Jenis Hijrah yang Lebih Tepat bagi Orang Indonesia daripada Sekadar Penampilan

Jenis Hijrah yang Lebih Tepat bagi Orang Indonesia daripada Sekadar Penampilan

Ilustrasi (Image by Eko Hernowo from Pixabay)

Kata ‘hijrah’ akhir-akhir ini begitu melesat popularitasnya. Salah satu kalangan yang cukup gencar mengajak berhijrah adalah para artis. Seolah-olah para artis itu sedang menjadi ‘brand ambassador hijrah’.

Sayangnya, hijrah yang sering didengungkan oleh banyak orang termasuk para artis terkesan lebih menekankan pada cara berpenampilan daripada makna substansialnya. Kemudian, hal itu seakan menjadi ladang bisnis baru. Ya untuk jualan, mulai dari pakaian hingga produk-produk yang dilabeli kata syar’i’.

Padahal, makna hijrah jauh melampaui sekadar mengubah penampilan. Secara bahasa, hijrah artinya berpindah. Secara istilah, sebagaimana yang diajarkan di sekolah, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Kata ‘hijrah’ sebetulnya mengacu kepada peristiwa hijrahnya umat Islam dari Mekkah ke Madinah. Salah satu faktor utamanya adalah tekanan orang Quraisy di Mekkah terhadap umat Islam yang kala itu semakin meningkat. Dengan berhijrah diharapkan ada perubahan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan.

Baca juga: Tentang Hijrah yang Belakangan Jadi Tren Sosial Anak Muda

Berdasarkan referensi tersebut, makna hijrah selain berpindah adalah berubah. Berubah dari sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik. Kalau dalam kehidupan sosial, seharusnya itu semua masuk ke ranah akhlak. Seseorang bisa dikatakan berhijrah, jika akhlaknya berubah dari yang tidak baik menjadi baik. Dan, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan cara berpakaian.

Rumus utama berpakaian adalah yang penting menutup aurat. Model fashion-nya bebas. Manusia dipersilakan untuk berkreasi. Tidak mesti model Arabic atau Chinese-Arabic sebagaimana yang sering ditampilkan oleh para ‘brand ambassador hijrah’.

Ini tidak berpretensi untuk menyalahkan siapa pun. Kalaupun ada yang merasa nyaman dengan pakaian jenis tertentu, misalnya model Arabic atau Chinese-Arabic yang oleh kebanyakan orang disebut syar’i, lantas menyebut dirinya sudah berhijrah, ya silakan saja.

Ada sebuah cerita yang pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad. Ada seorang pelacur yang hamil, lalu ingin bertaubat. Suatu ketika, ia datang kepada Nabi dan mengatakan bahwa dirinya ingin bertaubat.

Baca juga: Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Perempuan tersebut meminta untuk dirajam. Namun, Nabi Muhammad melarangnya dan mengatakan kepada si perempuan bahwa ia akan dihukum setelah anaknya lahir. Ternyata, setelah melahirkan, perempuan itu meninggal.

Lantas, bagaimana sikap Nabi Muhammad? Beliau memutuskan bahwa jenazah perempuan tersebut harus diurus seperti kebanyakan orang Islam lainnya. Dimandikan, dikafani, disholati.

Keputusan Nabi Muhammad tersebut membuat seorang sahabat protes. “Mengapa perempuan ini disikapi sebagaimana orang Islam pada umumnya? Kan dia seorang pelacur?” Nabi pun menjawab bahwa orang tersebut sudah sangat bersungguh-sungguh bertaubat, bahkan jauh sebelum meninggal.

Cerita tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang selama ini diasumsikan sebagai sesuatu yang tidak baik, bisa jadi sesuatu yang baik. Begitu juga sebaliknya.

Bagi sahabat yang protes, pelacur tetaplah pelacur, bahkan jika sudah berusaha bersungguh-sungguh untuk bertaubat. Namun, bagi Nabi Muhammad, siapa pun saja bisa bertaubat selama masih ada kesempatan. Bahkan, jika orang tersebut pernah menjadi pelacur.

Baca juga: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Berdasarkan kisah itu, belum tentu seseorang yang kita anggap baik dalam berpakaian juga baik perilakunya. Tidak sedikit orang yang secara pakaian dianggap tidak baik, tetapi perilakunya malah baik.

Karena itu, hijrah yang sesungguhnya tidak bisa ditentukan hanya karena mengubah penampilan. Misalnya, yang dulu memakai hijab yang tidak besar menjadi besar, yang dulu tidak berjubah menjadi berjubah, yang dulu tidak berpeci menjadi berpeci. Bukan seperti itu, meskipun kalau ada yang mau seperti itu, ya silakan.

Saya kira, hijrah yang sebenar-benarnya adalah hijrah yang tidak perlu diproklamirkan kepada publik. Biarlah Allah yang menilai, apakah hijrah yang dilakukan seseorang bertujuan untuk serius berhijrah atau sebatas riya agar mendapat pengakuan dan pujian dari orang lain?

Lagipula, kalau kita menuduh orang tidak berhijrah dengan cara menyuruhnya berhijrah, itu bisa bermacam-macam maknanya. Pertama, kita menganggap hidup kita lebih baik dari orang lain. Kedua, menganggap orang lain tersesat dan kita tidak. Ketiga, menganggap orang lain kotor dan kita suci. Kalau kita sudah merasa seperti itu, jangan-jangan malah orang lain yang lebih baik.

Artikel populer: Aktivis HAM Itu Bernama Ibrahim, Bapak Tiga Agama: Islam, Nasrani, Yahudi

Kalaupun ingin mendorong masyarakat untuk berhijrah, khususnya di Indonesia, ada hijrah yang lebih penting daripada sekadar mengurusi penampilan. Misalnya, berhijrah dari yang sebelumnya mudah bertengkar dan mencaci-maki menjadi sabar dan rasional. Dari yang bermusuhan gara-gara politik praktis menjadi lebih berpikir konstruktif. Dari yang suka memantik ‘adu domba’ menjadi pemantik perdamaian.

Atau, hijrah dari masyarakat yang tidak openminded menjadi openminded. Coba lihat media sosial, banyak orang yang mengklaim dirinya paling benar, sedangkan orang lain pokoknya salah. Mulai dari urusan agama, ideologi, hingga makan bubur diaduk atau tidak diaduk, heuheu.

Lalu, bisa juga hijrah menjadi masyarakat yang tanpa kekerasan, tanpa penindasan, tanpa korupsi, tanpa kemiskinan, dan tanpa pacaran. Eh, gimana gimana?

Jadi, apakah kamu masih sibuk mengurusi pakaian dan penampilan orang lain? Hidup ini simpel, yang ribet-ribet hanya tampilannya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.