Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya

Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya

Ilustrasi (Dawid Zawiła via Unsplash)

Kesan apa yang muncul di benakmu tentang keseharian seorang aktivis, terutama laki-laki? Suka merokok, sering nongkrong, baca buku-buku teori, dan kalau bicara terkadang mengawang tinggi? Sosok yang tampak begitu idealis, sehingga hidupnya jauh dari istilah mainstream.

Apalagi kalau dia paham HAM, beuh, kamu bisa klepek-klepek dengan omongannya soal problem sosial hari ini. Tapi, tak semua aktivis tersebut paham tentang gender. Belum tentu mereka yang terlihat gahar di podium dan militan di lapangan memahami relasi kuasa dengan pasangannya.

Pada kenyataannya, banyak sekali perempuan yang mengalami kekerasan ketika berpacaran dan menikah dengan aktivis yang seperti itu.

Banyak perempuan yang bercerita dan tak menyangka bahwa orang yang selama ini dikaguminya, yang sudah melahap ratusan buku filsafat, jago berteori, serta piawai meluluhkan hati dengan ajakan diskusi dan pamer ilmu pengetahuan, ternyata oh ternyata…

Bahkan, ada laki-laki aktivis yang sudah paham feminisme, tapi masih melanggengkan kekerasan. Ironis kan?

Sama halnya dengan laki-laki lain yang sibuk dan larut dalam pekerjaannya, aktivis ini tidak tahu bagaimana berelasi secara setara dengan pasangan.

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Ada aktivis mahasiswa yang meminta pacarnya untuk duduk di kelasnya dan mengisi absen untuk dirinya, sedangkan ia pergi dengan alasan bahwa segala aktivisme yang ia lakukan untuk ‘kepentingan yang lebih besar’.

Ada pula laki-laki aktivis yang melimpahkan pekerjaan organisasi dan advokasi ke pacarnya yang juga sesama aktivis dan meminta ia mengerjakan semua laporannya tanpa membubuhkan nama sang pacar.

Lalu, ada aktivis yang sering menyelenggarakan diskusi mengenai keadilan gender dan memiliki ribuan pengikut di Instagram, namun karena ia takut terhadap masa depannya jika memiliki anak, ia memaksa pasangannya untuk aborsi. Ini jelas kekerasan seksual.

Terus, ada juga aktivis yang tak mau berusaha mencari nafkah untuk anak-anaknya, sehingga istrinya yang sesama aktivis, terpaksa harus banting tulang mengerjakan beban ganda demi menghidupi anak dan suaminya tersebut.

Katanya mereka terlalu sibuk memikirkan bangsa dan negara ketimbang keluarga sendiri. Hmmm…

Bahkan, ketika sudah memegang jabatan dalam organisasi tertentu, mereka tetap seksis memperlakukan perempuan. Bahkan, ada yang masih berpikiran bahwa peran perempuan hanyalah di ranah domestik. Kzl banget.

Setidaknya, ia menyuruh anggota lainnya yang juga perempuan untuk mengerjakan hal-hal domestik, seperti kesekretariatan dan konsumsi, sehingga perempuan jarang sekali diberikan tempat sebagai penentu keputusan di organisasinya.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Aktivis yang kebetulan laki-laki itu pandai berteori bahkan soal feminisme, namun miskin dalam praktiknya. Kenapa? Karena teori yang mereka tahu tidak pernah berangkat dari pengalamannya. Sementara, teori feminisme berangkat dari pengalaman perempuan, namun untuk kepentingan semua umat, termasuk laki-laki itu sendiri.

Banyak tokoh yang visioner dan kharismatik di negeri ini yang terang-terangan memiliki banyak istri. Saking banyaknya, kita tak tahu berapa sebetulnya jumlah perempuan yang pernah bersamanya. Bayangkan, betapa sakit hati istri pertama, kedua, dan seterusnya, ketika si suami terus saja menambah istri yang tampak lebih muda dan cantik.

Iya, saya paham, laki-laki pintar politik, HAM, dan feminisme itu terlihat mengagumkan dan mempesona. Tapi ingatlah, ada sisi lain yang harus kamu pahami juga. Terkadang pesonanya hanya untuk melayani diri sendiri. Mereka ingin terlihat hebat dan superior.

Bahkan, ada laki-laki yang menguasai teori feminisme dan menulis tentang ketidakadilan yang dialami perempuan hanya untuk bisa tidur dengan perempuan. Modus.

Saran nih, jangan langsung terbuai dengan laki-laki aktivis, maupun perempuan aktivis. Betul, persoalan kekerasan dan ketidakadilan tidak terkait jenis kelamin, tapi sistem sosial.

Artikel populer: Kuatnya Budaya “Victim Blaming” Hambat Gerakan #MeToo di Indonesia

Nah, yang paling penting ketika kamu sedang mencari pasangan yang memahami gender adalah, apakah ia benar-benar mempraktikkan konsep tersebut dalam keseharian? Apakah ia bisa mengurus dirinya sendiri tanpa campur tangan kamu atau orang tuanya?

Lalu, apakah ia tahu bagaimana caranya untuk berbagi waktu antara aktivisme, kerja/kuliah, keluarga, dan kamu? Apakah ia masih membebankan pekerjaannya terkait aktivisme, profesi, dan ranah domestik kepadamu?

Jika ia masih membebankan hal-hal yang sebenarnya adalah tanggung jawabnya juga, apalagi setelah kamu berulang kali meminta untuk berpisah, maka ia hanya berniat untuk mengeksploitasi kamu untuk kepentingan dirinya.

Sesungguhnya ia adalah kapitalisme sejati, karena bentuk kapitalisme yang terkecil mulai dari keluarga, yaitu eksploitasi perempuan atas dasar ‘kasih sayang’.

Apa yang ia pelajari mengenai HAM tidak ada artinya, jika ia masih menindas. Apalagi, ia masih berpikir dengan landasan patriarkis dan pola-pola seksis yang menyalahkan perempuan.

Hal itu terjadi karena banyak laki-laki aktivis yang belum selesai memahami seluk-beluk maskulinitas. Ia masih terjebak dalam retorika akan konstruk-konstruk di kepalanya. Ia menjadi aktivis hanya untuk eksistensi dan memperpanjang daftar perempuan yang ia tiduri.

Kalaupun ia memiliki pesona, sebetulnya sama saja dengan pesona laki-laki yang lain. Misalnya ketika berpacaran dengan pejabat muda, pengusaha muda, atau figur lainnya.

Tapi, kalau kamu ingin sekali bercita-cita bisa berpasangan secara setara dengan siapapun orangnya, entah ia aktivis, pekerja, pengusaha muda, eh, pastikan kamu berjalan di sampingnya. Bukan di belakang, terus memikul beban-beban dan tanggung jawabnya.

24 COMMENTS

  1. Betul banget, argumen2 nya selalu tinggi. Sekali emosi kasar.
    Ketika ada sebuah masalah bukan bagaimana diselesaikan dari hati ke hati layaknya sebuah pasangan. Tapi malah diajak berdebat dan adu argumen.
    Dia merasa paling pintar, dan paling dewasa.
    Padahal saya hanya memilih mengalah dengan cara diam.
    Merasa kepentingan sosial lebih penting, padahal hidupnya sendiri masih berantakan.
    🙂

  2. Tulisan yang bagus, Safira. Seperti berkaca dimasa-masa awal mencari ketuntasan pada idealisme dan cinta. Heheheheq….. Sederhana saja sebenarnya, jika pasangan si laki-laki aktivis juga memiliki ketuntasan dalam berpikir, “tertindas karena cinta” tidak akan terjadi.

  3. awalnya saya kira tulisan ini akan mengungkap sisi gelap dalam konotasi yang lebih luas. tapi ternyata, konotasi yang dijadikan koridor adalah hanya melulu soal selangkangan.
    sebenarnya banyak dari pembaca dari tulisan ini yang justru merasa tidak perlu untuk menanggapi tulisan yang judulnya saja sudah sexist. beberapa teman mengatakan, “kasihan, penulisnya terjebak dalam lingkaran femen yang dia buat dan pahami sendiri, seperti memahami bahwa feminis hanyalah soal perjuangan hubungan antara penis dan vagina, antara laki-laki dan perempuan, antara jakun dan buah dada”. ada pula yang berkomentar, “dia mungkin sedang sakit hati, lalu rasa sakit hatinya itu ia jadikan bahan bakar untuk menulis artikel yang ketinggalan jaman, dengan menunggangi teori feminis yang sebenarnya belum lama ia kenal”.
    selain tentang “sakit hati dengan lawan jenis”, ada juga yang berkomentar “dia sakit hati dengan lawan jenis yang kebetulan satu organisasi, atau dia pernah ikut suatu organisasi, kemudian mengalami ketidakadilan, kemudian ia gabung atu belajar ke klub feminis, untuk membalaskan dendamnya, kasihan sekali”.
    sayang sekali dengan kemampuan anda menulis yang sebenarnya bagus dan cerdas, anda dibutakan dengan mengkonotasikan bahwa aktifis itu selalu saja laki-laki yang harus diwaspadai segala tindak-tanduknya. padahal, aktifis yang perempuan juga banyak lho. atau saya ingin mengatakan bahwa sebagai penulis, anda tidak fair atau tidak berimbang dalam menulis sisi gelap aktifis ini. jika selama ini yang berkembang sejak aristoteles adalah misoginsme, mungkin boleh saya katakan bahwa anda berusaha membuat antonimnya, ya, faham yang membenci laki-laki.
    dengan adanya diskursus semacam ini, kita jadi tertinggal 10 tahun secara intelektual. intelektual kita yang seharusnya sudah mencoba untuk membahas the not yet dengan semangat gotong royong yang tidak lagi membedakan suku agama ras gender dan fisik. intelektual kita yang seharusnya sudah mulai untuk membahas tentang segala macam etik baru dan memprediksi kemungkinan jenis etik baru, lagi-lagi tersendat.

  4. Sangat setuju dengam tulisan ini. Dan saya sudah banyak melihat hal semacam ini di dunia nyata. Contoh yg bisa dilihat…soekarno juga punya istri banyak krn merasa banyak perempuan tertarik gara2 dia pinter. Berkharisma.
    Dan saya pikir….di era sekarang pun demikian. Banyak yg berteriak HAM. Feminisme. Tapi tidak bisa setia dengan pasangan….tanggung jawab dengan pasangan. Pernah pula saya melihat seorang aktivis berani memukul. Menendang pasangan living togethernya padahal pasangannya sudah banyak berkorban dan meninggalkan begitu saja. Padahal dalam kesehariannya berkoar2 atas nama HAM. Terimakasih untuk tulisan yg indah ini. Saya berharap ini bukan berdasarkan kisah nyata yaa mba safira. 😀😀😀

    • Dari judulnya embak juga mengungkit masalah gender, bukankah kata Laki-laki aktivis itu juga merupakan diskriminasi gender dan menyudutkan?

  5. Pacaran ataupun menikah itu lahir dari kesepakatan2 kolektif. Karna hubungan itu di jalani oleh dua subyek, bukan satu subyek satu obyek.

  6. Apresiasi sebesar”nya untuk penulis (kak Dea). Tetap menulis genre seperti ini, laki selalu takut aibnya terbongkar hahaha apalagi aktipis…. Wkwkw

  7. Bagusnya dri tulisan ini wanita jd lebih kritis dan berhati hati memilih pasangan dan tidak cepat terpesona kemudian lupa diri.
    Namun negatifx, semacem ada framing utk memojokkan lelaki aktivis yg sebetulnya dunia ini butuh kehadiran mereka (para aktivis) sebagai alarm dan pengontrol sosial supaya tidak kebablasan.
    Setelah dimuatnya tulisan ini sy khawatir akan ada pandangan curiga terhadap aktivis lelaki terlebih oleh perempuan. Sy berharap tulisan ini dibuat tidak atas dasar emosi dan pengalaman penulis. Terimakasih.

  8. //// anda dibutakan dengan mengkonotasikan bahwa aktifis itu selalu saja laki-laki yang harus diwaspadai segala tindak-tanduknya. ////

    Sayang sekali, ternyata anda juga tidak paham bagaimana relasi kuasa berjalan, bahkan di konteks dunia aktivisme so-called “progressif” yg sampai hari ini juga masih “terlalu” memandang perempuan sebagai objek semata.

    I was there before, seorang bajingan yang menggunakan “intelektualitas” dan kata-kata romantis nan heroik untuk bisa catch up dengan perempuan yang saya inginkan. Akhirnya, tindakan itu dikritik oleh organisasi yg saya pimpin bahkan dan menjatuhkan sanksi kepada saya. Setimpal memang karena saya sebenarnya sering mengisi diskusi feminisme 101, tapi masih belum mempraktekan kesetaraan gender dengan dalih “perjuangan klas lebih penting”.

    Akhirnya, saya disini untuk mengkritik kembali organisasi-organisasi pergerakan yg ada (atau kolektif gerakan) untuk memberikan pendiskusian khusus mengenai relasi kuasa dan mempraktekannya.

    Terima kasih untuk penulis, semoga bisa mencerahkan banyak aktivis so called progresif lainnya.

  9. Di bagian akhir, penulis menuliskan pesan jika harus memilih calon suami/istri yang aktivis. Cukup bijak, tidak gender. Cuma memang dalam sebuah artikel membutuhkan fokus menulis, dan sekarang yang ditulis ‘lelaki aktivis’. Mungkin bisa ditulis sekuelnya tentang ‘perempuan aktivis’. Hehehe.

  10. Terlalu men-generalisasi aktivis laki laki. Kisah yg anda kumpulkan? Surveykah? Saya juga banyak berteman dengan aktivis. Beberapa yg saya sangat dekat, tau bagaimana kehidupan keluarganya, tentunya dr pasangannya. Tdk ada pengalaman yg mengarah pada kemunafikan aktivis laki2. Entah la mungkin blm saya temukan penyimpangan itu, mungkin perlu juga pengumpulan data seperti yg anda lakukan.

  11. Sebenarnya aktivis ataupun bukan kita kembali lagi ke pribadi masing-masing, jadi kita sebagai manusia hanya bisa saling mengingatkan.
    Semua orang punya masalahnya masing-masing jadi pintar-pintarlah memilih pasangan hidup.
    Kita di lahirkan kedunia semua sama sebagai manusia yang bernyawa.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.