merasa bodoh dan terus belajar, daripada sudah merasa tahu semuanya. Mau dibilang bagaimana pun, dia tidak akan bungkam.

Baca juga: Pak Jokowi, Saya Titip Surat Ini, Surat untuk Kaum Oligarki

Pak Yasonna sendiri merasa pihaknya belum melakukan sosialisasi dengan baik, jadi banyak simpang siur di masyarakat. Namun, mengucapkan kata “bodoh” adalah perkara lain, Pak. Kalau Rangga sampai tahu, doi bisa marah. Tak hanya Rangga, fanboy AADC dari segala penjuru negeri pun bisa tersulut emosinya.

Kalau memang ada di kehidupan nyata, Rangga pasti sudah ikut demo sejak jauh-jauh hari. Untuk apa orang introvert itu sampai ikut aksi? Tentu saja untuk menuntut pemerintah menindak tegas kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dengan karton bertuliskan puisi-puisinya, Rangga berdiri menantang…

Kulari ke hutan, kemudian teriakku,

“Kebakaran! Kebakaran!”

Kulari ke gedung DPR, kemudian menyanyiku,

“Entah apa yang merasukimu? Wak! Wak!”

Lengkap dengan sketsa burung gagak yang digambar sendiri.

Rangga yang sewaktu muda piawai menulis puisi akhirnya berprofesi sebagai penulis ketika dewasa. Dengan RKUHP yang bisa mengancam kebebasan berekspresi dan pers, Rangga bakal tergerak untuk memperjuangkan demokrasi yang diperjuangkan oleh alter egonya yang lain, yaitu Gie.

Baca juga: Cinta Dikebiri, Pernikahan Jadi Komoditas: RKUHP

Di kehidupan nyata sendiri, pernah terjadi seorang artis sinetron yang stay in character, yaitu Rieke Diah Pitaloka. Pemeran Oneng di sitkom Bajaj Bajuri tersebut rajin mendemo pemerintah setiap harga BBM dinaikkan.

Bukankah wajar seorang Oneng unjuk rasa ketika BBM naik sekaligus membela wong cilik? Sebab, kebijakan pemerintah itu berimbas langsung kepada mata pencaharian suaminya, yaitu Bang Juri yang berprofesi sebagai supir bajaj. Harga BBM naik bakalan mengurangi jumlah setoran Bang Juri ke Emak. Rumah tangga Oneng dan Bajuri pun bisa terancam kalau Emak nggak ridho.

Dan, ketika tahu KPK dikebiri, saya pun membayangkan pemeran utama dalam film Catatan Akhir Sekolah ikut berdemo. Mereka adalah Arian (Vino G. Bastian), Agni (Ramon Y. Tungka), dan Alde (Marcel Chandrawinata).

Ketiga sahabat ini pernah membongkar perilaku korup kepala sekolah di SMA mereka sesaat sebelum hari kelulusan. Bayangkan, belum lulus SMA saja, mereka bertiga sudah memberantas korupsi. Bagaimana garangnya kalau sudah jadi mahasiswa?

Baca juga: Revisi UU KPK Tabrak Aturan, Bisa Digugat ke MK

Anggaplah Arian, Agni, dan Alde pakai jas almamater UI memimpin aksi mahasiswa. Arian (dulunya anak mading) mengangkat tinggi-tinggi karton yang bertuliskan, “DPR nggak konkret! Hukuman untuk koruptor lebih sebentar daripada lamanya penantian gue nungguin doi putus!”

Di sisi lain, Alde yang popularitasnya makin moncer, sibuk menolak permintaan mahasiswa-mahasiswi yang ingin selfie.

Kemudian, Agni yang provokatif memegang toa, “DPR dan pemerintah sama-sama tengil. Revisi UU KPK supaya penyadapan harus izin dulu. Itu namanya pelemahan KPK. Kalah sama gue dan temen-temen gue sewaktu masih SMA dulu. Kami pasang kamera di ruangan kepala sekolah! Kalau kami izin dulu, nggak bakalan ada ceritanya tuh Catatan Akhir Sekolah!”

Lalu, seumpama karakter Sherina dari film Petualangan Sherina juga ikut berdemo, mungkin dia akan mengangkat karton bertuliskan, “Hutan-hutan di Indonesia jangan dibakarin kalau hanya untuk ditanam sawit oleh Kertarajasa. Dia bagai seorang raja, dia yang paling berkuasa.”

Artikel populer: Harus Banget nih Ngurusin Selangkangan Orang Lebih Dalam?

Sementara itu, jika pasangan dalam film Dua Garis Biru, Bima dan Dara, turut menyuarakan aspirasi, Bima bakal menolak RKUHP yang memperluas makna pasal zina. Sebab, Bima bisa dipenjara dan anaknya, Adam, siapa yang akan menafkahinya? Negara?

Dara pun berorasi, “Tubuhku otoritasku, bukan otoritas negara. Udah dikeluarkan dari sekolah, masa harus masuk penjara?!”

Sedangkan Dilan gabung dengan anak STM, tapi Milea datang untuk mencegah Dilan nyerang.

Dan, seperti biasa, selalu ada yang ‘nebeng’ dalam setiap aksi besar. Kali ini, ceritanya dari pihak asing. Semisal, Harry Potter bersama koleganya dari Hogwarts dan Kementerian Sihir yang menyusup. Tuntutannya sederhana, penghapusan pasal santet di RKUHP.

“Muggle mana ngerti santet!”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.