Jatuh Cinta kok Hitung-hitungan, Itu Hati atau Kalkulator?

Jatuh Cinta kok Hitung-hitungan, Itu Hati atau Kalkulator?

Ilustrasi (Zun Zun via Pexels)

Ada dua konstruksi nyeleneh dalam kultur asmara. Pertama, soal tradisi mengungkapkan perasaan. Kedua, soal hitung-hitungan kualitas pasangan.

Seorang teman berkomentar, “Napa ya, kalau cowok pedekate ke cewek dianggap lumrah. Giliran kita yang gitu ke cowok, diejek-ejek. Emang cowok aja yang berhak pedekate?”

“Persis! Kalau cowok nggak berani ngomongin perasaan ke cewek bakal dianggap banci. Giliran cewek yang berani bilang perasaannya ke cowok dibilang nggak punya harga diri,” lanjut teman yang lain.

Terkejut saya terheran-heran.

Rupanya, tren obrolan feminisme di berbagai forum nggak terlalu berdampak pada pemahaman sebagian orang. Gembar-gembor revolusi industri yang mencapai tahap empat juga nggak menjamin orang punya pandangan terbuka.

Arus maskulin tetap mengakar dalam kultur asmara. Sudah sering perempuan diukur-ukur dari parasnya, moleknya, lebar kerudungnya, eh, harga dirinya ikut diukur dari seberapa tahan jatuh cinta secara diam-diam.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Jadi, kalau laki-laki emez sama perempuan, doi patut berbangga diri minta ID Line dan ngajak kencan duluan. Kalau perempuan yang emez sama laki-laki, diam dan membisu saja selamanya. Perempuan nggak berhak memilih, tetapi dipilih, konon katanya.

Kalender masehi sudah sampai angka 2019. Orang-orang yang mempertahankan tradisi itu, aiqyu-nya sampai di angka berapa?

Atau, di goa macam apa mereka hidup selama ini? Yang jelas bukan gua Hira’, karena kita tahu Rasulullah yang alumni gua Hira’ justru menerima pinangan dari seorang perempuan.

Sayangnya, sifat Rasul yang satu itu sulit diteladani, menghargai perempuan yang berani menyatakan pilihan pada siapa ia hendak menaruh kasih dan perhatian.

Padahal, harga diri mereka bisa jadi lebih tinggi dari hak sepatu perempuan yang berlomba banyak-banyakan penggemar dan gebetan, yang jalan sama siapa saja ayok, supaya punya cadangan.

Urusan asmara ini mirip-mirip sama kultur disiplin akademik. Selain terlalu maskulin, juga terlalu positivistik, ada standar-standar ilmiah. Itu juga yang bikin disiplin ilmu sosial tertentu kudu berdebat panjang kala feminisme masuk sebagai epistemologi.

Baca juga: Laki-laki Nggak Usah Gengsi Minta Bantuan Perempuan, Begitu juga Sebaliknya

Orang yang mengadopsi paham positivisme dalam disiplin percintaan ini semacam orang yang menyusun kriteria dan standar tertentu perihal kekasih hati. Standarnya juga nggak sembarangan, seringkali lebih ketat dari kriteria lowongan kerja.

Paras dan penampilan adalah standar paling dangkal. Setingkat lebih di atasnya ialah hal-hal yang tak hanya diindra, namun juga dinalar, ya perihal mapan, berpengetahuan, dan keturunan. Bahkan, jika konstruksi idealitas tersebut berupa kesalehan, ia pun dipandang melalui hal-hal yang indrawi. Seberapa rutin ritual ibadah dan panjang busananya.

Standar-standar alias kriteria-kriteria itu biasanya tergantung pengalaman alam bawah sadar masing-masing yang dibangun melalui interaksi sehari-hari.

Seorang teman yang tumbuh di lingkungan keluarga muslim konservatif dididik secara doktrinal dan hidup di lingkungan yang itu-itu saja. Konstruksi idealitasnya berupa pemuda pegiat ormas Islam yang sama, fasih hafalan Qur’annya dan rajin mengisi kajian.

Lain hal dengan teman yang menemukan keyakinan ideologisnya pada bacaan-bacaan progresif dan terlibat dalam serikat-serikat dengan isu perburuhan. Konstruksi idealitasnya berupa akademisi kiri jebolan kampus luar negeri, punya banyak koleksi buku-buku terbitan Verso dan menulis publikasi-publikasi kritis.

Baca juga: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Kalau kamu jatuh cinta hanya karena nggak sengaja ketemu doi nganter kucing kampung ke dokter atau sering mergokin doi nalangin makan temen-temen kosnya, nggak perlu malu. Sebab, kamu pandai menilai ketulusan. Kan, kalau doi sering ngasih bingkisan ke mama itu wajar, bukan karena doi baik tapi karena punya misi mau ngelamar.

Mungkin, kamu termasuk orang yang menyayangi penuh kepastian, meskipun hanya dengan alasan-alasan murahan. Berbanggalah. Sebab, ternyata di luar sana masih banyak orang menyayangi penuh keraguan karena dilanda pertimbangan-pertimbangan.

Para lelaki berhitung soal berapa ukuran dada, pinggang dan pinggul, serta berapa sentimeter panjang tungkai perempuan. Seberapa lebar gamis dan manis senyumnya. Mungkin juga soal seberapa mungil bibir, dagu, dan hidungnya. Maka, kebanyakan lelaki seperti tukang jahit busana, jika bukan tukang rias wajah.

Sementara, para perempuan berhitung soal pekerjaan lelaki dan perkiraan jumlah tabungan pribadi. Maka, kebanyakan perempuan seperti petugas di kantor ketenagakerjaan, jika bukan konsultan di perusahaan asuransi.

Artikel populer: Pentingnya yang Ngebet Nikah Nonton Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga)

Kadang keduanya bisa mirip, sama-sama berhitung soal jenjang pendidikan dan latar belakang keturunan. Kini, mereka sama-sama seperti petugas di kantor pencatatan sipil.

Mengapa yang dihitung selalu hal-hal superfisial? Apa mungkin karena kebanyakan orang tak cukup mampu berhitung perihal ketulusan, kejujuran, keramahtamahan, kesabaran, kerendah hatian, ataupun segala hal yang muasalnya dari tata kelola hati dan pikiran?

Seorang teman bercerita mengenai teman kencan yang enggan berkomitmen serius, lantaran pertimbangan wawasan pengetahuan dan karier.

Seorang teman lainnya memacari gadis, lantaran cantik dan bisa diajak bermesraan, tapi enggan berniat menjalin relasi di bawah hukum negara dan agama dengannya karena pertimbangan kesalehan.

Ada pula seorang teman yang meminang gadis, karena pertimbangan kelas sosial dan riwayat pendidikan. Sedangkan teman lainnya, menerima pinangan karena pertimbangan fisik dan kemapanan.

Kalau semua itu cinta, jatuh cintamu seperti arus kas perusahaan, penuh kalkulasi, urusannya laba dan rugi.

Jadi, itu hati atau kalkulator?

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.