Ilustrasi bukit. (Image by Pete from Pixabay)

Indonesia digadang-gadang bakalan punya Silicon Valley selayaknya pusat perusahaan teknologi di San Francisco, California, Amerika Serikat. Tepatnya, Bukit Algoritma di Sukabumi, Jawa Barat. Masih satu provinsi dengan Depok.

Kalau proyek ini sampai terealisasi, Indonesia bisa seperti Korea Selatan di drakor Start-Up yang memiliki Sandbox, tempat Dosan dan Dalmi cinlok. Dengan adanya Bukit Algoritma, rumah produksi bisa menjadikannya sebagai latar sinetron atau FTV.

Jika Amerika punya tayangan komedi situasi (sitkom) Silicon Valley, Indonesia bisa jadi punya sitkom berjudul Bukit Algoritma. Setiap episodenya berisi suara hati para pegiat teknologi yang merasa penemuan mereka tidak berefek kepada masyarakat yang masih percaya hoaks.

Kira-kira begini sinopsis ceritanya…

Bukit Algoritma mewujudkan big data dalam revolusi industri 4.0. Dalam bahasa sederhana, big data adalah kumpulan data yang diambil dari sensor, postingan medsos, rekaman transaksi jual-beli online, data lokasi dari sinyal GPS, dan riwayat pencarian di mesin pencari.

Baca juga: Jika Drakor Start-Up Diadaptasi Menjadi Sinetron Indonesia

Dengan begitu, orang tinggal scan barcode/memasukkan nomor telepon di mesin kasir untuk bayar belanjaan di minimarket. Bahkan sebelum masuk toko, dibantu kecerdasan buatan, kasirnya sudah tahu apa yang dibutuhkan oleh pembeli. Seperti cara kerja pengiklan di Instagram dan Facebook.

Namun, sepelemparan batu dari sana, warga di sebuah kampung sedang sibuk fotokopi KTP untuk persyaratan mengisi formulir pendaftaran Sunda Empire demi tatanan dunia kembali terkendali dan virus corona lenyap dari muka bumi.

Bukit Algoritma menjadi saksi lahirnya mobil pintar karya anak bangsa. Mobil dengan kecerdasan buatan sehingga dapat melaju tanpa sopir. Mobil kemudi otomatis ini membuat penumpangnya tak perlu repot-repot menyetir sambil baca peta.

Bahkan saking cerdasnya, mobil-mobil itu bisa tertib di jalanan dan mengurangi kemacetan. Tidak main klakson sembarangan ketika di lampu merah. Bayar e-toll dan parkir pun bisa lewat scan plat nomor.

Baca juga: Andai Kata WandaVision Berlatar Sitkom ala Indonesia

Namun, di dalam sebuah mobil pintar, seorang penumpang sedang asyik menonton sebuah video yang trending di Youtube, tanda banyak penontonnya. Di video itu, tampak ‘orang pintar’ yang menjelaskan sebuah ramalan bahwa bakalan ada kecelakaan mobil dalam waktu dekat.

Bukit Algoritma berhasil membangkitkan ekonomi makro dan mikro. Digawangi oleh perusahaan keuangan yang diawasi oleh OJK, banyak masyarakat yang terbantu layanan finansial untuk mengembangkan bisnis. UMKM tak hanya menggeliat, tetapi sudah bergoyang-goyang.

Sudah jarang ditemukan pinjaman online ilegal yang menjerat nasabah dengan bunga mencekik. Selamat tinggal, debt collector yang meneror sampai ke kontak kolega.

Namun, di sisi lain, masih ada saja orang yang datang untuk menyetorkan dana ke seorang ‘orang pintar’ yang konon bisa menggandakan uang. Jadilah ia korban investasi bodong. Semua itu berawal dari kegocek video sulap di TikTok yang diunggah ulang oleh akun lambe-lambean.

Baca juga: Selamat Datang di “Republik Rakyat TikTok”

Bukit Algoritma menjadi tempat berkumpulnya kantor-kantor perusahaan teknologi. Dengan budaya kerja yang menghargai karyawan sebagaimana aset perusahaan. Dijaga fisik dan psikisnya supaya tetap prima. Diberikan hak-haknya secara penuh. Bahkan, sebagian besar kantor membolehkan karyawannya kerja jarak jauh (remote).

Budaya kerja yang positif tersebut mewujudkan keseimbangan antara kerja dan kehidupan. Karyawan bisa menikmati hidup bersama keluarga di rumah demi mengiringi tumbuh-kembang anak. Di sisi lain, tetap bisa memberikan kontribusi terhadap perusahaan.

Namun, karena tidak kelihatan berangkat dan pulang kerjanya, karyawan yang sedang WFH (work from home) itu dianggap pengangguran oleh tetangganya. Ditambah rumah sang karyawan rutin dihampiri oleh kurir yang kirim paket dan ojol yang antar makanan.

Timbul pertanyaan, “Berumah tangga, pengangguran, tapi kok uangnya banyak?”

Lalu, tersiar kabar bahwa seorang warga kehilangan uang dalam jumlah besar. Cerita aslinya, uang itu diam-diam diambil oleh suaminya untuk menyetorkan dana ke ‘orang pintar’ yang mengaku bisa menggandakan uang. Berhubung investasinya bodong, sang suami harus cari kambing hitam biar dirinya tak dituduh mencuri uang istrinya.

Demi mengamalkan peribahasa “lempar batu sembunyi tangan”, sang suami melempar isu. Bahwa ada babi ngepet yang berpatroli di lingkungan tersebut untuk curi uang masyarakat.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Kemudian, isu itu disambut oleh pihak yang ingin memanfaatkan keadaan demi konten. Dibelilah seekor babi dari petshop di marketplace, lalu dilabeli babi ngepet. Warga kampung pun gempar. Views videonya di Youtube melonjak.

Ketika diundang di podcast-nya petinggi Sunda Empire, seorang warga setempat yang sudah lama dengki dengan tetangganya langsung menarik kesimpulan sendiri. Dia menyatakan bahwa yang menjadi babi ngepet adalah tetangganya yang aslinya sedang WFH.

Sementara itu, karyawan WFH yang dimaksud sedang sibuk mengerjakan tugas desain untuk kantornya, disambi jualan online, dan sesekali trading saham.

Namun, pada malam hari, ketika lampu rumah sudah mati, istri sang karyawan menyalakan lilin. Karyawan bangun dari tidur, lalu merapalkan doa dan meniup lilinnya. Ternyata dia sedang ulang tahun.

Sebentar…

Jadi, buat apa ada Bukit Algoritma kalau rata-rata karyawannya WFH?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini