Jika Keluarga Cemara Disutradarai Ernest Prakasa, Joko Anwar, dan Sineas Lainnya

Jika Keluarga Cemara Disutradarai Ernest Prakasa, Joko Anwar, dan Sineas Lainnya

Keluarga Cemara (Visinema Pictures)

Dalam versi reborn, boleh saja film Keluarga Cemara diplot jadi miskin papa, tapi Abah dan Emak beruntung punya anak-anak yang pengertian dan mau hidup prihatin.

Euis si sulung mau menahan malu berjualan opak di sekolah. Ara yang namanya dijadikan nama keluarga ini, Cemara, selalu ceria dan bisa memandang dunia dengan riang gembira kendati dalam kondisi paling sulit. Agil? Baru lahir.

Kalau memakai format seperti film waralaba X-Men produksi 20th Century Fox, harusnya film ini diberi judul Keluarga Cemara Origins: Agil. Sebab, ceritanya bergulir bersamaan dengan hamilnya Emak mengandung jabang bayi Agil.

Film Keluarga Cemara menjadi lovable karena diarahkan oleh sutradara yang mumpuni. Adalah Yandy Laurens yang sebelumnya pernah mengaduk-aduk hati penonton webseries di YouTube berjudul Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode.

Well played, dude…

Lantas, bagaimana kalau Keluarga Cemara yang merupakan kisah mengharukan Abah, Emak, Euis, dan Ara ini disutradarai oleh sineas-sineas lainnya? Bisa jadi begini ceritanya…

Ernest Prakasa

Sebagai komedian, Ernest terkenal kocak. Bikin iklan imbauan Milly & Mamet tentang ‘Tata Krama di Bioskop’ saja bisa pecah banget. Ciri khas Ernest juga bisa dilihat dari pemilihan cast: ia biasa bawa rombongan teman-temannya dari panggung stand up comedy.

Baca juga: Pentingnya yang Ngebet Nikah Nonton Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga)

Akibatnya, lokasi syuting jadi seperti Kampung Komika. Di tangan Ernest, film Keluarga Cemara bisa lebih nyeleneh. Sosok Euis bisa saja bukan diperankan oleh Zara JKT48, melainkan jatuh ke Arafah Rianti dengan persona polosnya.

Di salah satu adegan, Emak minta tolong, “Euis, nanti ke sekolah kamu jualan opak ya.”

Arafah sebagai Euis nyahut, “Hah? Jualan oppa? Kok Euis disuruh jual cowok-cowok Korea? Euis nggak mau ah. Nanti Euis dituduh human trafficking. Nggak boleh gitu, Mak. Kita memang rakyat miskin, tapi jangan melanggar HAM.”

Emak tepuk jidat, “Aduh, Euis. Bukan Oppa Korea, tapi opak kerupuk.”

“Oh, bilang dong.” Euis nyengir sambil ngemil opak, barang jualannya sendiri, sampai habis.

Yhaaa….

Joko Anwar

Sebelum mereguk untung gede-gedean sebagai dalang utama Pengabdi Setan, Joko Anwar sudah matang jadi sutradara dengan film Janji Joni. Film pertamanya tersebut bercerita tentang pengantar roll film yang mengalami satu hari yang buruk dalam menjalankan profesinya.

Nah, kebetulan di film Keluarga Cemara, Abah berprofesi sebagai driver Gojek. Abah adalah Joni versi kekinian. Di tangan Joko Anwar, Film Keluarga Cemara bisa lebih menghadirkan kritik sosial yang kuat, dengan menghadirkan adegan-adegan tragis.

Baca juga: ‘Pengabdi Setan’ dan Kisah Hantu Perempuan: Simbol Adanya Kekerasan terhadap Perempuan

Ketika jadi ojek online untuk mengantar makanan pesanan, Abah sempat turun dari motor untuk membantu kakek-kakek menyeberang jalan. Ketika menolong, motornya malah dicolong.

Melihat motornya dibawa kabur orang, Abah langsung berniat menelepon rekan sesama ojol untuk minta bantuan. Ketika mengeluarkan smartphone, dijambret preman.

Apa boleh buat, Abah naik bus ke rumah pelanggan. Pas ditagih ongkos oleh kernet, dompetnya udah nggak ada, ternyata kecopetan. Akhirnya, Abah diturunkan di jalan dan terpaksa jalan kaki.

Eh, masih sial juga, Abah ketabrak pengendara motor yang naik trotoar. Ketika Abah sudah terkapar di jalan, warga sekitar bukannya nolongin orangnya, malah menyelamatkan makanannya. Kebetulan makanannya adalah pizza yang memang enak dimakan ramai-ramai.

The Mo Brothers

Duet sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel melahirkan film orisinal Netflix berjudul The Night Comes for Us yang turut membantu Iko Uwais melanggengkan karier di dunia persilatan sinematik.

Baca juga: Inilah yang Terjadi Kalau Bumblebee dan Transformer Lainnya Turun di Indonesia

Bisa dibayangkan cerita Keluarga Cemara bakalan jadi seru dan menegangkan, apabila The Mo Brothers yang duduk sepangku di kursi director.

Sewaktu ulang tahun Euis, Keluarga Cemara didatangi gerombolan preman yang mau menyita rumah. Namun, Emak tidak mau menyerahkan hartanya kepada orang lain semudah itu. Emak pun menghajar para preman itu dengan jurus silat. Perabotan rumah tangga dipakai sebagai properti berkelahi.

Euis tidak tinggal diam ketika dikepung preman dari empat penjuru mata angin. Ia turut memamerkan ilmu beladiri yang didapatnya dari akademi JKT212. Yang mengejutkan, kecil-kecil Ara juga ternyata bisa silat. Tapi cuma silat lidah.

Ketika Abah pulang, kondisi rumah sudah acak-acakan. Preman-preman berceceran di mana-mana. Abah malah jadi marah, “Iya sih kalian ngalahin preman buat mempertahankan rumah, tapi jadinya rumah kita ancur karena kalian pakai arena bertarung. Rumah kita jadi nggak layak huni. Ujung-ujungnya, kita harus pindah rumah juga. Bisa nggak sih tadi kalian berantemnya di luar?”

Anggy Umbara & Rocky Soraya

Kolaborasi sutradara ini telah meraup sukses dengan film Suzzanna reborn. Anggy Umbara sudah berpengalaman bikin film jadul jadi kekinian dan segar, buktinya Warkop DKI Reborn. Sementara Rocky Soraya adalah jagoan di jagat film horor. Jadilah film Suzzanna bisa agak menyeramkan, tapi tetap ada lucu-lucunya sedikit.

Artikel populer: Seandainya Para Putri Disney Menanti Pangeran di Indonesia

Kalau Anggy Umbara dan Rocky Soraya turun tangan, film Keluarga Cemara pun bisa jadi film horor semacam The Conjuring.

Ketika pindah ke rumah Aki di pelosok, Keluarga Cemara mengalami kejadian mistis. Ternyata rumah tersebut ada penunggunya. Ketika mencoba tidur di kamar, Euis merasakan ada sesosok makhluk di sebelah tempat tidurnya.

Euis pun langsung panik keluar kamar dan lapor ke Abah dan Emak. “Mak, Bah, Euis nggak mau tinggal di sini. Di sini ada penunggunya. Serem. Kita balik ke Jakarta aja yuk.”

Kemudian dari kamar, keluarlah sesosok kakek-kakek pucat, seraya berujar, “Ya emang masih ada penunggunya. Ya Aki ini penunggunya. Aki kan belum mati.”

Abah jadi canggung dibuatnya. “Eh, Abah belum cerita ya? Jadi, kita di sini tinggal bareng Aki. Hehehe.”

Michael Bay

Keluarga Cemara identik dengan becak. Namun, di versi filmnya, becak hanya sebagai hiasan sentimentil untuk menghargai nilai historis yang diwariskan oleh cerita terdahulu edisi layar kaca. Jika sutradaranya adalah filmmaker bule macam Michael Bay, properti becak akan dimanfaatkan dengan optimal.

Sewaktu menemukan becak di gudang, Abah tanpa sengaja mengaktifkan robot dari Planet Cybertron. Ternyata becak tersebut adalah jelmaan Transformer. Becak pun berubah wujud menjadi robot.

Alhasil Abah lari ketakutan, mengajak keluarganya kabur. Mereka menyelamatkan diri dari berbagai ledakan dan tembakan yang dihasilkan dari perang Autobots vs Decepticons di pesawahan Bogor. Pelarian Keluarga Cemara pun diiringi lagu Linkin Park Sunda Version, lengkap dengan alunan suling.

Jadi balik ke Jakarta nggak, Bah?

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.