Bad Genius The Series (GDH)

Beasiswa pendidikan yang harusnya juga menjadi solusi bagi para akademisi, terkadang justru menimbulkan masalah baru. Contohnya, seorang aktivis HAM yang pernah mendapatkan beasiswa dari program pemerintah. Di kemudian hari, pemerintah meminta sang aktivis mengembalikan beasiswa yang sempat diterimanya. Dengan alasan, ia tidak patuh aturan untuk kembali ke negara asal setelah kelar studi di luar negeri.

Untuk membantu sang aktivis, para simpatisan melakukan aksi galang dana untuk melunasi beasiswa tersebut. Padahal, beasiswa itu sendiri ya hasil pajak dan pemasukan negara yang berasal dari rakyat-rakyat juga.

Beasiswa di sini seperti kredit pendidikan, yang sewaktu-waktu bakal ditagih. Padahal, kebanyakan pemburu beasiswa adalah mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tetapi terkendala dana. Semestinya beasiswa dianggap sumbangan, bukan utang-piutang.

Serial Thailand berjudul Bad Genius yang sempat trending menceritakan sisi buruk di balik program beasiswa. Seorang pelajar jenius harus bersaing dengan sesama pelajar cerdas lainnya untuk sebuah beasiswa penuh. Ketika yang satu mendapatkan beasiswa, yang lain harus bayar sendiri. Padahal, keduanya sama-sama butuh bantuan dana pendidikan.

Baca juga: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Sampai akhirnya, Lynn sang tokoh utama yang mendapatkan beasiswa menyadari bahwa ia tidak benar-benar sekolah secara gratis. Ternyata orang tuanya tetap dimintai sumbangan oleh sekolah yang jumlahnya tak sedikit. Berawal dari rasa kecewa itulah, Lynn berniat membalas kecurangan sistem pendidikan di sekolahnya. Dengan cara curang juga, yaitu menjual sontekan saat ujian kepada sesama murid.

Sejak episode awal, Bad Genius seolah-olah melancarkan kritik terhadap sistem pendidikan di Thailand atau Asia Tenggara pada umumnya, termasuk Indonesia. Diceritakan, seorang guru mata pelajaran di sekolah membuka bimbel di luar kelas. Murid yang ikut bimbel bisa mendapatkan nilai yang bagus saat ujian.

Usut punya usut, peserta bimbel mendapatkan kisi-kisi soal dari guru bimbel yang merangkap guru mata pelajaran di sekolah. Otomatis ujian terasa mudah. Tidak punya uang untuk ikut bimbel? Ujian bisa jadi susah.

Seorang murid yang seharusnya tidak lulus ujian masuk sekolah karena nilainya kurang, bisa diluluskan setelah orangtuanya menyumbang puluhan unit PC high end dan menjadikan lab komputer sekolah seperti kebun apel. Sementara, seorang murid yang telah mengharumkan nama sekolah dengan menjuarai cerdas cermat tingkat nasional, harus merelakan beasiswanya dicabut hanya karena kalah poin dengan rekan seregunya.

Baca juga: Privilese Belajar Daring dan Lulus Jalur ‘Give Away’

Praktik jual-beli sontekan yang digeluti oleh tokoh utama di serial ini memanglah tidak patut diteladani. Namun, pihak sekolah dan oknum pengajar yang money oriented nan tricky pun tidak pantas digugu dan ditiru. Benar adanya peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Jika seorang guru mencontohkan keburukan, murid bisa mencontohnya lebih buruk lagi.

Menonton Bad Genius bisa membuat jantung berdegup. Aktivitas sontek-menyontek ketika ujian dibuat seperti adegan thriller. Belum lagi, adegan slow motion ala efek TikTok. Ketika para tokohnya menengok perlahan, diiringi suara latar yang menegangkan.

Namun, keseruan seperti itu bisa terjadi saat sekolah memberlakukan belajar tatap muka sebelum pandemi Covid-19 menyerang. Ketika PSBB, pemerintah menyerukan untuk belajar dari rumah, belajar daring, sementara sekolah ditutup.

Lantas, apa jadinya jika belajar dari rumah menjadi latar serial Bad Genius?

Kendalanya, Lynn sang tokoh utama cuma punya hape kentang. Sewaktu belajar daring, ia sering telat masuk kelas online. Dipinjami hape canggih oleh temannya, kouta internetnya kehabisan karena pakai paket hemat. Dapat paket internet gratis dari Kemendikbud, sinyalnya timbul-tenggelam karena tinggal di daerah terpencil. Harus mendaki bukit, lewati lembah, barulah jaringan stabil.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Masalahnya, untuk mendapatkan jaringan stabil, ia harus ke luar rumah, seperti naik ke atap masjid atau manjat pohon. Sementara, konsep PSBB adalah mengerjakan segala aktivitas di rumah. Problematika ini lebih memusingkan daripada sekolah itu sendiri.

Namun, Lynn tetap bisa menjual sontekan secara online. Sebelum ujian daring, ia open PO. Yang sudah transfer, bakalan masuk ke grup WhatsApp untuk koordinasi.

Teknisnya, nanti pada hari ujian, Lynn mengerjakan soalnya lebih dulu. Setelah selesai, jawabannya disebarkan via grup WA.

Pada praktiknya, sebelum ujian, Lynn harus cari sinyal dulu. Ketemu sinyal, ada razia masker di jalan. Lynn yang lupa pakai masker karena buru-buru, terjaring oleh petugas. Ia pun kena sanksi kerja sosial membersihkan fasilitas umum. Waktu ujian pun hampir berakhir.

Klien sontekan mulai ribut di grup WA, menagih jawaban Lynn. Sementara, Lynn masih sibuk nyabutin rumput dengan tangan gemetaran.

Di injury time, Lynn baru selesai kerja sosial dan mulai mengerjakan ujian daring. Dalam waktu cepat, ia bisa menjawab soalnya dengan mudah. Namun, ketika ingin menyelesaikan soal terakhir dan membagikan jawabannya ke grup WA, hapenya low bat karena di grup WA sedang perang stiker.

Artikel populer: Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Lynn pontang-panting cari colokan listrik di sekitarnya. Ketemu colokan, ia lupa bawa charger. Lantas, cari orang asing untuk pinjam charger. Dapat pinjaman charger, ternyata beda tipe. Ada yang tipenya sama, tapi orangnya nggak mau kasih pinjam. Alasannya, takut kena corona karena charger bisa jadi perantara virus.

Terpaksa, Lynn beli charger baru di konter. Ketika charger sudah di tangan dan tinggal mengisi daya, hapenya mati total.

Jantung Lynn hampir copot. Sebab, waktu ujian akan berakhir dalam hitungan detik. Sementara, dirinya belum membagikan hasil jawaban ke klien di grup WA.

Ketika hapenya kembali hidup, waktu ujian telah berakhir.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini