Black Widow dan Shang-Chi. (Marvel Studios)

Black Widow dan Shang-Chi adalah dua superhero korban pandemi. Sebab aksi heroik keduanya terganggu gara-gara bioskop tutup selama PPKM. Alhasil, film Black Widow dan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings sempat tertunda penayangannya.

Tapi akhirnya, film-film superhero Marvel itu bisa disaksikan di layar lebar untuk penonton yang sudah divaksin. Secara tidak langsung, Black Widow dan Shang-Chi menjadi influencer untuk masyarakat, terutama penggemar film Marvel Cinematic Universe, supaya segera mengikuti vaksinasi sesuai anjuran pemerintah.

Film solo Black Widow adalah bentuk keadilan studio Marvel untuk superhero perempuan anggota Avengers ini. Mengingat Avenger lainnya, seperti Iron Man, Captain America, Thor, dan Hulk sudah memiliki setidaknya satu judul film sendiri. Ditambah, Hawkeye pun akan mendapatkan serial sendiri.

Namun, sejumlah kritikus film menilai bahwa film Black Widow sebagai film terburuk MCU. Bahkan lebih buruk dari Thor: The Dark World. Apalagi kalau disandingkan dengan Shang-Chi yang masih tergolong aman.

Padahal, film Black Widow mengangkat tema yang penting, yaitu isu kekerasan yang sangat mungkin dialami oleh anak-anak dan perempuan.

Baca juga: Animasi Marvel “What If…?” dan Indonesia di Semesta Alternatif

Diceritakan bahwa Jenderal Dreykov sang antagonis menjalankan program “Black Widow” dalam sebuah fasilitas pelatihan bernama Red Room. Para gadis kecil yang menjadi korban penculikan dan perdagangan manusia dikumpulkan dalam sebuah kamp. Mereka dilatih keras menjadi mata-mata andal sekaligus mesin pembunuh. Salah satu jebolannya adalah Natasha Romanoff yang kita kenal sebagai Black Widow.

Sempat disinggung bahwa rahim para kandidat widow ini diangkat, sehingga mereka tidak bisa bereproduksi. Dengan tujuan para widow bisa fokus menjalankan misi. Sebuah bentuk kekerasan karena mencabut hak untuk memiliki keturunan. Padahal, mau punya anak atau tidak, adalah pilihan individu, bukan keputusan orang lain.

Bisa dibilang Natasha sang Black Widow merupakan penyintas kekerasan seksual. Selain dia, ada deretan korban program “Black Widow” yang masih dikontrol oleh Dreykov yang toksik.

Ketika tahu bahwa Red Room masih eksis, Natasha berusaha mencarinya untuk menghentikan program tak manusiawi tersebut. Sebab ia tahu rasanya dieksploitasi dan dimanipulasi. Ia tidak mau ada gadis lain merasakan kekerasan yang telah dialaminya.

Baca juga: The Suicide Squad dan Influencer yang Bikin Blunder

Jika Natasha menghabiskan masa kecil di Indonesia, mungkin nasibnya tak lebih baik. Alih-alih berkostum serba hitam, sekujur badan Natasha kecil dicat warna perak dan diajak panas-panasan di lampu merah oleh ibu angkatnya. Iya sih nggak jadi Black Widow, tapi malah jadi manusia silver.

Ketika dewasa, Natasha mencoba hidup mandiri dengan bekerja di sebuah perusahaan. Namun, perusahaan tersebut hanya memberikan hak cuti melahirkan yang singkat. Karyawati yang menjalankan sistem produksi seolah tak memiliki sistem reproduksi. Natasha pun dijadikan ‘Black Widow‘ secara administratif.

Lain cerita dengan Shang-Chi. Dia adalah representasi superhero Asia yang jago beladiri. Setelah sebelumnya ada Black Panther yang menjadi kebanggaan masyarakat berkulit hitam. Dengan ini, Marvel berusaha memantapkan kesan bahwa semestanya penuh dengan keragaman.

Shang-Chi dan Natasha sama-sama tumbuh besar dalam keluarga disfungsional. Sejak kecil, Natasha hidup dalam penyamaran bersama orang tua palsu dan saudari palsu demi menjalankan misi negara.

Baca juga: Andai Kata WandaVision Berlatar Sitkom ala Indonesia

Sementara, Shang-Chi hidup bersama orang tua kandung dan saudari kandung. Namun, Shang-Chi dan sang adik harus kehilangan sosok ibu. Sebab ibunya dibunuh oleh musuh lama sang ayah yang notabene mantan pendekar.

Setelahnya, sang ayah yang dibutuhkan oleh keluarga justru meninggalkan peran ayah. Sebab sang jawara pensiun itu terobsesi dalam pembalasan dendam kepada pihak yang telah membunuh istrinya. Artefak sakti berupa sepuluh cincin yang dulu sempat disimpan ketika rehat dari dunia persilatan, kembali digunakan sebagai gelang.

Shang-Chi pun dididik oleh ayahnya untuk menjadi pembunuh. Namun, ia sadar bahwa dengan membunuh, maka ia sama saja dengan pembunuh ibunya. Tidak tahan dengan kendali ayahnya, ia kabur ke Amerika. Sepertinya Shang-Chi lebih rela dalam kendali kapitalis.

Jika Shang-Chi lahir di Indonesia, bisa jadi ia adalah korban kerusuhan rasial yang menjadi lembaran hitam sejarah bangsa ini. Ketika kecil, ia dan adiknya menyaksikan sang ibunda tewas dalam tragedi kemanusiaan tersebut.

Alih-alih diajari beladiri, Shang-Chi dididik oleh ayahnya untuk menjadi pengusaha. Dengan bermodal sepuluh cincin, mereka memulai bisnis jual beli perhiasan.

Artikel populer: Isu Kelas Sosial dalam Pencarian Kebahagiaan ala Squid Game

Sementara, sang adik dilatih menjadi atlet. Ia mengharumkan nama Indonesia dalam ajang olahraga yang terkenal dengan simbol lima cincin, yaitu Olimpiade.

Setelah bisnisnya berkembang, Shang-Chi merambah ke dunia politik. Ia dikenal sebagai politisi yang jago silat lidah. Dalam debat pilkada, ia bisa mengalahkan lawan-lawan politiknya dengan argumen yang tajam.

Setelah punya pengaruh besar di negeri ini, Shang-Chi mulai mengusut kasus yang belum tuntas, yakni kerusuhan rasial yang menewaskan ibundanya. Ia mengumpulkan bukti-bukti dan para saksi, lalu meminta keterangan pihak-pihak yang bertanggungjawab pada saat kejadian.

Dalam semesta ini, keluarga Shang-Chi memilih untuk tidak balas dendam, melainkan berusaha membantu menegakkan keadilan agar sejarah kelam tak perlu terulang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini