Start-Up. (tvN)

Jika membayangkan drama Korea berjudul Start-Up sama seperti film biopik Steve Jobs atau Mark Zuckerberg, tentu kita akan kecele. Dibandingkan fokus mengisahkan orang-orang di perusahaan rintisan, plot ceritanya didominasi kisah cinta segitiga dan drama keluarga disfungsional. Mirip cerita Star Wars tapi latar ceritanya bukan luar angkasa, melainkan Sandbox – semacam Silicon Valley versi Korean Wave.

Terkisah, anak yatim bernama Dal-Mi yang jadi rebutan oppa-oppa glowing. Penonton dibuat menebak ke mana hati sang tokoh utama perempuan itu akan berlabuh? Apakah Do-San sang pemula di bidang start-up? Ataukah Ji-Pyeong sang investor sukses yang selain cakap juga cakep?

Start-Up sukses meraih rating yang tinggi. Pun, berhasil mencuri perhatian penonton di Tanah Air. Lantas, bagaimana jika drama ini berlatar di Jakarta, sekaligus diadaptasi menjadi sinetron Indonesia? Inspirasi alur ceritanya bisa mengambil kisah nyata para pelaku start-up di Tanah Air. Mungkin ceritanya seperti ini…

Baca juga: BPJS Kesehatan dan Sosok Misterius di Drakor Hospital Playlist

Sebutlah tokoh utamanya bernama Sudarmi, cucu dari penjual sempol ayam. Umur 15 tahun. Setiap hari, Darmi pergi ke pasar untuk beli bahan baku. Dia biasa diantar oleh tetangganya yang bernama Jufron.

Ketika mengantar Darmi ke pasar, Jufron sang tukang ojek pengkolan sempat sesumbar, “Di masa depan, gue mau jadi pengusaha yang punya banyak ojek.”

“Gimana caranya?” tanya Darmi.

“Nanti kalau jaman udah maju, gue mau bikin teknologi yang bisa menghubungkan tukang ojek dengan penumpangnya. Biar tukang ojek kayak gue nggak perlu nunggu di pangkalan. Penumpang juga bisa langsung dijemput di tempat,” cerocos Jufron.

“Terus, nggak cuma antar jemput penumpang, tetapi bisa antar dokumen dan beliin makanan dan barang,” lanjut Jufron. “Pokoknya segala jasa dijabanin oleh ojek. Kalau jago pijat, tukang ojeknya juga bisa sekalian pijatin penumpang dari belakang. Sampai tujuan badan penumpang segar bugar.”

“Terus penumpangnya yang bawa motor?”

“Ya iya lah.”

Darmi hanya mendengarkan dan mendoakan semoga Jufron sehat selalu. Mimpinya ketinggian. Kalau jatuh pasti sakit. Kecuali, kalau ada yang nyiapin kasur di bawah.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Ketika sampai pasar dan belanja di lapak langganan, Darmi bertemu dengan anak pedagang yang seusia dengannya. Anak pedagang ini pintar matematika, sehingga dia bisa menjumlahkan total belanjaan tanpa kalkulator.

Selesai belanja, selain dapat nota, ternyata Darmi juga dapat surat dari lelaki sebayanya itu. Isi suratnya seperti ini:

“Halo, namaku Yosan. Sebelumnya, aku mau cerita. Aku baru kehilangan ayam peliharaanku yang mati keselek karet gelang. Sungguh, itu merupakan momen yang menyedihkan. Aku menjadi sadar bahwa waktu bersamanya dulu amat berharga. Namun, sedihku perlahan hilang saat kamu datang. Maukah kamu jadi sahabat penaku?”

Keesokan harinya, Darmi memberikan catatan belanja ke Yosan, bonus catatan harian. Isi catatan harian Darmi sangat singkat. Satu buku isinya cuma: “Mau kok.”

Biar begitu, Yosan tetap membalasnya panjang dan menceritakan mimpi-mimpinya. Bahwa pasar tempat keluarganya berjualan bakalan digusur untuk dibangun mal. Membuat Yosan terpikirkan sebuah ide kalau saja ada satu tempat yang bisa dipakai setiap pedagang di seluruh Indonesia membuka lapak. Pastilah bisa dijangkau oleh para pembeli potensial dari segala penjuru negeri.

Baca juga: Maunya Tetangga Kayak di Drakor Reply 1988, Nyatanya Tetangga Masa Gitu?

Ternyata surat dari Yosan tersebut adalah surat terakhir yang diterima Darmi. Suratan takdir memisahkan Darmi dan Yosan. Pasar resmi digusur. Darmi kehilangan jejak Yosan karena belum sempat tukar kontak.

Nasib serupa dialami oleh Jufron. Belum sempat mewujudkan cita-cita jadi juragan ojek, motor satu-satunya ditarik dealer karena menunggak bayar cicilan. Rumahnya pun disita bank karena jadi jaminan usaha orangtuanya. Jufron pindah tempat tinggal entah kemana.

Lima belas tahun kemudian, nasib mempertemukan Darmi dengan Jufron dan Yosan di satu tempat. Namun, keadaan telah berbeda. Darmi jadi peserta seminar, sementara Jufron dan Yosan jadi pembicaranya.

Jufron dikenal sebagai CEO start-up Ojek Palugada (bidang jasa). Sedangkan Yosan adalah pendiri sebuah marketplace serba ada (perdagangan).

Di sesi tanya-jawab, Darmi mengacungkan tangan untuk bertanya, “Masih ingat saya?”

Pertanyaan itu menggiring ketiganya untuk reuni. Diakhiri dengan bertukar kontak.

Yosan dan Jufron sama-sama lajang. Begitu pula dengan Darmi. Jufron hendak melamar Darmi, tetapi Darmi memilih melamar pekerjaan di tempat Yosan.

Artikel populer: Jika Petualangan Sherina 2 Dibuat Versi Dewasa

Dari pilihan Darmi itu, Jufron bertekad menunjukkan bahwa perusahaannya lebih baik daripada milik Yosan. Seharusnya Darmi menerima lamarannya, sehingga tidak perlu melamar kerja di tempat Yosan.

Yosan termasuk pengusaha idealis. Dia sempat mengkritik pemerintah tentang dana riset yang minim. Gara-gara kritik itulah, perusahaan Yosan diboikot oleh pendukung pemerintah.

Berbeda dengan Jufron yang sejalan dan seirama dengan penguasa. Namun, ketika ditunjuk sebagai pejabat, Jufron harus meninggalkan perusahaannya. Meski demikian, Jufron punya kuasa untuk memberikan proyek pemerintahan kepada perusahaannya terdahulu.

Satu tema tapi beda cerita, Yosan harus rela melepaskan jabatannya sebagai CEO, efek domino dari kasus sebelumnya. Yosan merasa dejavu dengan masa lalunya yang juga jadi korban gusuran. Kini, dia tergusur dari perusahaan yang didirikannya dari nol.

Namun, Darmi tidak menyesal memilih bekerja di tempat Yosan dan akhirnya resign setelah menerima lamaran Yosan untuk menikah. Sesaat sebelum hengkang dari perusahaannya, Yosan memberikan hadiah kejutan untuk Darmi.

Yosan yang masih punya akses ke sistem marketplace buatannya, masuk ke akun Darmi dan check out semua barang di keranjang belanja calon istrinya tersebut.

“Buat mahar dan seserahan,” pungkas Yosan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini