Foto: MasterChef Indonesia/RCTI

Sampai memasuki season 7, tidak ada peserta MasterChef Indonesia yang bisa menyaingi reputasi Chef Juna. Anggapan bahwa juri MasterChef lebih terkenal daripada peserta, masih relevan. Padahal, konsep ajang pencarian bakat adalah menemukan bakat terpendam amatiran dan mengorbitkannya sebagai bintang baru dunia hiburan.

Bisa dibilang juri MasterChef terkenal karena komentar yang tajam. Kalau soal marah-marah, Chef Juna jagonya. Melepehkan masakan, Chef Arnold juga bisa. Sementara, Chef Renatta diam saja sudah bisa bikin peserta grogi.

Namun, ketika memuji masakan peserta, tidak sebanding dengan kritikan pedas yang selama ini terlontar. Pujian juri untuk peserta MasterChef bagaikan gerimis di tengah kemarau. Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni selain peserta MasterChef.

Padahal, salah satu juri, semisal Chef Renatta. Ketika ketemu makanan yang enak, bisa saja meneteskan air mata karena terharu bahagia. Atau, Chef Arnold bisa juga mendadak puitis setelah merasakan kelezatan masakan peserta: “Rasanya saya ingin menyatakan cinta pada makanan ini sembari mengecupnya. Lalu mengajaknya jalan-jalan ke mal, nonton bioskop, dan mengabadikan momen intim berdua di photobooth. Terakhir, saya ajak pulang ke rumah untuk dikenalkan kepada kedua orangtua saya.”

Baca juga: Lelaki Memasak di Dapur Itu B Aja

Kemudian, Chef Juna. Untuk mengesankan betapa enaknya masakan peserta, setelah makan, Chef Juna bisa langsung berubah menjadi Super Saiya. Lalu terbang meninggalkan galeri MasterChef, melesat menuju Planet Namek.

Namun, tentu saja adegan seperti itu tidak akan terjadi. Sebab ini MasterChef, bukan anime Food Wars!

Menonton MasterChef seperti menyaksikan kelihaian tiga juri bersilat lidah dan memainkan emosi. Mereka lah sang protagonis yang asli. Sementara, peserta seolah-olah figuran yang berganti pemain setiap musim.

Peserta yang mengikuti MasterChef berasal dari berbagai profesi. Namun, setelah meninggalkan galeri MasterChef, semuanya kembali ke profesi masing-masing untuk menjalani kehidupan normal.

Kecuali, kalau nanti ada juri yang mengikuti gimmick Ahmad Dhani di Indonesian Idol yang membeli hak cipta lagu peserta audisi. Bisa saja ada juri yang membeli resep masakan peserta untuk dikomersialkan. Semisal, resep ciptaan peserta bernama Ramos dijadikan waralaba Nasi Ramos.

Baca juga: Hal-hal Sentimental dari Makanan, ‘Foodgasm’, dan Krisis Pangan

Sementara, chef juri seperti Chef Juna semakin bertambah season semakin terkenal. Bahkan, Chef Juna sempat dibuatkan platform khusus untuk mengakomodir energinya dalam passion memarah-marahi tukang masak di dapur. Yakni, Hell’s Kitchen alias program fan service untuk mereka yang punya fetish dengan cowok judes ngomel-ngomel sepanjang acara.

Mungkin akan berbeda ceritanya, jika yang menjadi peserta MasterChef Indonesia adalah mereka yang berasal dari kalangan elite politik. Apalagi, setelah pemerintah dan wakil rakyat menjadi sorotan setelah membuat UU Cipta Kerja.

UU Cipta Kerja kembali viral karena ada definisi yang berputar-putar tentang minyak dan gas bumi. “Minyak dan Gas Bumi adalah Minyak Bumi dan Gas Bumi.” Sepertinya sengaja ditegaskan bahwa minyak di sini adalah minyak bumi, supaya tidak tertukar dengan minyak sayur yang biasa dipakai masak peserta MasterChef.

Sebenarnya menggodok undang-undang di gedung DPR sama seperti memasak di galeri MasterChef. Jika dalam proses memasak ada tahap koreksi rasa, yang masak mesti mencicipi dulu masakannya sebelum disuguhkan ke juri. Begitu juga ketika merancang UU, mesti dicermati sebelum disahkan, kudu dibaca sebelum ditandatangani. Ditinjau ulang, jangan-jangan setelah menjadi peraturan, malah menambah pahit kehidupan rakyat.

Baca juga: Menyoal Abuse of Power Lewat Satire Superhero, Nyindir Banget!

Seumpama elite politik menjadi peserta MasterChef dan menyuguhkan Omnibus Law UU Cipta Kerja sebagai hidangan, apakah akan dinilai baik oleh Chef Juna? Chef Juna yang biasa menangani demo masak, pastinya seru ketika mewakili masyarakat yang berdemo.

Mungkin Chef Juna bakalan melihat pasal demi pasal, lalu komentar, “Ini bikinnya buru-buru ya? Godoknya tengah malam? Apa nggak ngantuk?”

Peserta (elite politik) menjawab, “Nggak, Chef. Emang kenapa?”

“Soalnya beberapa bagian masih undercook (kurang matang). Secara plating (penataan di piring), komposisi dan posisinya berantakan. Rasanya juga kurang seasoning (bumbu). Kalau saya menelannya, seperti menelan kenyataan pahit,” pungkas Chef Juna.

Chef Arnold nimbrung, “Kalau paksa kasih makanan ini ke rakyat, mereka malah nggak bisa makan.”

“Masih mentah,” sambung Chef Renatta. Singkat, padat, jelas.

Saat menyaksikan MasterChef, penonton tidak perlu mencicipi masakan peserta untuk tahu enak tidaknya sebuah makanan. Cukup percayakan pada penilaian lidah juri. Sama seperti ketika masyarakat menolak UU Cipta Kerja. Tidak semua orang punya akses untuk membaca drafnya. Namun, rakyat bisa percayakan mandat kepada para ahli yang telah mempelajarinya.

Artikel populer: Menebak Cara Najwa Shihab, Awkarin, dan Kekeyi jika Ikutan Main Among Us

Jika UU Cipta Kerja adalah makanan, maka peserta (wakil rakyat) bertugas melayani juri (rakyat) dengan cara menyuguhkan masakan enak. Sebab juri (rakyat) telah memilih ketika tahap audisi (pemilu).

Yah, soal menerima kritik, elite politik mesti belajar dari peserta MasterChef yang penyabar.

Ketika sebuah masakan hambar, Chef Juna biasa melontarkan kritik pedas. Namun, tidak ada peserta yang menyerang personal dan meragukan kritikan dengan menyebutnya sebagai hoaks. Apalagi sampai menanyakan sumbangsih Chef Juna di dunia kuliner Nusantara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini