Ilustrasi. (Photo by cottonbro from Pexels)

Setiap peringatan hari tertentu, misalnya Hari Kartini, Hari Bumi, dan Hari Buku, banyak orang berupaya mengingatkan publik perihal isu, agenda, bahkan deklarasi cita-cita yang mendasari perayaan hari tersebut. Selebrasi hari semacam itu, oleh seorang sosiolog, disebut sebagai symbolic politics.

Saat peringatan Hari Kartini, orang bicara emansipasi gender. Hari Bumi ngomongin kelestarian lingkungan dan Hari Buku soal isu perbukuan. Khusus yang terakhir, buku – sebagai komoditas – punya relasi-relasi sosial di balik proses cetaknya.

Beberapa pertanyaan yang muncul terkait sistem produksi perbukuan adalah, apa semua penulisnya dapat royalti yang sepadan? Apa sistem pengupahan editor, asisten editor, kepala editor setara dan layak sesuai beban kerja masing-masing? Berapa pembagian untung antara retailer dan reseller buku? Apa ada perbedaan antara penerbit indie dan mayor dalam corak produksinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu bisa dijawab oleh para tenaga kerja dan pelaku perbakulan buku. Yang jelas, sebagai pembaca, kita sering kali menemukan caption-caption di akun IG yang isinya begitu motivatif mengajak masyarakat untuk mencintai buku.

“Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buk…” – STOP! Cukup. Saya sudah mendengarnya berkali-kali.

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Terus terang, membuat orang jatuh cinta itu mudah, masalahnya nggak semua orang punya kemampuan untuk memiliki. Nggak setiap individu punya anggaran rutin untuk beli buku. Masyarakat kita yang hidup di garis UMR lebih memprioritaskan kebutuhan jasmani, dan belanja buku nggak masuk dalam daftar itu. Kalaupun ada sisa upah, mending ditabung atau makan enak sekali-kali bareng keluarga.

Masyarakat golongan UMR garis keras tak menganggap penting kumpulan puisi Sapardi, Jokpin, apalagi Afrizal Malna. Syair-syair nggak bikin perut kenyang. Untuk bisa membahasakan kemiskinan, mereka nggak perlu membaca karya Knut Hamsun, George Orwell, atau katakanlah… siapa pengarang hebat favoritmu?

Bahasa mereka ketika menuliskan kemiskinan cukup sederhana, misalnya, “Azuuu”.

Lagian, dengan ketiadaan akses bacaan yang berkualitas sedari kecil dan terbatasnya keterampilan literasi, gimana bisa menikmati karya para peraih nobel sastra?

Baca juga: Untukmu yang Suka Tanya atau Pamer Jurusan Kuliah

Ketika saya menghabiskan masa kecil dan remaja di sebuah desa, sekolah-sekolah nggak punya fasilitas perpustakaan dengan kapasitas buku memadai. Sekolah saya, MI Muhammadiyah Cawas, memang lebih beruntung ketimbang MI Muhammadiyah Gentong di Laskar Pelangi. Kami punya lemari buku, tapi bukunya terbatas pada sumbangan Mendikbud, yakni buku teks pelajaran. Nasib Andrea Hirata itu nggak umum, jadi plisss jangan jadikan ia patokan bahwa setiap orang miskin berpeluang jadi penulis besar.

Ketika ada bazar buku di sekolah, buku-buku yang diperkenalkan ke kami adalah buku RPAL-RPUL, cerita rakyat yang isinya riwayat Nyi Roro Kidul, komik 25 Nabi dan Rasul, komik Walisanga, dan komik siksa neraka tentunya. Bayangkan, sejauh apa daya imajinasi yang tumbuh dengan komik-komik itu? Untuk yang satu ini, Gen Z can’t relate.

Sementara, anak-anak kota pasti sudah membaca karya J.K. Rowling, membaca Petualangan Tintin, dan membaca karya-karya Agatha Christie ketika menginjak usia remaja, seperti mbak Najwa Shihab – Duta Baca Indonesia. Saya bahkan baru baca Harry Potter dengan jilid yang lompat-lompat karena nggak lengkap setelah sekolah-sekolah dapat bantuan rekonstruksi gempa 2006.

Baca juga: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Saat kuliah, saya menyadari kemampuan literasi yang tertinggal jauh dibanding anak-anak perkotaan yang sedari kecil telah diperkenalkan dan dilatih literatur bahasa asing oleh orang tua terdidik mereka.

Saya tertatih-tatih membaca teks-teks perkuliahan. Semester 1, dosen memberi bacaan mingguan berbahasa Inggris untuk tugas menulis makalah dalam Bahasa Inggris. Bacaan pertama adalah bab 1 dari buku The Structure of Scientific Revolutions karya Thomas Kuhn. Sudah jongkok secara IQ, jongkok pula kemampuan literasi saya. Ambyar. Kalau ikut tes IELTS saat itu, skor saya masuk kategori extremely limited user.

Sampai sekarang, masih ingat betul perkataan profesor itu ketika tahu ada 144 SKS dalam 1 semester yang wajib kami penuhi kuliahnya. Dia bilang, “Saya heran kenapa mahasiswa di Indonesia lebih senang mendengar seminar ketimbang baca buku? Di Amerika, mahasiswa lebih sering membaca buku.”

Berhubung dosen tersebut seorang berkebangsaan Amerika, kecil dan tumbuh di negara itu, dia mungkin mengalami gegar budaya. Di Indonesia, sebagian besar anak-anak tidak tumbuh dalam tradisi membaca yang kuat, apalagi kritis, bahkan di kalangan kelas menengah terdidiknya.

Artikel populer: Milenial Mau Bertani Di Mana? Harvest Moon?

Waktu saya menjenguk keponakan-keponakan di Halmahera Barat, mereka sudah jadi penghafal Al-Qur’an andal. Dilatih oleh yayasan tahfidz yang disumbang oleh ustaz Yusuf Mansur. Mereka berprestasi, tapi minat membaca bukunya tidak tumbuh seiring minat menghafal Al-Qur’an.

Kelak, mereka mungkin lebih suka menimba ilmu lewat halaqah-halaqah ketimbang buku-buku. Itu wajar karena akses literasi mereka sewaktu kecil terbatas, sehingga membuatnya tak terbiasa dengan tradisi membaca. Keterampilan membacanya pun bakal terbatas, yang bisa berdampak pada rendahnya minat baca.

Iya, saya meyakini bahwa membaca adalah sebuah keterampilan, bukan perkara jatuh cinta semata. Untuk menumbuhkan dan mengasah keterampilan itu, perlu akses yang memadai dan pembiasaan sejak dini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini