Drama Move to Heaven. (Netflix)

Drakor Move to Heaven punya kesamaan dengan drakor Start-Up. Sejak episode pertama, kedua drakor itu memperlihatkan adegan mengharukan tentang seorang ayah yang meninggal dunia sesaat setelah lelah mencari nafkah. Di episode selanjutnya, sang anak melanjutkan usaha ayahnya.

Sosok ayah di drakor Move to Heaven adalah seorang petugas jasa trauma cleaner (pembersih trauma). Bersama anak semata wayangnya yang bernama Gu-ru, sang ayah bertugas membersihkan tempat tinggal dari orang yang sudah meninggal.

Mereka berdua telaten dalam memilah sampah peninggalan mendiang untuk dibuang. Serta memilih barang berharga penuh kenangan untuk diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan. Bisa dibilang ‘Move to Heaven‘ adalah layanan pindahan terakhir untuk manusia yang sudah harus bermigrasi dari dunia ke akhirat.

Di episode pertama, klien ‘Move to Heaven‘ adalah seorang pemagang yang meninggal di kamarnya setelah mengalami kecelakaan kerja di pabrik. Sewaktu Gu-ru dan ayahnya membersihkan TKP, ditemukanlah ponsel milik mendiang.

Baca juga: Seandainya Nanno “Girl from Nowhere” Pindah ke Indonesia

Dari chat di ponsel mendiang terkuaklah bahwa bos pabrik tidak mengizinkan anak buahnya itu tidak masuk kerja, padahal baru saja tertimpa musibah. Bukannya bantu membawa pekerjanya yang cedera untuk berobat ke rumah sakit, si bos malah mengancam akan memecatnya kalau tetap tidak masuk kerja.

Kalau saja tangkapan layar chat dari si bos itu di-spill oleh HRD Bacot di Twitter, mungkin warganet bakalan geram dan mendesak Disnaker untuk memberikan sanksi ke mandor kawat tersebut.

Semasa hidupnya, mendiang bertekad menjadi karyawan tetap supaya hidup orangtuanya menjadi nyaman. Betapa sederhana cita-citanya, tetapi sungguh mulia. Namun, ternyata perusahaan impiannya justru tidak menghargai hak-hak pekerja. Mungkin mendiang terlalu baik untuk perusahaan nakal itu.

Selain pencapaian karier yang belum terwujud, mendiang juga meninggalkan rahasia dalam hatinya yang sampai akhir hayat belum terungkap. Di kamarnya ditemukan koleksi struk belanja dari minimarket yang sama. Gu-ru dan ayahnya berpendapat bahwa mendiang sangat suka makanan diskonan yang dijual di minimarket dekat tempat tinggalnya.

Baca juga: Jika Drakor Start-Up Diadaptasi Menjadi Sinetron Indonesia

Nyatanya, mendiang rutin berbelanja ke minimarket itu karena ingin bertemu dengan sang kasir. Setiap hari ia ingin melihat wajah gadis yang ditaksir tersebut. Sayangnya, perasaan cinta itu tetap terpendam sampai akhir.

Di episode kedua, Gu-ru harus melanjutkan pekerjaan ‘Move to Heaven‘ bersama sang paman, selepas kepergian ayahnya yang mendadak. Pamannya yang baru keluar dari penjara ditunjuk menjadi wali untuk Gu-ru.

Gu-ru mengidap sindrom Asperger, yaitu kondisi yang membuat orang mengalami canggung dalam hubungan sosial. Namun, pamannya Gu-ru malah bersikap asosial dan cenderung tidak peduli dengan kondisi Gu-ru yang spesial.

Namun, lambat laun, sang paman yang acuh tak acuh menjadi pelindung untuk Gu-ru. Mengingatkan kita dengan kerja sama antara Spongebob dan Squidward ketika dipaksa Tuan Krabs untuk menjadi pengantar pizza dadakan. Spongebob menjalankan tugasnya dengan patuh. Sementara, Squidward menjadi pembela rekan kerjanya ketika bertemu pelanggan yang kejam.

Baca juga: Maunya Tetangga Kayak di Drakor Reply 1988, Nyatanya Tetangga Masa Gitu?

Layanan ‘pembersih trauma’ ini memang betul-betul ada di kehidupan nyata. Ide cerita Move to Heaven sendiri berawal dari esai berjudul “Things Left Behind” yang ditulis oleh Kim Sae-byul, seorang mantan ‘pembersih trauma’.

Seandainya layanan ‘Move to Heaven‘ membuka cabang di Indonesia, mungkin kreator konten di Youtube bisa menjadi klien pertama. Sebab Youtuber kadang tetap membuat konten kabar duka demi konsistensi berkarya, termasuk ketika salah satu orangtuanya meninggal dunia. Sementara, layanan ‘Move to Heaven‘ punya esensi sebaliknya: menghapus jejak mendiang.

Kreator konten itu kemudian sangat terpukul karena mengetahui bahwa sampai akhir hayat orang tua tidak mendukung profesinya sebagai penghibur dunia maya. Sebab orangtuanya tersebut ingin si anak menjadi PNS yang digaji negara, bukan digaji Google.

Sewaktu pembersihan, petugas ‘Move to Heaven‘ menemukan ponsel mendiang. Dari histori tontonannya terkuak bahwa semasa hidupnya selalu menonton vlog sang anak di Youtube. Bahkan videonya kerap beliau bagikan di grup warga kompleks.

Artikel populer: Ketika Negara Menjadi “A Quiet Place” Tanpa Wujud Monster seperti di Film

Mendapati mendiang ternyata peduli padanya, sang kreator konten pun menangis. Ia menyesal selama ini menggencarkan perang dingin kepada orangtuanya karena perbedaan pendapat. Padahal kasih sayang orang tua sepanjang jalan, tidak sependek durasi video klarifikasi blunder influencer.

Terinspirasi dari layanan ‘Move to Heaven‘, ia berniat membersihkan jejak digitalnya sendiri. Sejak itu, ia menghapus konten-konten di kanalnya yang tak berfaedah seperti prank ojol, podcast yang mengumbar aib, dan mukbang yang bikin mubazir makanan.

Ia bertekad untuk menyajikan karya yang bermanfaat dan sebisa mungkin tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Bersikap baik di depan kamera maupun ketika tidak disorot lensa. Sebab bisa saja tanpa dijadikan konten di Youtube pun, orangtuanya yang sudah berada di surga sedang menonton kegiatan sang anak di dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini